Oleh: Munawir Kamaluddin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepak bola adalah bahasa universal. Ketika sebuah laga final digelar, ratusan juta, bahkan miliaran pasang mata di seluruh dunia tertuju ke lapangan hijau. Sorak-sorai bergema, emosi memuncak, dan satu gol dapat membuat sebuah bangsa larut dalam euforia atau tenggelam dalam kesedihan.
Tidak ada yang salah dengan mencintai olahraga. Tidak ada yang keliru menikmati pertandingan sepak bola. Islam tidak melarang hiburan selama tidak melalaikan kewajiban. Persoalannya muncul ketika piala dunia mulai mengalahkan “piala akhirat”; ketika pertandingan yang berlangsung hanya sekitar dua jam justru membuat seorang Muslim kehilangan kemuliaan yang nilainya jauh lebih besar di sisi Allah.
Pada laga final yang disaksikan masyarakat Indonesia pada waktu yang berdekatan dengan pelaksanaan shalat Subuh, khususnya di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, terlihat sebuah fenomena yang patut menjadi bahan muhasabah. Banyak orang rela begadang demi menyaksikan pertandingan hingga peluit akhir berbunyi. Sebagian tetap menunaikan shalat Subuh tepat waktu, tetapi tidak sedikit pula yang menundanya, meninggalkannya, atau kehilangan kesempatan berjamaah di masjid karena terlalu larut dalam suasana pertandingan. Bahkan, pada sebagian tempat, pertandingan itu juga disertai praktik taruhan yang jelas dilarang dalam syariat.
Ironisnya, tim yang bertanding tidak mengenal kita. Mereka tidak mengetahui nama kita, tidak mengetahui apakah kita shalat atau tidak, bahkan tidak mengetahui apakah kita menangis atau bersorak karena kemenangan mereka. Namun justru kita yang mempertaruhkan pahala, kehilangan kesempatan meraih keutamaan Subuh, bahkan berpotensi menanggung dosa karena melalaikan kewajiban.
Di sinilah letak kemenangan terbesar setan. Ia tidak selalu mengajak manusia meninggalkan agama secara terang-terangan. Cukuplah ia membuat manusia sibuk dengan sesuatu yang mubah hingga lalai terhadap yang wajib. Ketika azan Subuh kalah oleh peluit wasit, ketika sorakan stadion lebih menggugah daripada panggilan “Hayya Alal Falah”, maka sesungguhnya yang kebobolan bukan gawang sebuah tim, melainkan benteng keimanan kita sendiri.
Padahal, shalat Subuh bukan sekadar satu dari lima kewajiban harian. Ia adalah piala akhirat. Di waktu inilah Allah membentangkan keberkahan, para malaikat bergantian menyaksikan hamba-hamba-Nya, dan pintu-pintu kemuliaan terbuka bagi mereka yang memenuhi panggilan-Nya. Kehormatan itu tidak dapat ditukar dengan kemenangan tim mana pun, sebab piala dunia hanya menghadirkan kebanggaan sesaat, sedangkan “piala akhirat” menghadirkan kemuliaan yang kekal.
Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa menjaga dua shalat yang sejuk (Subuh dan Asar), maka ia akan masuk surga.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda:
بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid dalam kegelapan (untuk shalat Subuh dan Isya) dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Karena itu, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah ketika tim favorit mengangkat trofi. Kemenangan yang hakiki adalah ketika seorang hamba mampu mengalahkan hawa nafsunya, mematikan televisi atau gawai saat azan berkumandang, lalu berdiri menghadap Allah dengan penuh kekhusyukan.
Di tengah fenomena tersebut, ada pemandangan yang patut diapresiasi. Di sekitar Masjid HM Asyik, Jalan AP Pettarani, Makassar, masyarakat yang menyaksikan pertandingan di kawasan itu tetap memenuhi masjid untuk menunaikan shalat Subuh. Mereka membuktikan bahwa menikmati pertandingan tidak harus mengorbankan ibadah. Olahraga tetap dinikmati, tetapi kewajiban kepada Allah tetap didahulukan. Inilah teladan tentang keseimbangan,dunia berada di tangan, sementara akhirat tetap berada di hati.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-Munāfiqūn: 9)
Ayat ini mengandung makna yang luas. Segala sesuatu yang membuat manusia lalai dari Allah, termasuk hiburan, olahraga, jabatan, atau kesibukan dunia, dapat menjadi sebab kerugian apabila mengambil tempat yang semestinya menjadi hak Allah.
Maka, marilah kita mencintai olahraga secara proporsional. Bersoraklah ketika tim favorit mencetak gol, tetapi jangan biarkan sorakan itu menenggelamkan panggilan azan. Rayakan kemenangan dunia, tetapi jangan sampai kehilangan kemenangan akhirat.
Sebab trofi dunia hanya akan dikenang beberapa tahun, sedangkan pahala shalat Subuh berjamaah, dzikir di waktu Subuh, dan ketaatan kepada Allah adalah “Piala Akhirat” yang nilainya tidak akan pernah pudar, bahkan menjadi bekal ketika seluruh piala dunia telah menjadi sejarah dan setiap manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏
