KABARIKA.ID– Tim nasional Argentina memastikan langkah ke final Piala Dunia FIFA 2026 setelah membalikkan keadaan dan mengalahkan Inggris 2-1 dalam pertandingan semifinal yang berlangsung di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Rabu malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, 16 Juli 2026, melalui gol Enzo Fernández dan Lautaro Martínez pada menit-menit akhir setelah sempat tertinggal lebih dahulu oleh gol Anthony Gordon, sehingga juara bertahan kini akan menghadapi Spanyol pada partai puncak yang digelar di Stadion New York, Minggu, 19 Juli 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemenangan tersebut memperpanjang peluang Argentina mempertahankan gelar juara dunia yang mereka raih di Qatar 2022 sekaligus membawa Lionel Messi selangkah lebih dekat untuk menutup karier internasionalnya dengan trofi Piala Dunia kedua.
Sementara itu, Inggris harus mengubur impian mengakhiri penantian panjang sejak menjuarai Piala Dunia 1966 dan akan menghadapi Prancis dalam laga perebutan tempat ketiga.
Laga yang dipimpin wasit asal Amerika Serikat, Ismail Elfath, berlangsung dalam tempo tinggi dengan intensitas fisik yang sangat keras sejak menit pertama.
Babak pertama berakhir tanpa gol meskipun kedua tim beberapa kali menciptakan peluang berbahaya dan silih berganti melakukan tekanan.
Pertandingan juga diwarnai banyak pelanggaran, duel keras di lini tengah, serta kartu kuning yang diberikan kepada Elliott Anderson, Lisandro Martínez, dan Cristian Romero akibat permainan agresif.
*Inggris Unggul Lebih Dulu, Argentina Menjawab dengan Mental Juara*
Memasuki babak kedua, Argentina langsung mengambil inisiatif serangan melalui kombinasi Lionel Messi, Julián Álvarez, dan Alexis Mac Allister.
Jordan Pickford tampil gemilang dengan menggagalkan beberapa peluang emas Julián Álvarez dan Nico González yang nyaris membawa Argentina unggul lebih dahulu.
Justru Inggris yang berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-56 melalui Anthony Gordon setelah memanfaatkan umpan silang akurat Morgan Rogers dari sisi kanan.
Gol tersebut membuat skuad asuhan Lionel Scaloni meningkatkan intensitas serangan dengan memainkan lebih banyak pemain ofensif melalui sejumlah pergantian pemain.
Messi menjadi pusat kreativitas permainan Argentina dengan beberapa umpan matang yang berkali-kali membuka ruang bagi rekan-rekannya di kotak penalti Inggris.
Thomas Tuchel merespons tekanan tersebut dengan memperkuat sektor pertahanan melalui masuknya pemain bertahan tambahan untuk mempertahankan keunggulan.
Namun strategi bertahan total Inggris justru membuat mereka semakin tertekan karena Argentina menguasai hampir seluruh jalannya pertandingan setelah tertinggal.
Data pertandingan menunjukkan bahwa sejak Inggris unggul hingga menjelang akhir laga, Argentina menguasai sekitar 88 persen penguasaan bola sehingga Inggris praktis hanya bertahan di wilayah sendiri.
*Messi Jadi Arsitek Kebangkitan Albiceleste*
Tekanan tanpa henti Argentina akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-85 ketika Lionel Messi mengirimkan bola kepada Enzo Fernández yang melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti untuk menaklukkan Jordan Pickford dan mengubah skor menjadi 1-1.
Gol tersebut membangkitkan kepercayaan diri Albiceleste yang terus menggempur pertahanan Inggris hingga masa tambahan waktu.
Pada menit kedua injury time, Alexis Mac Allister lebih dahulu melepaskan tembakan yang membentur tiang gawang sebelum bola kembali dikuasai Lionel Messi.
Kapten Argentina itu kemudian memperlihatkan visi bermain kelas dunia dengan mengirim umpan silang akurat yang disambut sundulan Lautaro Martínez untuk mengoyak gawang Pickford sekaligus membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Gol dramatis tersebut memastikan Argentina melangkah ke final untuk kedua kalinya secara beruntun setelah menjadi juara pada edisi 2022 di Qatar.
Kontribusi Lionel Messi memang tidak tercatat melalui gol, tetapi dua assist penting dan kemampuannya mengendalikan ritme pertandingan kembali membuktikan perannya sebagai motor utama permainan Argentina.
*Final Sarat Sejarah, Spanyol Tantang Sang Juara Bertahan*
Kemenangan atas Inggris menghadirkan partai final yang mempertemukan dua tim dengan performa paling konsisten sepanjang turnamen, yakni Argentina sebagai juara bertahan dan Spanyol yang tampil impresif sejak fase grup.
Spanyol sebelumnya memastikan tiket final setelah menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0 sehingga berpeluang meraih gelar dunia kedua setelah keberhasilan mereka di Afrika Selatan pada 2010.
Bagi Argentina, partai final menjadi kesempatan mempertahankan supremasi sepak bola dunia sekaligus mempertegas dominasi generasi emas yang dipimpin Lionel Messi.
Laga puncak diperkirakan berlangsung dengan tensi tinggi karena mempertemukan dua gaya permainan berbeda, yaitu penguasaan bola khas Spanyol melawan kombinasi efektivitas serangan balik, kreativitas Messi, serta mental juara yang menjadi kekuatan utama Argentina.
Pertemuan tersebut juga dipandang sebagai salah satu final paling bergengsi dalam sejarah modern Piala Dunia karena mempertemukan dua kekuatan sepak bola yang sama-sama memiliki tradisi panjang, kualitas teknis tinggi, dan deretan pemain kelas dunia yang sedang berada pada performa terbaiknya. (*)
