KABARIKA.ID, MAKASSAR — Sebuah grup percakapan di WhatsApp alias percakapan daring yang menaungi hampir seribu alumni Universitas Hasanuddin (UNHAS) genap berusia 11 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, yang membedakannya dari sekadar ruang obrolan biasa adalah dinamika yang terjadi di dalamnya. Mulai dari pertarungan gagasan yang memanas, “medan perang” kritik tanpa batas, hingga menjadi ladang perburuan posisi politik praktis.

Grup WhatsApp Alumni UNHAS yang beranggotakan hampir 1.000 orang ini dikenal memiliki khas tersendiri. Dalam 11 tahun perjalanannya, grup ini tidak hanya menjadi tempat berbagi kabar atau sekadar maccalla (bercanda), tetapi juga berubah menjadi ruang diskusi yang kerap memicu konflik horizontal.

“Ada yang tidak kuat menerima kritik dan masukan, tapi banyak juga yang santai ji dengan segala bentuk kritik. Malah menjadikan grup ini sebagai sumber informasi dan aspirasi,” tulis Muhammad Ramli Rahim (MRR), sang admin dalam sebuah pengumuman, Senin (30/3/2026).

Menurut keterangan yang diterima, intensitas tertinggi terjadi pada masa-masa kritis menjelang pemilu. Grup ini sempat menjadi arena debat sengit, bahkan tidak jarang membuka tabir-tabir personal yang seharusnya tidak terekspos.

Fenomena unik lainnya adalah motif keanggotaan yang terbilang pragmatis. Admin mencatat, tidak sedikit anggota yang memilih hengkang secara diam-diam setelah kepentingannya dianggap tercapai.

“Ada yang diam-diam hilang karena kepentingannya sudah terwujud, baik sebagai cakada (calon kepala daerah), caleg (calon legislatif), atau calon lain, bahkan hanya timses. Di situ tommi (kita) dilihat,” ungkap MRR.

Meski di dunia maya saling serang dan perdebatan sering kali meninggalkan luka tanpa jabat tangan serta senyuman nyata, para alumni ini sepakat untuk mengubur ketegangan.

Hari ini, Senin (30/3/2026), pengurus grup menginisiasi pertemuan tatap muka pertama yang dikemas dalam nuansa berbeda.

Bertempat di Red Corner, Jalan Yusuf Dg Ngawing, Makassar, acara yang dimulai pukul 19.30 Wita ini mengusung tema Kebersamaan Tanpa Sekat.

“Tabe (permisi), karena ini alumni, tidak ada pejabat, tidak ada atasan dan bawahan, tidak ada tokoh, tidak ada selebriti. Karena kita semua datang sebagai alumni. Paling jauh ada junior yang tetap hormat sama seniornya, ada senior yang tetap sayang sama juniornya,” tegas ajakan dari Admin Grup WA Alumni UNHAS.

Panitia mengimbau para peserta untuk melaksanakan salat Isya terlebih dahulu di masjid sekitar lokasi, menekankan bahwa acara ini mengedepankan nilai kekeluargaan khas Timur Indonesia.

Acara yang digelar di lantai 1 lokasi tersebut diharapkan dapat menjadi pelepas dahaga diskusi digital yang selama ini terjadi, sekaligus menjadi ruang untuk menyegarkan pikiran demi kehidupan yang lebih bermakna.

“Mariki (ayo) gabung, siapa tahu ada yang punya ide segar yang bisa membuat hidup dan kehidupan menjadi makin bermakna, atau siapa tahu ada yang bisa segarkan pikiran agar hari-hari selanjutnya makin semangat,” tutup ajakan tersebut. (*)