Oleh Muliadi Saleh : Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika langit terlalu lama menahan airnya, sesungguhnya yang sedang menunggu bukan hanya sungai, sumur, dan pepohonan, tetapi juga sawah, kebun, ladang, ternak, nelayan, petani, dan pada akhirnya meja makan kita. Karena itu, ketika umat Islam menunaikan salat Istisqa, doa meminta hujan sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih luas: memohon agar rantai kehidupan pangan kembali bergerak.
Tanah mengeras, sungai menyusut, sumur mengering, hutan terbakar, asap memenuhi udara, dan panas semakin terasa. Di tengah keadaan itu, manusia menengadahkan tangan ke langit, menyadari sesuatu yang sering dilupakan ketika kehidupan berjalan normal: bahwa manusia tidak pernah benar-benar menguasai air, api, tanah dan angin. Kita dapat membangun bendungan, irigasi, embung, pompa, waduk, bahkan mengembangkan teknologi modifikasi cuaca, tetapi pada akhirnya hujan tetap merupakan rahmat yang berada di luar kendali manusia.
BMKG dalam analisis Dasarian I Agustus 2026 mencatat 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 90,79 persen wilayah mengalami curah hujan kategori rendah, sedangkan 87,28 persen mengalami sifat hujan bawah normal. Pada akhir Juli, BMKG juga mencatat 1.657 titik pengamatan mengalami hari tanpa hujan selama 31–60 hari, dan 306 titik lainnya lebih dari 60 hari. Angka-angka itu bukan sekadar statistik meteorologi. Di baliknya ada petani yang menatap sawah kering dan keluarga yang mulai menghitung persediaan air.
Di sinilah persoalan kemarau berubah menjadi persoalan pangan. Sawah membutuhkan air untuk mempertahankan produktivitas, tanaman hortikultura membutuhkan kelembapan tanah, ternak membutuhkan air dan pakan, sementara kehidupan perikanan sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem air. Ketika hujan berkurang terlalu lama, biaya produksi dapat meningkat, produktivitas pertanian berisiko menurun, dan pada akhirnya tekanan terhadap harga pangan dapat dirasakan konsumen.
Pangan dengan demikian tidak pernah berdiri sendiri. Di balik sebutir beras ada air, tanah, benih, sinar matahari, petani, infrastruktur, pengetahuan, energi, dan kebijakan. Kita sering berbicara tentang kedaulatan pangan seolah-olah ia hanya persoalan produksi, padahal kedaulatan pangan juga merupakan persoalan ekologis. Tidak mungkin membangun ketahanan pangan yang kokoh di atas tanah yang kehilangan kesuburan, hutan yang terus terbakar, sungai yang tercemar, dan sumber air yang semakin terbatas.
Karena itu, Istisqa seharusnya membuka ruang perenungan baru. Ketika kita meminta hujan untuk pangan, apakah kita juga telah menjaga bumi tempat pangan itu tumbuh? Doa meminta air harus berjalan bersama ikhtiar menjaga daerah aliran sungai, hutan, gambut, mata air, tanah pertanian, dan ruang resapan. Hujan yang turun akan menjadi berkah apabila bumi masih memiliki kemampuan untuk menerima, menyimpan, dan mengalirkannya secara adil.
Fenomena El Niño yang pada Agustus 2026 berkembang hingga intensitas sangat kuat semakin mempertegas pentingnya kewaspadaan. BMKG mencatat indeks Nino3.4 mencapai +2,77 pada Dasarian I Agustus dan memperingatkan potensi kemarau yang lebih kering serta risiko kekeringan dan karhutla. Dalam situasi seperti ini, menjaga pangan tidak cukup dengan menunggu hujan; diperlukan pengelolaan air, adaptasi budidaya, penguatan irigasi, varietas yang sesuai, konservasi tanah, diversifikasi pangan, serta perlindungan terhadap petani sebagai penjaga kehidupan.
Pemerintah pun melakukan ikhtiar. Kementerian Kehutanan pada 21 Agustus 2026 melaporkan 12.880 personel gabungan dikerahkan untuk pengendalian karhutla di Kalimantan melalui pemadaman darat dan udara, patroli, pendinginan, serta penguatan operasi di wilayah prioritas. Ini menunjukkan bahwa doa dan ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan. Sains membaca gejala alam dan merancang intervensi, sementara doa mengingatkan manusia tentang keterbatasan dan tanggung jawab moralnya.
Dalam perspektif Islam, taubat juga tidak semestinya berhenti pada bibir. Al-Qur’an mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini terasa begitu dekat dengan persoalan ekologis hari ini. Jika manusia membakar hutan, merusak tanah, mencemari air, menghabiskan sumber daya dan membangun tanpa menghitung daya dukung bumi, maka kerusakan ekologis pada akhirnya akan kembali mengetuk pintu kehidupan manusia—termasuk melalui pangan.
Maka taubat ekologis harus menemukan bentuknya dalam tindakan pangan. Menanam kembali pohon adalah ibadah ekologis. Menghemat air adalah bentuk syukur. Tidak membuang makanan adalah penghormatan terhadap kerja petani. Mengembangkan pangan lokal adalah ikhtiar memperkuat ketahanan masyarakat. Menjaga tanah pertanian adalah menjaga masa depan generasi yang belum lahir.
Alam bukan sekadar sumber daya, melainkan ayat-ayat Tuhan yang terbentang. Air yang mengalir, benih yang pecah di dalam tanah, padi yang menguning, buah yang matang, semuanya seperti zikir yang berlangsung tanpa suara. Ketika manusia merusaknya karena keserakahan, sesungguhnya ia sedang kehilangan kemampuan membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Karena itu, ketika saf-saf Istisqa terbentang dan tangan terangkat ke langit, marilah kita tidak hanya memohon turunnya hujan. Mari memohon agar setelah hujan turun, kita menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam mengelolanya; petani mendapatkan air untuk menanam, sawah kembali menghijau, pangan tumbuh berlimpah, dan bumi kembali memiliki kemampuan menyimpan rahmat.
Sebab hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah awal dari perjalanan panjang menuju pangan, kehidupan, dan keberlanjutan. Setiap tetes yang jatuh membawa amanah: jangan biarkan ia mengalir sia-sia menuju laut karena tanah telah kehilangan pohon dan ruang resapnya; jangan biarkan rahmat itu berubah menjadi banjir karena sungai telah kehilangan ruangnya.
Barangkali inilah pesan paling sunyi dari kemarau panjang: langit tidak hanya sedang mengajarkan kita untuk meminta hujan, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi penjaga kehidupan. Kita meminta air agar pangan tumbuh, tetapi pangan mengingatkan kita bahwa manusia hidup dari kemurahan bumi.
Dan pada akhirnya, Istisqa bukan hanya perjalanan tangan menuju langit. Ia adalah perjalanan kesadaran—dari mengambil menuju merawat, dari mengeksploitasi menuju menjaga, dari merasa memiliki menuju menyadari bahwa semuanya hanyalah titipan.
Jangan hanya meminta hujan turun dari langit; jadilah manusia yang mampu menjaga setiap tetesnya hingga berubah menjadi pangan, kehidupan, dan keberkahan.
Ketika bumi mengering, mungkin Tuhan sedang mengajarkan bahwa bukan hanya tanah yang membutuhkan hujan, tetapi hati manusia juga membutuhkan taubat agar kembali subur.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.
