KABARIKA.ID, MAKASSAR – Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) bakal menjadi lokasi pendirian Politeknik Pengawasan Obat dan Makanan pertama di Indonesia. Hal ini terungkap dalam kegiatan penyuluhan keamanan pangan dan penandatanganan kerja sama dengan BPOM di Baruga Asta Cita Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Jalan Sungai Tangka Makassar, Kamis (28/8/202).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menyambut baik rencana pembangunan politeknik yang dikerjakan dengan skema multiyears contract. “Programnya luar biasa, multiyears untuk Rp1,7 triliun,” kata Andi Sudirman.

Ia juga memastikan Pemprov Sulsel akan mendorong afirmasi prestasi dalam penerimaan mahasiswa baru nantinya. “Harapan kita akan ada afirmasi untuk prestasi dari rekomendasi gubernur, alhamdulillah sudah disetujui minimal 10 persen,” tegasnya.

Kepala Badan POM, Prof Taruna Ikrar, mengungkapkan tiga poin urgensi pendirian politeknik ini.

Pertama, adanya kebutuhan mendesak untuk membangun pendidikan khusus pengawasan obat dan makanan. Selama ini Indonesia belum memiliki institusi pendidikan khusus yang menangani bidang ini.

BPOM harus merekrut dari berbagai disiplin ilmu seperti dokter, apoteker, farmasi, sarjana komputer, hingga sarjana pertanian. Mereka membutuhkan waktu satu tahun untuk beradaptasi karena perbedaan antara ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dengan kebutuhan pengawasan obat dan makanan.

Kedua, politeknik ini diperlukan untuk meningkatkan standar pengawasan Indonesia. BPOM yang telah berusia 208 tahun saat ini masih berada pada maturitas level tiga, dan bercita-cita naik ke level empat setara dengan standar pengawasan Amerika dan Eropa.

Dari 196 negara di dunia, hanya 30 negara yang telah mencapai level empat ini. Salah satu kriteria penilaiannya adalah ketersediaan SDM yang terampil dan terdidik khusus di bidang pengawasan obat dan makanan.

Ketiga, pemilihan lokasi di Sulsel didasarkan pada pertimbangan geografis yang strategis. Selama ini semua pendidikan vokasi BPOM terkonsentrasi di Jawa.

“Dengan dibangunnya politeknik di Sulsel, diharapkan dapat menjangkau calon mahasiswa dari Indonesia Timur seperti Ambon dan Papua, tanpa harus jauh-jauh ke Jawa. Lokasi ini juga dekat dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) sehingga mudah dijangkau dari berbagai wilayah,” sebut Prof Taruna.

Untuk mendukung pembangunan kampus, telah disiapkan lahan seluas 10 hektare di kawasan Pucak, Kabupaten Maros. Pendanaan sebesar Rp1,7 triliun telah dipastikan melalui kerjasama dengan Asian Development Bank (ADB) dan telah disetujui oleh Kementerian Keuangan.

“Total Rp1,7 triliun akan difokuskan untuk pembangunan Poltek POM, termasuk sarana pendidikan dan laboratorium,” kata Prof Taruna.

Dengan adanya politeknik ini, diharapkan dapat menghasilkan tenaga pengawas obat dan makanan yang profesional dan meningkatkan standar pengawasan di Indonesia, sekaligus mewujudkan pemerataan pendidikan vokasi di luar Pulau Jawa. (*)