KABARIKA.ID, TAKALAR – Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan secara serentak pendirian 80 ribu Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di seluruh Indonesia pada Senin (21/7/2025). Untuk wilayah Sulawesi Selatan, peresmian dipusatkan di Kabupaten Takalar, yang sekaligus ditetapkan sebagai pilot project digitalisasi koperasi desa di provinsi ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Koperasi Merah Putih Aeng Batu-Batu di Takalar menjadi contoh awal implementasi digitalisasi koperasi dengan pendekatan ekonomi berbasis kebutuhan masyarakat.

Koperasi ini telah mengintegrasikan sembilan unit usaha, antara lain: gerai sembako, pangkalan LPG, apotek, klinik, agen pos, agen mandiri, kafe, gudang pupuk, penjualan sarana produksi pertanian (saprodi), serta layanan simpan pinjam syariah dan produk UMKM.

Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan bahwa saat ini provinsi Sulsel telah menyelesaikan pendirian 3.059 koperasi desa lengkap dengan akta resmi. “Alhamdulillah semuanya sudah selesai, bahkan di desa tertinggal sekalipun. Tinggal pelaksanaan di lapangan. Takalar menjadi pilot project digitalisasi koperasi desa untuk Sulsel dan menjadi contoh implementasi nyata harapan Bapak Presiden agar ekonomi berputar langsung di desa,” ujarnya.

Program digitalisasi ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Dalam sambutannya, Gubernur menitipkan pesan agar masyarakat mendukung dengan belanja di koperasi desa.

Bupati Takalar, H. M. Firdaus Dg Manye, menjelaskan bahwa koperasi yang ada di Desa Aeng Batu-Batu telah memiliki sembilan unit usaha aktif yang disesuaikan dengan kebutuhan warga. “Dari klinik, apotek, gerai sembako, gas, bank syariah, hingga alsintan dan alat tulis, semua sudah berjalan. Bahkan sudah digital, menggunakan EDC, QRIS, dan semua tercatat otomatis,” jelasnya.

Firdaus menambahkan, sistem yang digunakan telah menerapkan digitalisasi manajemen stok dan keuangan secara real time, sehingga setiap transaksi bisa dipantau secara transparan. “Ketua koperasi wajib mengelola semua unit usaha secara profesional. Tidak boleh lagi seperti koperasi zaman dulu (KUD) yang keuangannya tidak jelas,” tegasnya.

Dengan menjangkau sekitar 5.000 penduduk atau 1.000 kepala keluarga, koperasi ini diproyeksikan mampu mencetak omzet lebih dari Rp1 hingga Rp2 miliar per tahun hanya dari sembilan unit usaha aktif.

“Contohnya dari LPG. Jika 500 rumah tangga membeli gas dengan margin Rp3.000, maka potensi omzetnya bisa mencapai Rp15 juta per bulan,” ungkap Firdaus.

Saat ini, koperasi masih dibiayai melalui dana desa internal. Namun, ke depan akan diperkuat melalui dukungan pinjaman koperasi serta alokasi dana desa tambahan yang diproyeksikan mencapai Rp500 juta hingga Rp1 miliar.(*)