KABARIKA.ID, MAKASSAR – Pengembangan sumber daya manusia (SDM) pekebun menjadi investasi paling strategis untuk meningkatkan daya saing perkebunan kelapa sawit rakyat. Melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan, pekebun diharapkan mampu menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) sehingga produktivitas kebun meningkat secara efisien, berkelanjutan, dan tanpa harus membuka lahan baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.

Kegiatan ini diikuti 150 pekebun sawit dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, yang dilaksanakan pada 14 – 20 Juli 2026, di Makassar.

Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, mengatakan peningkatan produktivitas sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan teknologi maupun perluasan lahan. Yang paling menentukan adalah kualitas SDM pekebun sebagai pelaku utama di lapangan.

“BPDP bersama Kementerian Pertanian sangat serius meningkatkan sumber daya manusia pekebun sawit. Tahun ini sebanyak 15.900 petani dilatih melalui sekitar 530 kelas pelatihan di seluruh Indonesia dengan dukungan anggaran hampir Rp250 miliar,” ujar Sri Gunawan.

Menurutnya, investasi pada SDM akan menghasilkan dampak jangka panjang karena ilmu yang diperoleh peserta dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing, sekaligus ditularkan kepada pekebun lainnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali materi budidaya kelapa sawit secara komprehensif, mulai dari persiapan lahan, pemilihan bibit unggul bersertifikat, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM), hingga teknik pemupukan yang tepat sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP).

“Selama ini banyak pekebun mengelola kebun berdasarkan pengalaman turun-temurun atau mengikuti kebiasaan sekitar. Melalui pelatihan ini mereka mendapatkan dasar ilmiah agar mampu mengambil keputusan budidaya yang benar, lebih efisien, dan mampu meningkatkan hasil panen,” katanya.

Sri Gunawan juga menekankan pentingnya membekali pekebun menghadapi dampak perubahan iklim, terutama ancaman El Niño yang berpotensi menurunkan produktivitas kebun.

Ia menjelaskan bahwa pekebun perlu memahami strategi mitigasi, seperti konservasi air melalui embung dan rorak, pemanfaatan bahan organik untuk menjaga kesehatan tanah, penggunaan bibit unggul, serta penerapan pemupukan yang tepat waktu dan tepat dosis.

“Kita tidak bisa mengendalikan iklim, tetapi kita bisa menyiapkan kebun agar lebih adaptif. Kuncinya ada pada pengelolaan air dan menjaga kesehatan tanah. Kalau tanah sehat, produktivitas akan tetap terjaga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, SP, mengatakan pengembangan SDM merupakan salah satu program prioritas pemerintah daerah untuk memperkuat daya saing sawit rakyat.

Sejak 2022 hingga 2026, BPDP telah memfasilitasi pelatihan bagi 1.681 pekebun sawit di Sulawesi Selatan. Khusus Kabupaten Wajo, sebanyak 459 pekebun memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan selama periode 2025–2026.

Menurut Nurul, peningkatan kompetensi pekebun akan berdampak langsung terhadap kualitas tandan buah segar (TBS), produktivitas kebun, hingga peningkatan pendapatan petani.

“Kami berharap pelatihan ini benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Persoalan budidaya, terutama penggunaan bibit unggul bersertifikat dan penerapan teknologi budidaya yang benar, masih menjadi tantangan utama yang harus segera diperbaiki,” katanya.

Ia menambahkan, data peserta dan kondisi kebun akan dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan program lanjutan, termasuk usulan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) maupun bantuan sarana dan prasarana agar penerapan hasil pelatihan dapat berjalan optimal.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pamereni, M.Si. Menurutnya, peningkatan kapasitas SDM menjadi kunci pembangunan perkebunan sawit di tengah tantangan perubahan iklim, perkembangan teknologi, serta tuntutan usaha perkebunan yang semakin berkelanjutan.

“Saya berharap pelatihan ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan pekebun yang kompeten, menerapkan Good Agricultural Practices, meningkatkan produktivitas, menjaga kelestarian lingkungan, serta menghasilkan usaha perkebunan yang berdaya saing,” ujarnya.

Ia juga mendorong seluruh peserta untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing dan membagikannya kepada pekebun lain sehingga manfaat pelatihan dapat dirasakan lebih luas.

Melalui Program SDMP 2026, sinergi BPDP, Ditjenbun, AKPY, serta pemerintah daerah diharapkan mampu menciptakan pekebun sawit yang semakin profesional dan adaptif terhadap perubahan. Dengan SDM yang kompeten, peningkatan produktivitas kebun rakyat dapat dicapai secara efisien dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat masa depan industri sawit nasional tanpa bergantung pada perluasan lahan. (*)