KABARIKA.ID, TANJUNG SELOR — Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Utara (Kapolda Kaltara), Brigjen. Pol. Andi Syahriful Taufik, S.I.K, M.Si, menyampaikan bahwa meskipun di tempat lain ia sering dianugerahi gelar dan pakaian adat oleh berbagai suku, di forum ini ia tidak mengharapkan gelar apa pun karena sudah memilikinya. Perwira tinggi tersebut mengaku memiliki songkok To Bone, walau tidak sempat dibawanya dari Jakarta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya hanya menaruh harapan besar agar warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Kaltara mampu mengemban tiga peran utama sebagai duta. Pertama, sebagai duta keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Sebagai Kapolda, saya secara resmi mendaulat warga KKSS Kaltara sebagai duta kamtibmas. Kedua, menjadi jembatan kemitraan antara polisi dan masyarakat. Serta ketiga, menjadi pelopor penyebar kebaikan,” tegas Brigjen Pol. Andi Syahriful Taufik saat memberikan pengarahan dalam ajang ‘Tudang Sipulung’ yang diselenggarakan oleh Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Kaltara di Hotel Grand Pangeran Khar, Tanjung Selor, Rabu (28/10/2026) malam.
Jenderal berpangkat bintang satu kelahiran Bone tersebut menambahkan, dirinya telah melakukan kunjungan kerja ke pelbagai instansi tingkat provinsi di Tanjung Selor dan bertemu dengan banyak perantau asal Bugis Makassar yang berkiprah di pemerintahan provinsi maupun kabupaten.
“Namun, saya sengaja belum mendatangi Lembaga Pemasyarakatan. Saya menegaskan ingin menindak tegas warga asal Sulawesi Selatan yang terbukti mengedarkan narkoba,” seloroh jenderal yang berpeluang segera naik pangkat bintang dua tersebut, di depan para undangan yang hadir.
Acara ini turut dihadiri Gubernur Kaltara yang diwakili Kadis Kesehatan dr. H. Usman, SKM, M.Kes, Anggota DPD RI Dapil Kaltara Herman, SH, Karetaker BPW KKSS Kaltara Dr. Chaerul Amir, SH, MH, Wakil Ketua DPRD Kaltara, Kejari Bulungan Andi Helmi Adam, SH, MH, para Ketua DPD KKSS se-Kaltara, Ketua IWSS Kaltara Hj. Dara AR Rasyid, Ketua IPSS, serta jajaran warga Sulsel di Kaltara.
Kapolda Kaltara, Brigjen Andi Syahriful Taufik, menegaskan bahwa tugas penegakan hukum yang diembannya berlaku adil tanpa pandang bulu, tidak hanya untuk warga perantauan Sulawesi Selatan saja, melainkan bagi seluruh suku yang ada di Kalimantan Utara.
“Saya pribadi telah tiga kali menerima penghargaan dari para tokoh adat Dayak yang sudah menganggap saya seperti anak dan keluarga sendiri. Karena itu, masyarakat asal Sulawesi Selatan pun harus berdiri di barisan terdepan dalam menyebarkan kebaikan. Keharmonisan dan kedamaian di Kaltara ini sepatutnya mampu menjadi role model atau percontohan keteladanan yang nyata,” ujar perwira asal Bone yang dikaruniai dua anak tersebut.
Dalam kesempatan itu, Andi Syahriful Taufik mengajak seluruh jajaran KKSS di Kaltara untuk senantiasa menebarkan kebaikan tanpa memandang sekat agama, suku, maupun kelompok. Ia memanjatkan harapan agar sosok kepemimpinan yang terpilih mendatang adalah figur inklusif yang sanggup mempersatukan wadah KKSS.
“Ajaklalo tapakasiri ka (jangan sampai mempermalukan saya) selaku Kapolda Kaltara, dan saya memohon dukungan penuh dalam menjalankan amanah ini selama bertugas di Kaltara. Di mana pun bumi dipijak, kita wajib terus menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat kita berada,” tutur Brigjen Andi Syahriful Taufik penuh harap.
Ia turut mengapresiasi kehadiran anggota DPD RI serta jajaran legislator DPRD provinsi dan kabupaten/kota dalam acara tersebut, yang dinilainya sebagai representasi kesuksesan warga Sulawesi Selatan di tanah rantau.
