KABARIKA.ID, BOGOR– Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet menyiapkan skema percepatan peningkatan produksi bawang putih melalui penguatan pendampingan budidaya dan riset terapan. Langkah ini diarahkan untuk memastikan program berjalan di lokasi yang tepat, didukung teknologi siap pakai, serta mampu meningkatkan keterampilan petani dan produktivitas secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Skema tersebut dibahas dalam pertemuan di Bogor, Jumat (30/10), yang menekankan perlunya kolaborasi lintas lembaga untuk menyusun program pengembangan bawang putih secara terukur. Menurut Wamentan Alim, program harus bertumpu pada kesiapan pelaksanaan di lapangan, bukan sekadar potensi atau peluang yang belum teruji.
“Yang kita butuhkan adalah inovasi yang betul-betul siap diterapkan, bukan yang masih sebatas potensi. Karena skalanya besar, kita harus memastikan teknologi dan rencana yang dipilih benar-benar bisa mendukung pencapaian target,” ujar Wamentan Alim.
Wamentan Alim menjelaskan, skema peningkatan produksi akan dijalankan melalui dua jalur yang saling melengkapi. Jalur pertama berfokus pada percepatan budidaya melalui penetapan lokasi, penyusunan kalender tanam, pemetaan kebutuhan petani, serta pendampingan teknis. Jalur kedua diarahkan pada riset dan kajian untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, efisiensi penggunaan input, dan daya saing bawang putih.
Pada jalur pertama, Wamentan Alim meminta lokasi pengembangan dan jadwal tanam dirinci agar dukungan pemerintah dapat diberikan sesuai kebutuhan di lapangan. Menurutnya, keberhasilan pengembangan bawang putih tidak hanya ditentukan oleh penetapan lahan, tetapi juga kesiapan petani dalam menerapkan teknik budidaya. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani perlu menjadi bagian utama dari program.
“Ini betul-betul mulai baru, sehingga kita membutuhkan keterampilan baru dari petani. Pendampingan budidaya, peningkatan literasi, dan penguasaan teknologi tepat guna menjadi sangat penting,” katanya.
Jalur kedua akan memperkuat riset dan kajian untuk menjawab tantangan produksi bawang putih dalam jangka pendek maupun panjang. Area yang perlu dikaji meliputi pengembangan varietas unggul, perbaikan teknologi budidaya, peningkatan mutu hasil, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, serta efisiensi penggunaan sarana produksi.
Riset juga perlu mencakup penanganan pascapanen, termasuk upaya mengurangi kehilangan hasil selama penyimpanan dan distribusi. Aspek pengemasan dan transportasi turut menjadi perhatian agar bawang putih dapat dipasarkan dengan mutu yang terjaga.
Wamentan Alim menekankan bahwa penguatan produksi harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekosistem usaha. Kemitraan, kepastian peran para pihak, serta dukungan kebijakan dan regulasi perlu disiapkan sejak awal agar hasil peningkatan produksi memiliki jalur pemasaran yang jelas.
“Kita ingin membangun ekosistem yang baik. Kemitraannya harus jelas, termasuk apa yang akan dikerjakan dan hasil yang ingin dicapai. Kebijakan dan regulasi pendukungnya juga perlu disiapkan,” ujar Wamentan Alim.
Melalui skema dua jalur tersebut, Kementerian Pertanian mendorong agar pengembangan bawang putih dapat berdampak sehingga mencapai swasembada yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto dalam tiga tahun ke depan. Pendampingan petani, pemanfaatan teknologi siap pakai, riset terapan, dan kemitraan diharapkan menjadi fondasi bagi peningkatan produksi bawang putih nasional secara terukur dan berkelanjutan. (*)
