Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indonesia memiliki potensi lahan kering yang sangat luas, mencapai lebih dari 60 juta hektare, tersebar dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua. Selama ini sebagian lahan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena dianggap memiliki keterbatasan air dan tingkat kesuburan rendah.
Dalam perspektif pembangunan pertanian modern, lahan kering merupakan cadangan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui berbagai kajian tentang optimalisasi lahan suboptimal menegaskan bahwa lahan kering, khususnya lahan kering masam, memiliki peluang besar dikembangkan untuk pertanian melalui inovasi teknologi pengelolaan tanah, perbaikan kesuburan, serta penggunaan varietas tanaman adaptif (BRIN, 2024).

Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan

Tantangan utama lahan kering adalah ketersediaan air. Sebagian besar wilayah ini bergantung pada curah hujan sehingga sangat rentan terhadap perubahan pola iklim. Selain itu, banyak lahan kering memiliki karakter tanah masam dengan pH rendah, kandungan bahan organik terbatas, serta tingginya unsur aluminium yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Namun ilmu pengetahuan telah membuka jalan. Penelitian Balai Penelitian Tanah dan lembaga riset pertanian menunjukkan bahwa teknologi pengelolaan bahan organik, pemupukan berimbang, pengapuran, konservasi tanah, serta sistem pertanian terpadu mampu memperbaiki kualitas lahan kering masam (Kementerian Pertanian, 2015; BRIN, 2025).

Artinya, persoalan lahan kering bukan semata-mata persoalan keterbatasan alam, tetapi persoalan bagaimana manusia menghadirkan inovasi.

Padi Gogo: Simbol Kedaulatan Pangan dari Lahan Marginal

Salah satu komoditas yang memiliki masa depan besar adalah padi gogo. Berbeda dengan padi sawah yang membutuhkan genangan air, padi gogo dikembangkan pada lahan kering dan tadah hujan sehingga mampu menjadi alternatif perluasan areal produksi pangan.

Kementerian Pertanian melalui pengembangan varietas unggul baru padi gogo telah menghasilkan berbagai varietas adaptif seperti Inpago yang memiliki kemampuan tumbuh pada kondisi kekeringan, tanah masam, dan tekanan lingkungan tertentu. Beberapa varietas unggul padi gogo memiliki potensi hasil tinggi dan dapat mencapai sekitar 7–10 ton gabah per hektare dengan pengelolaan budidaya yang tepat (Kementerian Pertanian, 2019–2025).

Keunggulan padi gogo bukan hanya pada produktivitas, tetapi pada kemampuannya membuka ruang baru bagi ketahanan pangan. Ia dapat ditanam pada tegalan, ladang, serta kawasan perkebunan melalui pola tumpang sari yang ramah lingkungan.

Di tengah berkurangnya lahan sawah akibat alih fungsi, padi gogo menjadi jawaban bahwa masa depan pangan Indonesia tidak hanya berada di lembah yang subur, tetapi juga di bukit-bukit kering yang selama ini terabaikan.

Agroforestri Pangan: Jalan Baru Kolaborasi Hutan dan Pertanian

Salah satu gagasan strategis yang perlu mendapat perhatian pemerintah adalah pemanfaatan sebagian kawasan hutan produksi melalui pendekatan agroforestri pangan.

Pemegang izin pemanfaatan hutan seperti PBPH, HPH, dan HTI dapat didorong untuk berkolaborasi dengan kelompok tani hutan dalam pengembangan tanaman pangan adaptif seperti padi gogo pada kawasan yang sesuai, tanpa menghilangkan fungsi ekologis hutan.

Konsep ini menghadirkan tiga manfaat sekaligus: menjaga kelestarian hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan, dan memperkuat cadangan pangan nasional.

Gagasan ini penting menjadi agenda kebijakan Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Kehutanan dan Kementerian Pertanian untuk menjadikan kawasan hutan bukan hanya sebagai benteng konservasi, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pertanian berkelanjutan.

Menanam Harapan, Memanen Kedaulatan

Badan Pusat Statistik melalui Sensus Pertanian 2023 menegaskan bahwa transformasi pertanian Indonesia membutuhkan inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, serta penguatan sumber daya manusia pertanian.

Ke depan, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan perluasan sawah. Kita membutuhkan paradigma baru: menghidupkan lahan kering, mengembangkan varietas adaptif, membangun infrastruktur air seperti embung dan panen air, serta menghadirkan petani sebagai subjek utama pembangunan.

Indonesia memiliki tanah yang luas, ilmu yang berkembang, dan petani yang memiliki pengalaman panjang. Yang dibutuhkan adalah keberanian menyatukan semuanya dalam satu visi: menjadikan negeri ini sebagai lumbung pangan dunia yang berdaulat dan berkelanjutan.

Dalam pandangan para sufi, manusia tidak hanya bekerja untuk mengambil hasil bumi, tetapi juga menjaga hubungan batin dengan ciptaan Tuhan. Menanam adalah bentuk syukur. Merawat tanah adalah bentuk ibadah. Menghadirkan pangan bagi manusia adalah jalan pengabdian.

Sejatinya, harapan terbesar bangsa tidak tumbuh dari tanah yang paling subur, tetapi dari tanah yang paling sabar menunggu untuk dibangkitkan.

Dalam perspektif spiritual, bumi bukan sekadar ruang produksi ekonomi, tetapi amanah Tuhan yang harus dirawat manusia sebagai khalifah. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat ini mengingatkan bahwa membangun pertanian bukan hanya tentang mengejar produksi, tetapi menghadirkan keseimbangan antara manusia, alam, dan keberlanjutan.

__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.