Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah tidak selalu berteriak. Ia sering berbisik pelan, lirih, hampir tak terdengar. Ia tertulis di sela halaman yang dilipat, di antara kalimat yang digarisbawahi, dan di dalam hati yang bersedia mendengarkan. Di sanalah, dalam kesunyian, nama Ajoeba Wartabone kembali berpendar. Bukan sebagai gema masa lalu, tetapi sebagai cahaya yang tak pernah benar-benar padam.

Ada manusia yang hidup untuk zamannya. Tetapi ada pula yang hidup melampaui zamannya. Ajoeba Wartabone termasuk yang kedua. Ia tidak sekadar menjalani sejarah. Ia menafsirkan, memilih, dan pada akhirnya bersaksi. Kesaksiannya bukan ditulis dengan tinta semata, melainkan dengan sikap, keberanian, dan sebuah sumpah yang tak pernah gugur oleh waktu.

Ia lahir dari rahim sejarah yang panjang. Dari garis keturunan yang membawa jejak kekuasaan, spiritualitas, dan kebijaksanaan. Namun, kebesaran sejati tidak pernah ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh pilihan. Dan dari pergulatan batinnya, Ajoeba memilih Indonesia. Sebuah pilihan yang, dalam lanskap sejarah yang retak oleh kolonialisme dan tarik-menarik kepentingan, bukanlah hal yang sederhana. Ia adalah lompatan iman.

Sebab memilih Indonesia pada masa itu bukan sekadar keputusan politik. Ia adalah pengakuan eksistensial bahwa tanah air bukan hanya ruang geografis, tetapi medan pengabdian. Bahwa bangsa bukan sekadar konstruksi sosial, tetapi amanah yang harus dijaga dengan seluruh kesadaran.

Ketika ia berdiri di Yogyakarta, di tengah pusaran sejarah yang menentukan arah republik muda, sumpah itu terucap: Sekali ke Djokja tetap ke Djokja. Kalimat yang tampak sederhana, namun sesungguhnya adalah kristalisasi dari keyakinan yang mendalam. Itu bukan sekadar loyalitas pada kota, melainkan pada gagasan. Bukan sekadar keberpihakan, tetapi penyerahan diri.

Di titik itu, nasionalisme menjelma menjadi ibadah. Sebuah bentuk penghambaan yang tidak hanya vertikal kepada Tuhan, tetapi juga horizontal kepada sesama manusia melalui pengabdian pada bangsa. Dalam kerangka ini, Ajoeba Wartabone tidak hanya menjadi aktor sejarah, tetapi juga peziarah yang berjalan dari satu kesadaran menuju kesadaran yang lebih tinggi.

Dalam lanskap pembacaan yang lebih dalam, ini memperlihatkan bahwa Ajoeba Wartabone tidak sekadar hadir sebagai tokoh lokal, tetapi sebagai simpul kesadaran sejarah yang lebih luas. Ia berdiri di antara jejak genealogis yang panjang, tradisi spiritual yang dalam, dan pergulatan politik yang menentukan arah bangsa. Dari garis keturunan yang terhubung hingga warisan kepemimpinan di kawasan timur Nusantara, Ajoeba menjelma sebagai pertemuan antara takdir sejarah dan pilihan kesadaran.

Ketika ia menapakkan kaki di Yogyakarta pada tahun 1948, sejarah seakan menemukan nadinya sendiri. Pertemuan dengan para pendiri bangsa bukan hanya peristiwa politik, melainkan peristiwa batin. Sebuah titik di mana keyakinan diuji dan arah ditentukan. Dari sanalah lahir sumpah yang sederhana namun mengguncang itu.  Sebuah kalimat yang bukan sekadar seruan, tetapi peneguhan iman terhadap Indonesia sebagai rumah bersama.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai penulis, jurnalis, dan pemegang amanah pemerintahan, Ajoeba menunjukkan bahwa nasionalisme tidak berhenti sebagai wacana. Ia adalah laku. Ia adalah kesetiaan yang diuji dalam waktu. Dan kitapun diingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu untuk disadari kembali, dihidupkan kembali, dan dituliskan kembali dengan kesungguhan hati.

Seluruh getar narasi ini berhutang pada sebuah buku penting: Ajoebe Wartabone (1894–1967): Sekali ke Djokya Tetap ke Djokya—Biografi Gagasan dan Kepemimpinan untuk Indonesia Bersatu, yang ditulis oleh Basri Ainun dan diterbitkan oleh Diomedia pada tahun 2025. Dari sana, sejarah tidak hanya disajikan sebagai data, tetapi dihidupkan sebagai kesaksian. Ia mengalir sebagai inspirasi, lalu menjelma menjadi renungan yang terus berdenyut dalam kesadaran.

Namun sejarah sering kali tidak adil. Ia memilih siapa yang diingat dan siapa yang perlahan dilupakan. Nama-nama besar berulang kali diucapkan, sementara yang lain tenggelam dalam arsip dan catatan kaki. Ajoeba Wartabone adalah salah satu yang nyaris terlewatkan oleh ingatan kolektif. Padahal, di balik sunyi itu, tersimpan energi besar yang membentuk fondasi keindonesiaan.

Maka, membacanya bukan lagi sekadar aktivitas intelektual, melainkan ziarah kesadaran. Setiap halaman adalah perjalanan. Setiap kalimat adalah doa yang diam-diam menghidupkan kembali ruh yang lama terpendam. Pembaca tidak lagi sekadar menyerap informasi, tetapi terlibat dalam percakapan batin—antara masa lalu dan masa kini, antara sejarah dan kesadaran.

Di sanalah, kita mulai memahami bahwa sumpah itu tidak pernah gugur. Ia tidak lapuk oleh waktu, tidak terkikis oleh perubahan zaman. Ia hidup berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, menunggu untuk disadari kembali.

Dan mungkin, pertanyaan terpenting bukan hanya tentang siapa Ajoeba Wartabone dalam sejarah. Tetapi tentang siapa kita hari ini di hadapan sumpah itu. Apakah kita masih memiliki iman yang cukup untuk memilih Indonesia.
Di ujung renungan ini, sejarah kembali berbisik. Bahwa bangsa ini tidak hanya dibangun oleh mereka yang tercatat, tetapi juga oleh mereka yang setia dalam diam, dalam keyakinan, dalam sumpah yang tak pernah mereka cabut kembali.
Dan di antara sunyi itu, nama Ajoeba Wartabone tetap berdiri sebagai saksi, sebagai jalan, sebagai iman yang telah memilih Indonesia. (*)
_________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”