Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemandangan di jalan-jalan Makassar belakangan agak berbeda. Kendaraan mengular, mesin menyala, wajah-wajah menunggu, dan mata sesekali menatap ke depan, berharap giliran segera tiba. Antrean BBM. Ini bukan lagi sekadar barisan kendaraan di depan SPBU, melainkan sebuah fenomena sosial yang mempertemukan kebutuhan, kecemasan, aturan, kesabaran, dan kepercayaan. Kita menyaksikan wajah masyarakat dalam bentuknya yang jujur: manusia yang sama-sama membutuhkan, tetapi harus belajar menunggu.

Fenomena ini bahkan telah memengaruhi aktivitas publik. Pemerintah Kota Makassar memberlakukan pembelajaran daring bagi jenjang TK, SD, dan SMP pada 12–19 September 2026 sebagai langkah antisipatif karena keterbatasan BBM berpotensi mengganggu mobilitas murid, guru, dan orang tua. Antrean akhirnya tidak lagi berhenti di depan SPBU; ia merambat ke sekolah, pekerjaan, perdagangan, keluarga, bahkan ke suasana psikologis masyarakat.

Mari kita coba membaca fenomena ini melalui teori sosial. Dalam interaksionisme simbolik, Herbert Blumer (1969) melalui Symbolic Interactionism: Perspective and Method menjelaskan bahwa manusia bertindak berdasarkan makna yang lahir dari interaksi sosial. Antrean, bukan lagi sekadar susunan kendaraan, melainkan ruang tempat manusia memahami simbol dan norma: garis antre, posisi kendaraan, petugas, tanda pembatas, bahkan tatapan orang lain menjadi pesan bahwa ini giliranmu dan itu giliran orang lain. Ketika seseorang menyerobot, yang dilanggar bukan hanya posisi kendaraan, melainkan kesepakatan sosial yang membuat kehidupan bersama tetap tertib.

Dari perspektif George C. Homans (1961) dalam Social Behavior: Its Elementary Forms, perilaku sosial juga dapat dibaca melalui pertimbangan ganjaran, biaya, keuntungan, dan kerugian. Menunggu terasa mahal karena waktu adalah sumber daya, sementara BBM berkaitan langsung dengan pekerjaan, sekolah, perdagangan, dan kebutuhan keluarga. Masalah muncul ketika seseorang merasa bahwa mengikuti aturan justru membuat dirinya rugi, sementara mereka yang melanggar memperoleh keuntungan lebih cepat.

Antrean juga dapat dibaca melalui Lewis A. Coser (1956) dalam The Functions of Social Conflict. Ketika sumber daya dirasakan terbatas, muncul pertanyaan: siapa mendapatkan apa, kapan, dan melalui mekanisme seperti apa. Dalam konteks BBM, persoalannya bukan hanya jumlah pasokan, tetapi juga distribusi, kapasitas pelayanan, waktu tunggu, informasi, dan rasa keadilan. Ketika masyarakat melihat satu SPBU kosong sementara SPBU lain mengular panjang, yang dipertanyakan bukan semata-mata keberadaan BBM, tetapi apakah sistem bekerja secara adil dan efisien.

Namun jauh sebelum teori-teori sosial modern berkembang, Ibnu Khaldun (1332–1406) telah berbicara tentang kekuatan solidaritas sosial melalui konsep ‘asabiyyah dalam Al-Muqaddimah (1377). Kajian sejarah sosial menempatkan ‘asabiyyah sebagai gagasan penting tentang kohesi atau ikatan kelompok yang menopang kekuatan masyarakat dan peradaban. Dalam konteks antrean, ‘asabiyyah dapat dibaca sebagai kesediaan menahan kepentingan pribadi demi keteraturan bersama. Antrean menjadi latihan kecil solidaritas bahwa saya menunggu karena saya sadar orang lain juga mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan.

Dari sini kita belajar bahwa antrean sesungguhnya adalah latihan peradaban. Ketika seseorang tidak menyerobot meskipun mempunyai kesempatan, ia sedang mengakui keberadaan manusia lain. Ia sedang mengatakan bahwa kehidupan bersama tidak boleh dibangun dengan prinsip “yang kuat lebih dahulu”, melainkan dengan kesadaran bahwa hak setiap orang harus dihormati.

