KABARIKA.ID, STOCKHOLM — Henri B. Kagan dan Kenso Soai ditetapkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Kimia tahun 2026 atas karya inovatifnya di bidang kimia asimetris, yakni mengungkap misteri bagaimana molekul dapat hadir dalam bentuk bayangan cermin yang tidak identik satu sama lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keduanya berbagi hadiah kimia senilai 12 juta krona Swedia (1,2 juta dolar AS) yang diumumkan pada hari Rabu (7/10/2027) di Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia di Stockholm.

Karya mereka didasarkan pada konsep kiralitas (chirality): bahwa struktur molekul dapat menjadi bayangan cermin satu sama lain, mirip seperti tangan kita.

Di alam, sebagian besar molekul hampir selalu hanya muncul dalam satu varian, sebuah fenomena yang dikenal sebagai homokiralitas, yang telah lama membingungkan para ilmuwan.

“Henri Kagan dan Kenso Soai telah memberikan solusi atas misteri kimia yang telah berusia lebih dari satu abad: bagaimana homokiralitas dapat muncul secara spontan. Reaksi kimia yang mereka kembangkan sungguh luar biasa,” ujar Heiner Linke, ketua Komite Nobel untuk Kimia, dalam sebuah pernyataan.

Di alam, sebagian besar molekul hampir selalu hanya muncul dalam satu varian, sebuah fenomena yang dikenal sebagai homokiralitas, yang telah lama membingungkan para ilmuwan. (Gambar: komite Nobel)

Pada awal tahun 1980-an, Kagan menemukan cara untuk memanipulasi reaksi kimia menggunakan berbagai jenis katalis, yang memungkinkan para ilmuwan menghasilkan kelebihan jumlah yang lebih besar pada salah satu molekul yang merupakan bayangan cermin dari yang lain.

Soai mengembangkan penelitian tersebut dengan merancang reaksi kimia yang hanya menghasilkan satu dari dua kemungkinan bentuk bayangan cermin.

“Selain pada kehidupan itu sendiri, belum pernah ada sebelumnya yang berhasil mencapai hal ini,” ujar komite Nobel.

David Pendlebury, kepala analisis penelitian di Institute for Scientific Information milik Clarivate, mengatakan bahwa penelitian tersebut membuka arah baru bagi para ahli kimia dalam menelusuri bagaimana kompleksitas molekuler terbentuk.

“Penghargaan Nobel Kimia tahun ini mengapresiasi penemuan-penemuan yang dampaknya telah terbukti nyata selama beberapa dekade,” ujar Pendlebury.

“Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan transformatif sering kali lahir dari penelitian berkelanjutan yang didorong oleh rasa ingin tahu, dan bahwa makna penting dari penemuan ilmiah mendasar mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun, untuk dapat dipahami dan dihargai sepenuhnya,” tandas Pendlebury.

Henri B. Kagan, lahir pada tahun 1930 di Boulogne-Billancourt, Prancis. Meraih gelar Ph.D pada tahun 1960 dari Collège de France, Prancis. Profesor Emeritus di universitas yang saat itu bernama Université Paris-Sud, Prancis.

Kenso Soai, lahir pada tahun 1950 di Hiroshima, Jepang. Meraih gelar Ph.D pada tahun 1979 dari Universitas Tokyo, Jepang. Profesor Emeritus di Tokyo University of Science, Jepang. (rus)