KABARIKA.ID, MAKASSAR — Dengan nada berapi-api di ballroom Hotel Four Points by Sheraton, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak sekadar memberi sambutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia melontarkan tantangan ‘perang’ ekonomi kepada ratusan pengusaha muda yang berkumpul dalam Sidang Dewan Pleno (SDP) HIPMI 2026, di Makassar, Ahad (15/2/2026).
“Harga kelapa kita cuma Rp1.350. Tapi kalau kalian olah jadi coconut milk atau coconut water, nilainya naik 100 kali lipat. Ekspor kita Rp24 triliun. Kalau diolah, bisa tembus Rp5.000 triliun,” ungkap Mentan Amran.
Ia tidak sedang bercerita, ia sedang membakar semangat transformasi.
Menurut Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA UNHAS) ini, Indonesia sudah terlalu lama menjadi penonton di negeri sendiri.
Padahal, Indonesia adalah raja kelapa dunia, penguasa 60-70 persen pasar CPO, dan pemilik 80 persen bahan baku gambir dunia. Ironisnya, negara lain yang menikmati kue nilai tambah.
Amran mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan dukungan anggaran fantastis sebesar Rp371 triliun untuk tiga tahun ke depan guna membangun industrialisasi pertanian dari hulu ke hilir.
Ia membeberkan potensi ‘gila’ dari tiga komoditas utama:
– Kelapa: Potensi lonjakan nilai dari Rp24 triliun menjadi Rp2.400 triliun hingga Rp5.000 triliun.
– CPO: Dari Rp549 triliun bisa meroket menjadi Rp1.500 triliun hingga Rp5.000 triliun jika dikonversi penuh menjadi biofuel dan turunan industri.
– Gambir: Dengan penguasaan 80 persen bahan baku dunia, potensinya mencapai Rp5.000 triliun.
“Tapi sedihnya, kita ekspor mentah, diolah di luar, lalu mereka jual lagi ke kita,” katanya.
Di hadapan para pengusaha muda, Amran membeberkan pencapaian yang membanggakan. Indonesia mencapai swasembada beras dalam waktu tercepat sepanjang sejarah pada 7 Januari 2026.
Sektor pertanian mencatat pertumbuhan 10,52 persen dan menjadi penopang utama PDB, bahkan mendapat dua penghargaan dari FAO.
“Ini bukan kerja saya. Ini kerja kita semua. HIPMI adalah bagian dari kemenangan ini,” ujarnya.
Amran mengeritik pola pikir lama yang ia sebut “maju dua langkah, mundur dua langkah seperti poco-poco”.
Menurut founder Tiran Group ini, Indonesia tidak punya waktu untuk bermain aman. Dengan penduduk 286 juta jiwa dan ancaman krisis pangan global, yang dibutuhkan adalah aksi nyata dan keberanian revolusioner.
Ia mengajak HIPMI untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam putaran ekonomi raksasa ini. Pemerintah, kata Amran, telah membuka peluang besar bagi pengusaha muda.
Yaitu, cetak sawah baru dan pengembangan kakao seluas hampir 1 juta hektare dengan dukungan Rp10 triliun.
Lalu pembangunan pabrik kelapa senilai Rp1,5 triliun per unit melalui skema kolaborasi pembiayaan.
“Kalau tiga komoditas saja, kelapa, gambir, CPO kita seriusi hilirisasinya, nilainya tembus Rp15.000 hingga Rp20.000 triliun. Itu setara tujuh tahun APBN kita,” tegas Amran, membuat ruangan hening sejenak sebelum pecah dalam tepuk tangan gemuruh.
“Hari ini kita sudah berdoa paling tinggi. Sekarang saatnya bertindak paling tinggi. HIPMI, masa depan republik ini ada di pundak kalian. Apakah kita mau jadi raja di negeri sendiri, atau jadi kuli di negeri orang?” lanjutnya.
SDP HIPMI 2026 pun berubah dari sekadar forum konsolidasi menjadi ruang sakral deklarasi perang ekonomi. Indonesia siap main di panggung dunia, bukan lagi sebagai pemasok bahan mentah, tapi sebagai penguasa rantai nilai global. (*)
