Oleh: ๐๐ช๐ ๐๐๐จ๐ข๐๐ฃ
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanggal 10โ11 September 2026. Touring Pajero Lovers kali ini bukan perjalanan sehari pulang-pergi. Ini touring dua hari satu malam: ada perjalanan, silaturahmi, kuliner, menginap, sedekah Subuh, tausiyah, hingga rekreasi. Pokoknya paketnya lengkap. Kalau masih ada yang bertanya, โIni touring atau piknik?โ Jawabannya: dua-duanya, asal jangan lupa sedekah!
Kamis, 10 September 2026, pukul 10.30 WITA. Halaman Masjid Al Markaz Maros mendadak berubah menjadi kerajaan Pajero. Akumulasi Pajero berjajar gagah, seolah-olah sedang mengikuti sidang istimewa para bangsawan otomotif. Bedanya, para bangsawan ini tidak membawa tongkat kebesaran, tetapi membawa perlengkapan touring dan semangat berbagi.
Orang yang baru datang bisa salah alamat: ini mau touring, pameran mobil, atau jangan-jangan ada pejabat yang mau dilantik? Ternyata bukan. Mereka hendak rihlah menuju ๐๐ถ๐ฎ๐ช ๐๐ฆ๐ฏ๐ฆ ๐๐ข๐ญ๐ญ๐ฐ๐ฎ๐ฐ, Sidrap, dengan misi yang lebih mulia daripada sekadar gagah-gagahan: bersedekah dan berbagi kebahagiaan. Tujuannya adalah Sedekah Subuh di Masjid Besar Raudhatul Jannah, Tanru Tedong, Sidrap.
Nama Tanru Tedong menarik. Di Pinrang ada Ulu Tedong. Wah, berarti urusan ๐ต๐ฆ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐จ alias kerbau dulu memang luar biasa! Saya jadi penasaran: kalau ada daerah Tanru Tedong dan Ulu Tedong, ๐๐ฐ๐ค๐ค๐ช๐ญ๐ช Tedong di mana? Heheheโฆ!
Begitu roda Pajero mulai berputar dan radio rig mobile di setiap mobil dinyalakan, perjalanan menuju lumbung padi Sidrap yang biasanya terasa panjang mendadak seperti cuma sejam.
Bagaimana mau terasa lama kalau sepanjang jalan komunikasi udara tidak pernah sepi dari sahut-sahutan om dan tante Pajero Lovers? Ada laporan lalu lintas, informasi posisi, ada yang sekadar menyapa, bahkan ada yang bakatnya lebih cocok menjadi komika daripada pengemudi.
Om Diono pun aktif memberi laporan: โDi sebelah kanan ada gajah ๐ญ๐ฐ๐ฑ๐ฑ๐ฐ, di sebelah kiri ada kancil. Hati-hati!โ Kecepatan dijaga sekitar 70โ100 kilometer per jam, dan seluruh iring-iringan pun mengikuti aba-aba.
Radio makin lama makin ramai. Ada yang mengetes kejernihan suara, ada yang menyahut tanpa diminta. Gayanya sudah mirip penyiar radio Gamasi yang sedang galau mencari pasangan: suara harus jelas, tetapi siapa yang menjawab belum tentu jelas!
Akhirnya, radio rig mobile yang semula untuk komunikasi perjalanan berubah menjadi podcast berjalan. Bedanya, tidak ada host tetap, tidak ada iklan, dan semua merasa punya hak bicara. ๐๐ฆโ๐จ๐ข ๐ด๐ช๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฃ๐ฆโ!
Om Diono selaku jenderal lapangan alias sutradara touring juga sibuk mengatur formasi. Wajar! Soal arah perjalanan, beliau jagonya. Kampung tujuan adalah kampungnya sendiri.
