KABARIKA.ID, MAKASSAR — Bisphenol A (BPA) merupakan salah satu bahan kimia dengan volume produksi tertinggi di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

BPA merupakan bahan kimia industri yang ada di mana-mana dan umum digunakan dalam kemasan makanan serta minuman.

Bahan kimia tersebut terbukti secara diam-diam dapat mengganggu sensitivitas insulin alami tubuh saat tertelan.

Sejak tahun 1960-an, bahan kimia ini telah digunakan untuk memproduksi kemasan plastik dan resin epoksi dalam jumlah yang sangat besar.

Resin epoksi berfungsi sebagai pelapis bagian dalam berbagai kaleng makanan dan minuman.

Menurut beberapa perkiraan, konsumsi BPA begitu meluas hingga zat ini dapat ditemukan dalam urine lebih dari 90 persen penduduk Amerika Serikat.

Namun, apakah hal itu aman?

Pedoman kesehatan AS mungkin menyatakan aman, tetapi bukti eksperimental pertama pada manusia kini menemukan bahwa konsumsi BPA, bahkan dalam dosis rendah, dapat menurunkan sensitivitas insulin dalam jangka pendek.

“Mengingat diabetes merupakan salah satu penyebab utama kematian di AS, sangatlah penting untuk memahami faktor-faktor terkecil sekalipun yang berkontribusi terhadap penyakit ini,” ujar penulis senior sekaligus peneliti diabetes, Todd Hagobian, saat memaparkan hasil awal dalam Sesi Ilmiah American Diabetes Association tbeberapa waktu lalu.

“Kami terkejut melihat bahwa mengurangi paparan BPA, misalnya dengan menggunakan botol berbahan baja tahan karat (stainless steel) atau kaca serta kaleng bebas BPA, dapat menurunkan risiko diabetes,” lanjut Hagobian.

Temuan ini kini telah dipublikasikan dalam *The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism*.

Dalam sebuah uji klinis acak tersamar ganda (double-blind), 40 orang dewasa muda diberikan paparan BPA dalam dosis yang dianggap ‘aman’, sesuai dengan ambang batas paparan seumur hidup yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA), atau diberikan plasebo.

Setelah lima hari, sensitivitas insulin perifer menurun sebesar 9 persen pada kelompok yang terpapar BPA, sementara pada kelompok plasebo terjadi sedikit peningkatan.

Meskipun banyak penelitian pada hewan dan studi observasional telah mengisyaratkan adanya kaitan antara BPA dan kesehatan metabolik, hanya sedikit eksperimen yang benar-benar menguji hubungan tersebut.

“Hasil ini memberikan bukti eksperimental pertama yang dipublikasikan pada manusia yang menunjukkan bahwa pemberian BPA secara oral dalam jangka pendek dapat mengganggu sensitivitas insulin,” simpul para peneliti dari California Polytechnic State University (CPSU) dan Rutgers University.

“Temuan ini memiliki implikasi klinis dan kesehatan masyarakat yang penting, yang mengisyaratkan bahwa paparan BPA, bahkan pada dosis yang saat ini dianggap ‘aman’, dapat berkontribusi terhadap perkembangan resistensi insulin,” kata tim peneliti CPSU.

Namun tim peneliti itu mengatakan, diperlukan uji coba berskala lebih besar untuk melihat sejauh mana temuan ini dapat digeneralisasi ke populasi umum.

Meskipun perubahan jangka pendek yang teramati ini cukup mengkhawatirkan, terutama jika dilihat dalam konteks yang lebih luas.

“Jika dikaitkan dengan studi epidemiologi, penelitian pada hewan, dan studi pada manusia sebelumnya, temuan ini menambah bukti yang semakin kuat bahwa badan regulator perlu mengevaluasi kembali secara kritis dosis acuan yang telah ditetapkan untuk BPA,” ungkap para peneliti CPSU,

Saat ini, EPA AS menetapkan bahwa ambang batas keamanan seumur hidup untuk asupan BPA adalah dosis acuan sebesar 0,05 miligram per kilogram berat badan per hari.

Jika asupan tetap berada di bawah ambang batas tersebut, pejabat pemerintah berpendapat bahwa BPA kemungkinan besar tidak akan menimbulkan dampak buruk yang signifikan.

Namun, angka tersebut pertama kali ditetapkan pada tahun 1988, dan banyak hal telah berubah sejak saat itu.

Para ilmuwan telah mengetahui selama hampir satu abad bahwa BPA dapat meniru kerja hormon estrogen di dalam tubuh dan berpotensi menimbulkan dampak berbahaya.

