Oleh : Andi Ahmad Saransi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Awal tampuk kepemimpinan La Patau Matanna Tikka pada tahun 1696 diuji oleh gejolak dan benturan geopolitik di Sulawesi Selatan. Langkah-langkah awal Sang Raja Bone ke-16 ini dihabiskan untuk memadamkan api perselisihan dan menata kembali hubungan persaudaraan yang retak, mulai dari dinamika internal di Soppeng, Toraja, hingga Kerajaan Wajo.

Bagi La Patau, kedamaian bukanlah sekadar tiadanya perang, melainkan pondasi utama untuk membangun kehidupan rakyat yang bermatabat.

Setelah benang-benang konflik berhasil diurai dan stabilitas kawasan tercapai, visi besarnya bergeser secara radikal: dari konsolidasi kekuasaan menuju pemajuan dan ketahanan agraria.

Bukan sekadar memberi perintah dari balik istana, Lontara Bilang La Patau merekam aksi nyata seorang pemimpin yang turun langsung mengawal pembangunan infrastruktur air demi menjamin isi lumbung rakyatnya:

Bendungan Sungai Palengoreng 22 Oktober 1706 Memulai proyek pembendungan Sungai Palengoreng demi menaikkan debit air Sungai Kampubbu untuk mengaliri hamparan persawahan warga.

Inspeksi Bendungan Lerang, 2 November 1706 Melakukan perjalanan langsung ke Lerang untuk meninjau secara dekat bendungan yang dikerjakan oleh swadaya masyarakat Tellulimpoe.

Peninjauan Kanal Mallino 19 November 1706 Berlabuh di Mallino untuk melihat langsung penggalian kanal dan saluran air vital yang menghubungkan Cellu dan Launa.

Jamuan Penghormatan Ajangale 22 November 1706. Masyarakat Ajangale berhasil menyelesaikan tuntas pekerjaan irigasi mereka. Sebelum mereka pulang, La Patau menggelar jamuan makan bersama sebagai wujud rasa hormat atas dedikasi dan kerja keras mereka.

Pembangunan pesat ini ditopang oleh kedisiplinan dan integrasi hukum adat. Ade Pitue bersama Tau Tongengnge menerapkan aturan denda yang tegas: 1 ketib 1 tail bagi pekerja yang malas atau sekadar berpura-pura bekerja. Aturan ketat ini didukung penuh oleh La Patau demi menjaga keadilan bagi mereka yang benar-benar memeras keringat.

Sebagai bentuk komitmen nyata, La Patau tidak hanya menuntut rakyatnya bekerja, tetapi juga menyokong modal produksi dengan mengeluarkan kas pribadi kerajaan untuk membeli 100 ekor kerbau sebagai alat bajak sawah.

Buah manis dari dedikasi, regulasi yang adil, dan investasi alat tani ini tercatat jelas dalam Laporan Cillaongnge tertanggal 31 Agustus 1707. Lumbung-lumbung di tanah Bone terisi penuh oleh hasil panen rakyat: Attang Salo dan Alau Salo 17 000 Gantang; Bakke 15.000 gantang; Teko 15.000 gantang; Limpenno 7.000 gantang; Toro 2.000 gantang; Cellu sebelah timur 1.800 gantang; Cellu sebelah barat 1.800 gantang; dan Apala 1.000 gantang.

Rekaman sejarah ini menjadi pilar utama pelaksanaan pesta adat Gau Maraja 2026 bertema “Simfoni Lumbung, Merayakan Budaya dan Pangan”.

Kisah La Patau mengajarkan kita bahwa keberlanjutan peradaban Bugis dibangun dari kesadaran bahwa pangan adalah manifestasi tertinggi dari kedamaian dan kebudayaan. Ketika saluran air digali dan lumbung-lumbung terisi, peradaban tidak hanya bertahan ia merayakan kehidupannya.

Melalui Gau Maraja, spirit gotong royong warga Tellulimpoe dan Ajangale, keadilan hukum Ade Pitue, serta visi ekologis La Patau Matanna Tikka dipanggil kembali untuk menginspirasi generasi hari ini dalam merawat kedaulatan pangan tanah Bone.