Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Makan sesungguhnya bukan sekadar peristiwa biologis untuk mengenyangkan perut. Ia adalah perjumpaan antara tubuh, bumi, sesama manusia, dan Sang Pemberi Kehidupan.
Kita makan tiga kali sehari, tetapi belum tentu tiga kali pula kita mengingat kehidupan. Di atas piring, ada benih yang tumbuh, air yang mengalir, matahari yang menyinari, dan keringat petani yang jarang masuk dalam perhitungan harga. Sebutir nasi bukan sekadar karbohidrat. Ia adalah perjalanan panjang bumi menghadirkan kehidupan, sekaligus pengingat bahwa rezeki tidak pernah lahir sendirian.
Di sinilah spiritualitas pangan bermula. Aktivitas makan tidak lagi sekadar mengenyangkan tubuh, tetapi membangunkan kesadaran. Rumi mengajak manusia menyelami makna di balik yang tampak, sementara Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din membahas adab makan sebagai bagian dari pendidikan akhlak dan pengendalian diri. Dalam semangat tasawuf, rasa syukur bukan hanya ucapan sebelum makan, melainkan kesanggupan menjaga amanah setelah kenyang.
Manusia modern sering mengalami paradoks: makanan semakin mudah diperoleh, tetapi asal-usulnya semakin jauh dari ingatan. Kita menikmati hasil bumi tanpa mengenal petaninya, menginginkan meja penuh tanpa menghitung yang terbuang, dan berbicara tentang keberkahan sambil membiarkan keserakahan menjadi kebiasaan.
Persoalan pangan, bukan sekadar urusan produksi dan distribusi. Ia juga persoalan moral. Bagaimana memperlakukan rezeki, menghargai petani, dan menjaga bumi yang menopang kehidupan. Al-Qur’an, Surah Al-A’raf ayat 31, mengingatkan agar manusia makan dan minum tanpa berlebih-lebihan. Pesan ini relevan untuk diterjemahkan menjadi tindakan: membeli secukupnya, menghabiskan makanan secara bijak, mengurangi sampah pangan, menanam di pekarangan, serta mendukung petani dan pangan lokal.
Spiritualitas juga harus hadir dalam kebijakan publik. Pemerintah perlu memperkuat distribusi dan keterjangkauan pangan, pelaku usaha mengurangi pemborosan, dan komunitas membangun gerakan berbagi makanan layak konsumsi secara aman dan bermartabat. Sebab, rasa syukur yang tidak melahirkan kepedulian mudah berubah menjadi ritual tanpa perubahan.
Pangan lokal seperti sagu, papeda, kapurung, jagung, dan singkong menyimpan lebih dari sekadar rasa. Di dalamnya ada pengetahuan leluhur, daya tahan budaya, dan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Merawat pangan lokal berarti menjaga keragaman, memperkuat penghidupan produsen, dan mendekatkan kembali manusia kepada sumber kehidupannya.
Pada akhirnya, meja makan adalah ruang kecil untuk menguji kedalaman jiwa. Apakah kita hanya pandai menikmati, atau juga sanggup menghargai? Apakah kita sekadar kenyang, atau turut memikirkan mereka yang kelaparan?
Sebab, kedekatan kepada Tuhan tidak hanya tercermin dalam panjangnya doa, tetapi juga dalam cara kita menghormati rezeki, merawat bumi, dan menyisakan ruang di meja makan bagi sesama.
_________
Muliadi Saleh: ” Menulis Makna, Membangun Peradaban “