Sementara itu, Karetaker BPW KKSS Kaltara, Dr. Chaerul Amir, SH, MH, mengutarakan bahwa KKSS merupakan wadah pemersatu yang membawa keberkahan bagi keluarga besar Sulsel untuk merajut tali silaturahmi sekaligus menikmati indahnya kebersamaan.
“Kita patut menyyukuri momentum kebersamaan dalam rumah besar KKSS ini, sebagaimana yang senantiasa ditekankan oleh Ketua Umum BPP KKSS, Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian RI, mengenai krusialnya rasa kekeluargaan sebagai perekat utama warga Sulawesi Selatan di perantauan,” ujar Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer Kejagung RI tersebut.
Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kadis Kesehatan Kaltara dr. Usman, SKM, M.Kes, menyampaikan apresiasi atas kontribusi aktif masyarakat Sulawesi Selatan dalam membangun daerah dan merawat persaudaraan. Ia menilai tradisi ‘tudang sipulung’ bukan sekadar sarana berkumpul biasa, melainkan sarat akan nilai-nilai luhur musyawarah dan kebersamaan demi kemaslahatan bersama.
Lebih jauh Gubernur menggarisbawahi bahwa Kalimantan Utara berdiri di atas fondasi keberagaman suku, agama, dan budaya. Oleh sebab itu, memelihara kedamaian dan stabilitas keamanan di provinsi ini merupakan kewajiban kolektif yang tidak hanya bertumpu pada pemerintah atau TNI-Polri, tetapi juga memerlukan peran aktif seluruh komponen masyarakat, termasuk keluarga besar KKSS.
“Saya mengajak kita semua untuk terus memupuk sikap saling menghormati serta mengedepankan ikhtiar musyawarah dalam mengelola keberagaman demi mewujudkan cita-cita bersama. Jangan biarkan perbedaan memicu perpecahan; sebaliknya, jadikan kemajemukan ini sebagai modal sosial untuk memupuk persatuan,” pesan Gubernur Zainal A. Paliwang melalui amanat tertulisnya.
Pemerintah Provinsi Kaltara menegaskan komitmennya untuk terus melangkah mewujudkan visi sebagai benteng depan Republik Indonesia yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Tentu saja, visi besar ini membutuhkan sinergi dan kolaborasi erat dari segenap elemen masyarakat. Kaltara yang maju dicirikan oleh peningkatan kualitas SDM, penguatan sektor pendidikan, inovasi, serta daya saing daerah.
“Kalimantan Utara yang makmur berarti hasil pembangunan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja serta akselerasi ekonomi yang merata lewat pemberdayaan UMKM,” papar Gubernur.
Adapun pembangunan berkelanjutan mensyaratkan pemeliharaan kelestarian lingkungan, perlindungan warisan budaya, serta kepastian bahwa buah kemajuan hari ini dapat diwariskan dengan baik kepada generasi mendatang.
“Untuk merealisasikan visi tersebut, saya menaruh harapan besar agar KKSS mengambil peran strategis, mulai dari pemberdayaan ekonomi warga, penguatan kapasitas generasi muda, pelestarian seni budaya, hingga partisipasi aktif menjaga kondusivitas daerah. Saya meyakini, berpegang pada nilai luhur ‘sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge’—yang bermakna saling memanusiakan, menghargai, dan mengingatkan—akan semakin memperkokoh tatanan hidup bermasyarakat yang harmonis di Kaltara,” tutup amanat Gubernur.
Sebagai informasi, ajang ‘Tudang Sipulung’ ini diselenggarakan sebagai ruang mufakat untuk membangun pemahaman bersama menjelang Musyawarah Wilayah KKSS guna memilih jajaran pengurus organisasi sosial kemasyarakatan asal Sulawesi Selatan yang telah berdiri sejak 12 November 1976 tersebut.
KKSS sendiri pertama kali didirikan di Jakarta oleh 26 tokoh perantau asal Sulsel dari berbagai latar belakang, di antaranya Nabai Sophiaan, Andi Sose, Baharuddin Lopa, H. Ahmad Nurhani, dan Asrul Azis Taba. Organisasi ini berlandaskan asas kekeluargaan dengan misi memupuk silaturahmi warga perantauan Sulsel di luar daerah, sembari tetap memegang teguh dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya daerah asal seperti Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. (*)
