KABARIKA.ID, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempati posisi teratas dalam Survei Nasional Evaluasi Kinerja Pemerintah yang dilakukan Adidaya Institute dengan 13,5 persen. Survei pada 15–21 September 2026 itu menilai menteri yang dianggap paling baik melayani masyarakat, sementara sejumlah pengukuran sebelumnya—Indikator Politik Indonesia, IndexPolitica, dan CELIOS—juga menempatkan Amran pada posisi tinggi dengan metode yang berbeda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil terbaru tersebut menempatkan Amran di atas Teddy Indra Wijaya dengan 11,6 persen dan Nasruddin Umar dengan 10,8 persen.
Amran unggul 1,9 poin persentase atas Teddy dan 2,7 poin atas Nasruddin. Jarak antara posisi ketiga dan keempat melebar menjadi 6,4 poin karena Abdul Mu’ti memperoleh 4,4 persen.
Tiga nama teratas secara bersama-sama mengumpulkan 35,9 persen penilaian dalam grafik. Setelah kelompok tersebut, persentase nama lain turun ke kisaran empat persen, tiga persen, dua persen, hingga 0,1 persen.
Tito Karnavian berada di posisi kelima dengan 4,3 persen, disusul Erick Thohir 4,2 persen, Prasetyo Hadi 3,9 persen, Sugiono 3,7 persen, Budi Gunadi Sadikin 3,4 persen, serta Yassierli dan Sudaryono yang sama-sama memperoleh 3,3 persen.
Pada kelompok terbawah yang tampak dalam grafik, Raja Juli Antoni memperoleh 0,1 persen. Sejumlah nama lain berada pada kisaran 0,2 hingga 0,3 persen.
Daftar Nama dengan Persentase Tertinggi
Rincian nama dan persentase yang terbaca pada grafik Adidaya Institute adalah:
• Andi Amran Sulaiman — 13,5 persen.
• Teddy Indra Wijaya — 11,6 persen.
• Nasruddin Umar — 10,8 persen.
• Abdul Mu’ti — 4,4 persen.
• Tito Karnavian — 4,3 persen.
• Erick Thohir — 4,2 persen.
• Prasetyo Hadi — 3,9 persen.
• Sugiono — 3,7 persen.
• Budi Gunadi Sadikin — 3,4 persen.
• Yassierli — 3,3 persen.
• Sudaryono — 3,3 persen.
Urutan tersebut menunjukkan konsentrasi penilaian pada tiga nama teratas. Amran menjadi satu-satunya nama yang menembus 13 persen, sementara Teddy dan Nasruddin berada di atas 10 persen.
Penurunan persentase setelah tiga besar membuat posisi Amran, Teddy, dan Nasruddin tampak terpaut jauh dari nama-nama berikutnya. Namun, grafik tidak menjelaskan faktor yang membuat responden memilih setiap nama.
Rekam Penilaian Sebelum Survei Adidaya
Penempatan Amran di posisi teratas oleh Adidaya bukan satu-satunya penilaian positif yang muncul dalam setahun terakhir. Pada survei Indikator Politik Indonesia setelah satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Amran mencatat tingkat kepuasan publik 84,9 persen dan berada di urutan pertama di antara pejabat yang dinilai.
Survei yang dipublikasikan pada 8 November 2025 itu menempatkan Amran di atas Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan 84,5 persen, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 84,1 persen, Menteri Agama Nasaruddin Umar 83,4 persen, dan Menteri Sekretariat Negara Prasetiyo Hadi 82,9 persen.
Indikator menyebut penilaian dilakukan terhadap pejabat yang namanya diketahui responden. Menurut penjelasan yang dikutip dari hasil survei, tingkat kepuasan terhadap Amran banyak datang dari kalangan petani yang merasakan langsung kebijakan sektor pertanian.
Pada data Indikator yang beredar pada 12 Agustus 2026, Amran juga berada di posisi kedua dengan skor 86,60, di bawah Purbaya Yudhi Sadewa yang memperoleh 90,40. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto berada di posisi ketiga dengan 83,60, disusul Rachmat Pambudy 81,70 dan Wihaji 81,10.