Akan tetapi, pada tahun 1990-an, muncul temuan baru. Saat itulah para peneliti pertama kali menyadari bahwa BPA dapat luruh dari kemasan polikarbonat yang dipanaskan ke dalam makanan dan minuman kita.

Eksperimen lebih lanjut menunjukkan bahwa BPA memiliki kemampuan untuk memicu aktivitas yang menyerupai estrogen pada sel-sel manusia.

Pada tahun 1997, studi pertama yang melibatkan hewan menemukan bahwa pemberian dosis harian rendah BPA kepada induk tikus yang sedang hamil menyebabkan dampak negatif pada sistem reproduksi keturunan jantan.

Dalam beberapa dekade setelahnya, ribuan studi lain pada hewan telah menunjukkan dampak negatif BPA pada dosis rendah.

Selain itu, studi populasi pada manusia menemukan bahwa tingkat paparan BPA yang lebih tinggi berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk masalah kesuburan dan reproduksi, gangguan perkembangan saraf, masalah kardiovaskular, diabetes tipe 2, serta resistensi insulin.

Hal ini tidak berarti bahwa BPA secara pasti menjadi penyebab semua masalah tersebut, namun di tengah kekhawatiran yang terus meningkat, penggunaan BPA pada botol susu bayi dan gelas minum anak (sippy cup) di AS mulai dihentikan secara bertahap.

Bahkan pada orang dewasa yang sehat, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa dampak yang tidak diinginkan dapat terjadi pada tingkat dosis yang saat ini dianggap aman oleh EPA.

Sebagai contoh, pada tahun 2019, para peneliti di CPSU melakukan uji coba acak yang melibatkan 11 partisipan berusia mahasiswa.

Mereka menemukan bahwa pemberian BPA dosis rendah secara oral berdampak langsung pada kadar glukosa dan insulin, dibandingkan dengan plasebo.

Namun, temuan tersebut tidak dapat membedakan apakah masalahnya terletak pada sekresi insulin atau sensitivitas insulin.

Oleh karena itu, tim peneliti melakukan uji coba yang lebih besar dengan melibatkan 40 orang dewasa muda yang sehat selama lima hari, menggunakan metode pengukuran insulin yang lebih akurat.

Separuh dari partisipan secara acak ditugaskan untuk menerima plasebo setiap hari, sementara separuh lainnya menerima BPA dosis rendah yang masih berada dalam batas aman menurut EPA. Selain itu, semua partisipan menjalani pola makan yang sama.

Sesuai dugaan, mereka yang mengonsumsi BPA setiap hari memiliki kadar bahan kimia tersebut yang lebih tinggi dalam urine mereka.

Setelah lima hari, kelompok ini juga menunjukkan penurunan sensitivitas insulin yang signifikan pada jaringan perifer mereka.

Menariknya, faktor estrogen tampaknya tidak menjadi penyebab penurunan tersebut.

Para peneliti tidak dapat membedakan secara pasti antara sensitivitas insulin di jaringan perifer dan di hati, namun mereka tidak menemukan perbedaan pada indeks yang umum digunakan untuk mengukur sensitivitas insulin di hati.

“Hal ini mengindikasikan bahwa BPA mungkin telah mengganggu metabolisme glukosa yang dirangsang oleh insulin pada otot rangka,” demikian kesimpulan tim peneliti.

Bukti sebelumnya yang mengaitkan paparan BPA dengan resistensi insulin sebagian besar bersifat asosiatif, namun studi baru ini merupakan uji klinis acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo.

Hal ini berarti kita selangkah lebih dekat untuk memahami kemungkinan penyebabnya dibandingkan sebelumnya.

Namun, partisipan dalam uji coba ini adalah orang dewasa muda usia mahasiswa, sehingga temuan tersebut mungkin tidak dapat digeneralisasi ke seluruh populasi.

“Belum jelas bagaimana BPA berinteraksi pada orang yang mengalami obesitas atau prediabetes/diabetes tipe 2, dan hal ini perlu mendapat perhatian,” tulis tim peneliti.

Mengingat adanya bukti-bukti baru tersebut, BPA tidak lagi diizinkan dalam sebagian besar produk makanan dan minuman di Eropa.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism; selengkapnya dapat diakses di sini.

Namun, badan pengawas di AS belum melakukan evaluasi ulang terhadap BPA selama lebih dari satu dekade.

Tahun ini, para pembuat undang-undang di AS mengajukan rancangan undang-undang No Toxics in Food Packaging Act (Undang-Undang Larangan Bahan Beracun dalam Kemasan Makanan), yang bertujuan melarang penggunaan BPA pada kemasan makanan.

Versi-versi sebelumnya dari rancangan undang-undang ini telah gagal disahkan. (rus)