Jadi, kalau sampai tersesat, ini bukan lagi masalah navigasi. Ini masalah harga diri! Masa pulang ke kampung sendiri harus buka Google Maps? Lebih parah lagi kalau sampai mampir ke pos Satlantas:
โPak, permisiโฆ kampung saya di mana, ya?โ
Bisa-bisa polisi bukan menunjukkan arah, tetapi malah memeriksa kesehatan jiwa sekaligus memeriksa STNK!
Aba-aba pun terus terdengar: โPerhatian semua armada, rapatkan barisan, waspada pengereman mendadak!โ
Saya pun berpikir, kalau banyak Pajero saja bisa diatur serapi ini, berarti kuncinya sederhana: jangan terlalu banyak rapat, langsung bergerak!
Sepanjang perjalanan, mata dimanjakan pemandangan, tetapi perut justru mendapat ujian berat. Roti Maros Sanggalea Batangase lewat, aromanya menyebar. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถโ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ menggoda. Jeruk Pangkep ikut merayu. Semangka berjajar seperti sedang kampanye: โPilih saya! Pilih saya!โ
Ini perjalanan atau ujian iman? Baru beberapa kilometer, godaan sudah berlapis-lapis. Kalau semuanya dibeli, yang habis bukan cuma solar, tetapi ruang bagasi!
Namun, di balik pemandangan indah dan godaan kuliner itu, ada pemandangan yang membuat dada ikut sesak. Di hampir setiap SPBU, antrean truk masih mengular panjang. Para sopir berjam-jam menunggu giliran solar demi menyambung hidup.
Antreannya begitu panjang. Kalau truk bisa mengeluh, mungkin sudah berkata: โSaya ini mau isi solar, bukan mau daftar CPNS!โ
Yang membuat saya semakin bertanya-tanya, Pertamini (tempat pengecer BBM milik warga menggunakan mesin pompa) pun terlihat ikut mendapat jatah antrean. Puluhan pengendara mengular menunggu giliran. Saya pun dalam hati bertanya: โAda apa dengan negeriku saat ini?โ
Pemandangan ini bukan sekadar soal antrean BBM. Di balik kendaraan yang berhenti berlama-lama, ada orang-orang yang tetap harus bergerak: mencari nafkah, mengantar barang, dan menyambung kehidupan.
Kami yang melintas dengan Pajero pun terdiam. Di dalam kabin yang sejuk, kami melihat perjuangan para sopir yang masih mengular menunggu solar. Entah kapan normal kembali. Jangan-jangan tombol โnormalโ-nya masih dicari.
Pelajarannya sederhana: kenyamanan akan terasa lebih nikmat ketika hati tetap pandai bersyukur dan peduli pada perjuangan orang lain.
Di tengah perjalanan, rombongan singgah sejenak di Masjid Haji Lawe, Kompleks Zam-Zam Center, Kabupaten Barru. Kami menunaikan shalat Zuhur, kemudian makan siang untuk mengisi tenaga. Setelah itu, rombongan kembali bersiap melanjutkan perjalanan menuju Sidrap. Touring tetap jalan, ibadah jangan ketinggalan!
Setelah urusan jalanan selesai, rombongan pun tiba di Rumah Jabatan Bupati Sidrap. Armada Pajero disambut bagai tamu kenegaraan. Wakil Bupati dan Ketua DPRD Sidrap turut hadir menyambut rombongan.
Pajero Lovers kemudian ikut apel sore bersama para pegawai dan kelompok tani yang akan menerima bantuan mesin pompa air. Jadi, touring kali ini bukan sekadar jalan-jalan. Ada silaturahmi, ada kepedulian, dan ada manfaat yang ikut mengiringi perjalanan.
Usai acara, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju titik istirahat di Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue.
Tiba di Salobukkang, kami langsung dijamu makan malam: ๐ต๐ถ๐ฏ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ญ๐ฆ, ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ต๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ญ๐ฆ, dan ๐ฌ๐ข๐ซ๐ถ ๐ณ๐ฆ๐ฃ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ. Semuanya terasa nikmat karena perut memang sudah mengirim surat permohonan makan! Kami pun makan sambil duduk bersila karena kursi tidak tersedia.