Data Agustus tersebut tidak disamakan dengan survei Indikator 2025 karena tanggal publikasi, daftar pejabat, dan angka yang ditampilkan berbeda. Keduanya dibaca sebagai pengukuran pada periode yang berbeda.
IndexPolitica Menilai Kinerja Berbasis Data
Pada September 2026, Government Performance Assessment IndexPolitica Indonesia menempatkan Amran di peringkat pertama dari 10 menteri dengan skor 91. Penilaian ini bukan survei opini publik, melainkan evaluasi berbasis dokumen dan laporan resmi pemerintah serta statistik sektoral.
IndexPolitica menggunakan pendekatan Evidence-Based Government Performance Evaluation dengan metode Multi-Criteria Decision Analysis. Enam dimensinya meliputi Policy Output berbobot 20 persen, Policy Outcome 25 persen, Implementation Effectiveness 20 persen, Public and Economic Impact 15 persen, Policy Innovation 10 persen, serta Intergovernmental Coordination 10 persen.
Amran berada di atas Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dengan skor 89, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 87, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti 86, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 85.
Founder dan Peneliti Senior IndexPolitica Indonesia Denny Charter menegaskan perbedaan antara kinerja dan popularitas.
“Yang kami ukur adalah kinerja, bukan popularitas. Menteri yang sering diberitakan belum tentu menteri dengan kinerja terbaik,” kata Denny dalam keterangan resmi, Selasa (8/9/2026).
Menurut IndexPolitica, indikator yang dibaca dalam sektor pertanian mencakup produksi pangan, stok, produktivitas, penguatan irigasi dan pompanisasi, penyediaan benih, mekanisasi, pupuk, percepatan tanam, serta peningkatan produktivitas.
CELIOS Menempatkan Amran Tertinggi di antara Menteri Aktif
Rapor Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran versi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang dirilis 12 Oktober 2026 menempatkan Amran di posisi kedua secara keseluruhan dengan skor 140 dari survei terhadap 994 responden.
Posisi pertama ditempati Purbaya dengan skor 291, tetapi Purbaya telah digantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan sejak 14 September 2026. Dengan status tersebut, Amran menjadi menteri aktif dengan skor tertinggi dalam daftar CELIOS, di atas Agus Harimurti Yudhoyono yang memperoleh 127.
CELIOS menggunakan positional scoring rule yang mengadaptasi sistem Borda Count. Skor dihitung dari akumulasi posisi pilihan responden terhadap nama-nama menteri dan merupakan selisih antara penilaian terbaik dan terburuk.
Pengamat Politik dan Pemerintahan Asratillah mengingatkan bahwa angka-angka tersebut tidak boleh dicampur sebagai satu metrik yang sama.
“Menurut saya, dua angka ini harus dibaca sebagai dua jenis legitimasi yang berbeda tetapi saling menguatkan. Skor 91 dari IndexPolitica bukan ukuran popularitas, melainkan evaluasi berbasis dokumen, statistik sektoral dan sejumlah dimensi kinerja kebijakan. Sementara angka 84,9 persen dari Indikator Politik Indonesia merupakan ukuran kepuasan publik,” ujar Asratillah kepada SulawesiPos.com, Selasa (22/9/2026).
Penilaian CELIOS hadir bersamaan dengan sorotan terhadap capaian sektor pertanian. Presiden Prabowo mendeklarasikan swasembada beras pada 7 Januari 2026, sedangkan BPS mencatat Nilai Tukar Petani September 2026 sebesar 131,11.
Capaian Pertanian Menjadi Konteks
Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo dalam Investor Daily Summit 2026 pada 7 Oktober menyebut program Kementerian Pertanian di bawah Amran “sangat-sangat berhasil”. Hashim menilai swasembada beras tercapai tiga tahun lebih cepat dari target 2029.
Hashim juga menyampaikan stok beras nasional mencapai 5,3 juta ton berdasarkan informasi yang ia terima dari Amran. Pernyataan tersebut merupakan penilaian dan data yang disampaikan Hashim dalam forum tersebut.
Di tingkat petani, harga gabah kering panen sepanjang Januari hingga Agustus 2026 bertahan di atas Harga Pembelian Pemerintah Rp6.500 per kilogram, yakni pada kisaran Rp6.700 hingga Rp7.600 per kilogram.
