KABARIKA.ID, GAZA — Badan pertahanan sipil di wilayah Gaza mengatakan, sebuah serangan udara Israel menewaskan tiga jurnalis, Kamis (22/01/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketiga jurnalis yang tewas itu adalah Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Shaat, dan Anas Ghneim.

Mereka sedang menggunakan kamera drone untuk mendokumentasikan distribusi bantuan ketika tentara Israel menyerang sebuah kendaraan di lokasi mereka bertugas, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan.

Kematian mereka terjadi bersamaan dengan diluncurkannya sebuah laporan oleh Komite Perlindungan Jurnalis, yang mengungkapkan bahwa jumlah jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia tetap mendekati rekor tertinggi.

Jenazah Mohammed Salah Qashta, Abdul Raouf Shaat, dan Anas Ghneim dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir Al-Balah setelah serangan udara di Al-Zahra, barat daya Kota Gaza.

Shaat secara teratur menyumbangkan foto dan rekaman video kepada kantor berita AFP, meskipun ia tidak sedang bertugas pada saat itu.

Militer Israel mengatakan pasukannya telah mengidentifikasi beberapa tersangka yang mengoperasikan drone yang berafiliasi dengan Hamas di Gaza tengah.

Tentara Israel berdalih, ia menyerang mereka karena ancaman yang mereka timbulkan.

Seorang saksi mata mengatakan para jurnalis tersebut menggunakan drone untuk mendokumentasikan distribusi bantuan oleh Komite Bantuan Mesir di Jalur Gaza ketika sebuah serangan menghantam salah satu kendaraan komite tersebut.

“Sebuah kendaraan milik Komite Mesir menjadi sasaran selama menjalankan misi kemanusiaan, yang mengakibatkan gugurnya tiga orang jurnalis,” kata Mohammed Mansour, juru bicara organisasi tersebut.

Ia menambahkan, semua kendaraan milik komite tersebut memiliki logo komite yang jelas terlihat.

Mansour menuduh tentara Israel secara kriminal menargetkan kendaraan komite tersebut.

Jumlah Jurnalis yang Dipenjara Tetap Tinggi

Sementara itu, sebuah laporan yang baru diterbitkan oleh Komite Perlindungan Jurnalis menyatakan bahwa pada 1 Desember 2025, sebanyak 330 jurnalis dipenjara di seluruh dunia.

Angka tersebut turun dari rekor 384 pada akhir tahun 2024, tetapi masih mendekati angka tertinggi sepanjang sejarah.

Israel, yang menahan 29 jurnalis, semuanya warga Palestina, berada di peringkat ketiga dalam daftar negara dengan jumlah pekerja media yang ditahan terbanyak, setelah Tiongkok (50), dan Myanmar (30).

Hampir satu dari lima jurnalis yang dipenjara melaporkan bahwa mereka telah mengalami penyiksaan atau pemukulan.

“Negara-negara otokrasi dan demokrasi sama-sama memenjarakan jurnalis untuk menekan perbedaan pendapat dan membungkam pelaporan independen,” kata CEO Komite Perlindungan Jurnalis, Jodie Ginsberg.

Kementerian kesehatan Gaza yang dikelola Hamas di Gaza mengatakan, pasukan Israel telah membunuh setidaknya 466 warga Palestina sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025.

Komite Perlindungan Jurnalis melaporkan bahwa 127 jurnalis dan pekerja media lainnya tewas dalam menjalankan tugas mereka selama tahun 2025, sebagian besar di antaranya di Gaza. (rus)