Pada sisi lain, Imam Abu Hamid Al-Ghazali (1058–1111) dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din mengajarkan pentingnya pengendalian diri, kesabaran, dan pembentukan akhlak. Dalam perspektif ini, menunggu bukan sekadar aktivitas pasif, tetapi kesempatan melakukan mujahadah yakni melatih diri agar keinginan tidak menjadi penguasa hati. Maka ketika seseorang mampu menahan marah, tidak menyerobot, tidak menimbun, dan tidak menyebarkan kepanikan, ia sebenarnya sedang menjalankan latihan spiritual di tengah persoalan sosial.

Konsep kepercayaan sosial juga penting. Robert D. Putnam (2000) melalui Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community menunjukkan pentingnya jaringan sosial, norma, dan kepercayaan sebagai modal yang menopang kerja sama. Masyarakat lebih mudah bersabar ketika percaya bahwa informasi pemerintah benar, distribusi berjalan, petugas bekerja adil, dan orang lain juga menaati aturan. Sebaliknya, ketidakpastian yang terlalu lama dapat melahirkan kecemasan; kecemasan dapat berubah menjadi panic buying, yang justru menambah tekanan terhadap sistem.

Karena itu, menyelesaikan antrean tidak cukup dengan mengatakan kepada masyarakat, “Sabarlah.” Kesabaran warga harus dijawab dengan kualitas pelayanan publik yang semakin baik: informasi stok yang transparan, distribusi berbasis data, pengaturan lalu lintas di sekitar SPBU, optimalisasi fasilitas, pengawasan penyaluran, dan kanal pengaduan yang cepat. Pemerintah juga perlu memberi informasi yang konsisten agar ruang kosong dalam informasi tidak diisi oleh rumor dan kepanikan.

Masyarakat pun memiliki tanggung jawab. Membeli sesuai kebutuhan, tidak menimbun, tidak menyerobot, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan memberi ruang kepada mereka yang benar-benar membutuhkan adalah bentuk sederhana dari tanggung jawab sosial. Pemerintah membutuhkan kecepatan dan keterbukaan; masyarakat membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan. Keadilan tidak hanya berarti mendapatkan hak, tetapi juga tidak mengambil hak orang lain.

Antrean, pada akhirnya, adalah laboratorium kecil kehidupan sosial. Di sana pemikiran Blumer tentang makna dan interaksi, Homans tentang kalkulasi perilaku, Coser tentang konflik, Putnam tentang kepercayaan, Ibnu Khaldun tentang ‘asabiyyah, dan Al-Ghazali tentang pengendalian diri bertemu dalam satu barisan kendaraan.

Tetapi di atas semua teori itu ada sesuatu yang jauh lebih mendasar dan substantif yaitu kemampuan untuk tetap menjadi manusia ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.

Oleh arena itu antrean hari ini bukan hanya meminta kita menghitung berapa liter BBM yang akan masuk ke tangki, tetapi juga bertanya: berapa banyak kesabaran yang masih tersisa di dalam hati kita? Jangan sampai tangki kendaraan kita penuh, tetapi hati kita kosong dari kesabaran; jangan sampai kendaraan bergerak maju, tetapi kesadaran justru berjalan mundur.

Dalam pandangan sufistik, menunggu mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak, tetapi tidak pernah memiliki kendali penuh atas segala sesuatu. Kita wajib berikhtiar, tetapi juga perlu belajar menerima bahwa jalan keluar tidak selalu datang sesuai waktu yang kita inginkan. Sabar bukan menyerah; sabar adalah kemampuan menjaga akal, akhlak, dan iman ketika keadaan sedang menguji.

Pada akhirnya, antrean adalah cermin. Ia memperlihatkan bagaimana masyarakat menghadapi keterbatasan, bagaimana pemerintah menjaga kepercayaan, dan bagaimana manusia menjaga dirinya sendiri. Sebab kualitas sebuah peradaban tidak hanya terlihat dari seberapa cepat ia bergerak, tetapi dari seberapa tertib ia menunggu, seberapa adil ia melayani, dan seberapa tenang ia menghadapi ujian.

“Antrean bukan sekadar menunggu giliran; ia adalah ujian kesabaran, keadilan, dan kepercayaan—agar kita belajar bahwa hidup bersama berarti memberi ruang bagi hak orang lain.”
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.