Sudarso, petani di Madiun yang mengelola lahan dua hektare, menyebut harga Rp6.500 per kilogram memberinya “uang lebihan setelah dipotong biaya produksi”. Helmantina, petani di Pasaman, Sumatera Barat, mengaku senang bermitra dengan Bulog karena hasil panennya memiliki pasar yang jelas.
Dari Indramayu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan H Tatang pada awal 2026 menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo, Kementerian Pertanian, dan Perum Bulog atas perhatian terhadap harga gabah.
Hashim menilai dampak kebijakan pertanian tidak hanya terlihat dari harga gabah. Dalam Indonesia Sustainability Forum, ia menyatakan kenaikan harga pembelian gabah dari Rp4.000 menjadi Rp6.500 per kilogram dan pemangkasan biaya pupuk 20 persen membuat taraf hidup petani Indonesia berada pada level tertinggi sejak 1980-an.
Presiden Prabowo juga memberi apresiasi kepada Amran dan jajaran Kementan dalam Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026. Dalam pertemuan dengan jurnalis senior dan pakar di Hambalang pada 6 September 2026, Prabowo menyebut target swasembada empat tahun dapat dipercepat berkat tim pertanian yang dipimpin Amran.
Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyampaikan apresiasi dalam rapat kerja pada 1 September 2026 dengan menyoroti swasembada delapan komoditas pangan strategis. Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Rokhmin Dahuri sebelumnya menyebut swasembada beras sebagai tonggak penting.
BPS mencatat NTP September 2026 sebesar 131,11. NTP membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani, sehingga angka itu menggambarkan daya tukar petani secara agregat, bukan kondisi seluruh subsektor dan daerah secara seragam.
Penilaian Pengamat dan Batas Membaca Angka
Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing menilai Kementerian Pertanian menjadi satu-satunya kementerian yang menunjukkan kinerja menonjol menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Penilaian Emrus merupakan pandangan pengamat, bukan audit resmi atas seluruh kementerian.
Di sisi lain, survei Poltracking Indonesia pada Agustus 2026 menempatkan Bidang Pangan dalam daftar bidang yang dinilai perlu mendapat perhatian oleh 6,8 persen responden. Angka tersebut berkaitan dengan persepsi terhadap bidang pangan, bukan penilaian langsung terhadap kinerja pribadi Amran.
Temuan itu menunjukkan capaian dan persoalan dapat muncul bersamaan. Penilaian positif terhadap Amran tidak otomatis berarti seluruh persoalan pertanian telah selesai, sementara kebutuhan evaluasi bidang pangan tidak dengan sendirinya menghapus hasil positif yang dicatat dalam survei atau asesmen lain.
Survei Adidaya Institute berlangsung pada 15–21 September 2026 dan mengukur nama yang dinilai paling baik kinerjanya dalam melayani masyarakat. Bahan grafik tidak memuat jumlah responden, teknik sampling, wilayah survei, periode wawancara per responden, margin of error, atau alasan responden memilih nama tertentu.
Ketiadaan informasi tersebut membuat persentase dalam grafik belum dapat digunakan untuk mengukur keterwakilan hasil terhadap seluruh penduduk Indonesia. Angka itu tetap dapat dibaca sebagai gambaran persepsi responden pada periode survei.
Hasil Adidaya, Indikator, CELIOS, dan IndexPolitica juga tidak boleh dijumlahkan atau dibandingkan langsung karena objek, waktu, metode, satuan, dan basis datanya berbeda. Adidaya dan Indikator menggunakan persentase kepuasan atau pilihan responden, CELIOS menggunakan skor posisi responden, sedangkan IndexPolitica memakai evaluasi berbasis dokumen dan indikator sektoral.
Dalam bahan grafik Adidaya, Amran tercatat sebagai nama dengan persentase tertinggi, disusul Teddy Indra Wijaya dan Nasruddin Umar. Rekam penilaian sebelumnya menunjukkan Amran juga memperoleh kepuasan tertinggi dalam survei Indikator 2025, skor tertinggi dalam asesmen IndexPolitica 2026, serta posisi kedua dengan skor tertinggi dalam rapor CELIOS 2026.*
