KABARIKA.ID, MAKASSAR – Di bawah komando Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel memperkuat tata kelola Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai garda terdepan program Makanan Bergizi untuk Anak Sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penguatan ini dilakukan guna memastikan program strategis nasional berjalan tepat sasaran, profesional, dan bebas korupsi, selaras dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita, khususnya di bidang pelayanan publik dan pemenuhan gizi.
Terlihat, sebelum fajar menyingsing di Kota Makassar, tepat pukul 03.00 WITA, Dapur SPPG Berkah Amanah di Kelurahan Tello Baru sudah berdenyut.
Di bawah sorotan lampu neon, Nur Syahidah Imran, Ahli Gizi, memastikan bumbu tempe orek matang sempurna. Ia bersama 47 karyawan (70% warga sekitar) telah memulai ritual sejak sore sebelumnya, mengupas wortel, menggoreng tempe, hingga menyiapkan 1.000 porsi makan dengan biaya operasional Rp3 juta per hari.
“Ini balapan melawan waktu. Holding time maksimal 4 jam agar makanan tetap hangat dan bergizi saat sampai ke anak-anak,” ujar Syahidah, yang juga memastikan variasi menu dan perhatian khusus untuk siswa dengan alergi.
Pukul 08.00, distribusi dimulai dengan dua kendaraan. Makanan dalam wadah steel diantar ke siswa TK, SD, SMP, dan SMA, diharapkan tetap hangat saat dinikmati usai jam istirahat pertama.
Komitmen Pemprov Sulsel, dipimpin Gubernur Andi Sudirman, untuk menertibkan tata kelola dapur gizi ditegaskan dalam Sosialisasi Anti Korupsi dan Bimtek Akuntabilitas Keuangan bagi SPPG yang digelar Badan Gizi Nasional.
“Kami berharap program Asta Cita Bapak Presiden, khususnya terkait pemenuhan gizi masyarakat, dikelola secara profesional, tepat sasaran, dan bebas dari praktik koruptif,” tegas Gubernur dengan suara lantang di hadapan ribuan peserta.
Peringatan Gubernur ini sangat relevan dengan data mengkhawatirkan yang diungkap Brigjen (Purn) Suardi Samiran, Deputi Badan Gizi Nasional. Dari 625 SPPG terdaftar di Sulsel, hanya 536 yang beroperasi melayani 1,39 juta penerima manfaat. Yang lebih memprihatinkan, hanya 46 SPPG (8,5%) yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.
“SPPG punya peran vital membangun generasi Indonesia sehat menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, penjamah makanan wajih higien, sehat, dan mengikuti aturan untuk mengantisipasi keracunan,” tegas Suardi.
Di lapangan, program yang dikawal ketat Pemprov Sulsel ini membawa berkah nyata. Kepala SMK Kartika XX-1 Makassar, Muhammad Rum, bersemangat bercerita tentang transformasi di sekolahnya.
“Hampir semua 400 siswa kami mengatakan bagus. Program ini memotivasi mereka; yang tadinya malas masuk, sekarang datang penasaran ingin mencoba MBG yang ternyata enak sekali,” ujarnya.
Dengan langkah konkret penguatan tata kelola dan akuntabilitas keuangan, Pemprov Sulsel di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menunjukkan keseriusannya menjadikan program gizi anak sekolah bukan hanya sekadar pemenuhan porsi, tetapi investasi berkualitas untuk menyongsong generasi emas Indonesia 2045, sekaligus mewujudkan visi Asta Cita pemerintah pusat di tingkat daerah.(*)