Setelah makan, ujian kekompakan yang sesungguhnya dimulai. Kami bermalam di tiga rumah panggung tradisional. Di sinilah kami sadar: Pajero boleh tinggi, rumah boleh panggung, tetapi kalau tidur ramai-ramai, semua kembali sederhana.
Malam itu kami juga dihibur musik elekton alias organ tunggal. Ada peserta yang memang pandai menyanyi, ada pula yang menyumbang lagu dengan nada dan irama yang sepertinya punya jalan sendiriโtidak selalu mau beriringan dengan musiknya.
Tadinya saya sudah siap tidur. Namun, belum sempat terlelap, saya mendadak bangun ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฅ๐ข๐ฐ ๐ถ๐ต๐ต๐ถโโbukan karena mimpi buruk diganggu setan Sumiati, tetapi karena ada lagu yang sukses menggugah kesadaran sebelum kesadaran itu benar-benar tidur!
Setelah hiburan selesai, semuanya pun beristirahat. Lampu mulai redup, suara percakapan perlahan menghilang, dan rumah panggung Salobukkang memasuki babak berikutnya.
Aroma minyak angin berpadu dengan aneka dengkuran, menciptakan orkestra malam Salobukkang. Ada dengkuran bernada bariton, ada bass ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ข๐ด๐ช ๐ต๐ถ๐ฌ๐ขโ-๐ฏ๐ฐ๐ฏ๐ฏ๐ฐโ๐ด๐ช (naik-turun), ada ritme kocak ๐ฎ๐ข๐ฑ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ด๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐จ-๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐จ. Bahkan ada suara mirip Gunung Anak Krakatau meletus sampai rasanya pintu rumah mau ikut lari karena ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ณรช๐ฏ๐จ-๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ณรช๐ฏ๐จ.
Kalau ada juri lomba dengkuran, malam itu mungkin bingung menentukan juara. Semua peserta tampil maksimal!
Judul album malam itu cocoknya: โDengkuran Salobukkang: Tiga Rumah, Satu Irama.โ Tidak perlu studio rekaman. Rumah panggung sudah cukup. Sound system-nya pun alami!
Subuh pun tiba. Inilah misi utama: Sedekah Subuh di Masjid Besar Raudhatul Jannah, Tanru Tedong. Setelah semalam โkonserโ tanpa tiket, pagi harinya semua kembali berkumpul untuk ibadah.
Usai shalat Subuh, saya yang didaulat Om Diono memberikan tausiyah sempat tersenyum melihat para driver Pajero gagah berubah menjadi dermawan sejati. Yang biasanya sibuk memegang setir, pagi itu sibuk membuka hati dan menyerahkan sedekah.
Masyarakat menerima dengan wajah bahagia. Senyum para om dan tante pagi itu pun terpancar lebarโselebar bemper Pajero mereka. Bedanya, bemper membuat kendaraan terlihat gagah; sedekah membuat hati terasa indah.
Ada rasa haru yang menyelusup. Perjalanan jauh ini berujung pada hal yang begitu indah: datang, berbagi, dan melahirkan senyum di wajah sesama. Kegagahan sejati ternyata bukan pada bodi kendaraan, melainkan pada kelembutan hati pemiliknya.
Puas berbagi kebaikan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Puncak Bila. Saya memilih kembali ke Makassar karena harus menjadi khatib Jumat di Mapolda Sulsel. Mereka menuju kolam, saya menuju mimbar. Mereka siap basah oleh air, saya siap berkeringat mengejar waktu!
Touring boleh usai, tetapi silaturahmi jangan ikut berhenti. Pajero boleh kembali ke garasi, tetapi semangat berbagi harus terus melaju. Perjalanan ini bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang menebarkan kebaikan di sepanjang perjalanan.
๐ญ๐ฎ September ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ (๐๐ )
