KABARIKA.ID, MAKASSAR — Apakah Anda pernah mendengar ucapan atau menonton adegan film/sinetron di televisi yang mengancam dan berisi cacian yang menarik perhatian Anda, bahkan ketika Anda sedang fokus pada sesuatu hal lain?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagian besar orang berasumsi bahwa otak dirancang untuk memperhatikan kata-kata yang bermuatan emosional terlebih dahulu, serta memperlakukannya sebagai sinyal yang terlalu penting untuk dilewatkan.
Penelitian baru menunjukkan justru bisa terjadi kebalikannya.
Ketika perhatian Anda tertuju ke tempat lain, pikiran mungkin diam-diam memblokir beberapa kata negatif agar tidak mencapai kesadaran sama sekali, bahkan sambil terus memprosesnya di balik layar.
Bagaimana Otak Menyaring Kata-kata?
Banyak hal yang dilakukan otak terjadi di bawah permukaan, jauh dari kesadaran kita.
Bagaimana otak memutuskan potongan mana yang dipromosikan ke kesadaran masih kurang dipahami, dan teka-teki ini lebih tajam untuk suara daripada untuk penglihatan.
Gal Chen, seorang kandidat doktor dalam bidang psikologi di Universitas Ibrani Yerusalem (HUJI), berupaya memetakan gerbang tersebut untuk ucapan.
Suara membuatnya rumit karena sebuah kata tidak dapat ditampilkan dan dihilangkan dalam sekejap.
Hampir semua yang diketahui para ilmuwan tentang pemrosesan tersembunyi ini berasal dari penglihatan.
Para peneliti menjalankan eksperimen yang menyembunyikan sebuah kata dari kesadaran, kemudian menguji apa yang masih dilakukan otak terhadap kata tersebut.
Ucapan telah menerima perhatian yang jauh lebih sedikit, meskipun orang-orang terus-menerus melewatkan kata-kata yang diucapkan ketika sibuk, sebuah fenomena yang dikenal sebagai ketulian karena kurang perhatian.
Menguji Filter Otak
Di laboratorium, ada 101 orang dewasa berbahasa Ibrani menonton layar dan menilai apakah setiap figur cocok dengan figur sebelumnya.
Sementara mereka fokus, aliran kata-kata semu yang tidak bermakna terus-menerus diputar melalui headphone.
Sesekali, sebuah kata Ibrani asli masuk ke dalam aliran tersebut. Terkadang kata itu memiliki makna negatif, terkadang netral, dan segera setelah itu, orang-orang ditanya apakah mereka telah menangkap kata apa pun.
Jawaban “ya” atau “tidak” saja tidak cukup bagi tim. Para peserta juga diminta untuk menebak detail tentang kata tersembunyi bahkan ketika mereka bersikeras bahwa mereka tidak mendengar apa pun, memungkinkan para peneliti untuk mendeteksi jejak kesadaran yang samar.
Kata-kata Negatif Tidak Terdengar
Awalnya, tim memperkirakan kata-kata yang mengkhawatirkan akan menang. Serangkaian penelitian panjang menunjukkan bahwa bahasa emosional memperlambat orang dan mengganggu kinerja. Dengan kata-kata negatif, kebalikannya terjadi.
Orang lebih cenderung menangkap kata-kata netral daripada kata-kata negatif, sementara kata-kata yang mengancam terlewatkan tanpa terdengar.
Pembalikan ini cukup mengejutkan sehingga para peneliti awalnya meragukan data mereka. Chen dan tim mengira mereka telah membuat kesalahan.
Jadi mereka menjalankan eksperimen lagi dengan serangkaian kata baru. Kemudian mereka mengulanginya dengan tugas yang jauh lebih mudah.
Bias tersebut tetap ada di kedua percobaan, bahkan setelah tim mengubah seberapa jelas dan seberapa keras kata-kata tersebut. Kata-kata yang terlewatkan itu bukan hanya kebisingan yang diabaikan otak.
Melindungi Pikiran Sadar
Mengapa kesenjangan itu ada? Masih menjadi bahan spekulasi yang cermat, bukan fakta yang terbukti.
Salah satu idenya adalah bahwa memproses sepenuhnya sebuah kata negatif membutuhkan biaya, dan pikiran terkadang menolak untuk membayarnya. Membiarkannya masuk berarti harus berurusan dengan apa yang ditimbulkannya.
“Mungkin merupakan kecenderungan bawaan pikiran bawah sadar untuk menekan informasi yang mungkin berbahaya bagi kita,” kata Chen.
Itu mungkin pilihan termurah otak. Jika sebuah kata yang tidak disengaja hanya mengganggu atau memperlambat Anda, logikanya mungkin adalah untuk mengabaikannya.
Para peneliti masih memperdebatkan apa yang melakukan penyaringan, dan di mana.
Penelitian terkait dari kelompok yang sama menunjukkan bahwa otak masih bereaksi terhadap kata-kata yang diucapkan yang tidak pernah didengar orang secara sadar.
Hal itu menunjukkan bahwa kata-kata negatif diproses, lalu ditahan secara diam-diam. Langkah pasti yang menyaringnya belum dapat dipastikan.
Bagaimana Trauma Memengaruhi Kesadaran?
Pada orang yang memiliki hubungan dengan ancaman yang sudah tegang, filter tersebut dapat berperilaku berbeda.
Chen menduga kondisi seperti kecemasan, fobia, atau stres pasca-trauma dapat mengganggu penyaringan diam-diam ini.
Kata-kata yang berbahaya dapat lolos di mana sebagian besar pikiran menahannya.
Para peneliti menggambarkan alam bawah sadar sebagai penjaga gerbang. Ia memblokir materi yang dapat membahayakan kita atau memengaruhi pilihan kita.
Apa yang terjadi ketika ia gagal adalah pertanyaan yang masih terbuka. Filter yang membiarkan setiap kata kasar lolos dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa orang merasa terus-menerus dibanjiri.
Jika pola itu berlaku, penyaringan yang sama yang secara diam-diam melindungi sebagian besar pikiran, mungkin justru yang gagal pada pikiran yang sedang berjuang.
Mempelajari siapa yang kehilangan perlindungan itu dapat mengubah cara para klinisi memahami kondisi yang dibangun di atas rasa takut.
Masa Depan Penelitian Otak
Sebelum penelitian ini, belum ada yang menunjukkan bahwa pikiran secara diam-diam lebih menyukai kata-kata netral yang diucapkan daripada kata-kata negatif dalam perjalanan menuju kesadaran.
Asumsi lama justru sebaliknya. Studi ini menguji kata tunggal, bukan kalimat lengkap, dan mengabaikan istilah-istilah tabu, namun pembalikan tersebut tetap terjadi setiap kali.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan melalaui jurnal Psychological Science, selengkapnya bisa diakses di sini.
Hal itu membuka jalan yang sebelumnya tidak ada di bidang ini. Para peneliti sekarang dapat bertanya bagaimana gerbang itu bekerja untuk pendengaran, bukan hanya penglihatan, dan apakah kecemasan atau trauma mengubahnya.
Suatu hari nanti, tes pendengaran sederhana mungkin dapat mengidentifikasi filter yang terlalu ketat atau terlalu longgar.
Untuk kehidupan sehari-hari, kesimpulannya cukup menggelisahkan. Kata-kata kasar yang menurut Anda akan Anda perhatikan mungkin justru yang secara diam-diam disaring oleh pikiran Anda. (rus)
