Oleh: ๐๐ช๐ ๐๐๐จ๐ข๐๐ฃ
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PEKAN ini Makassar mendadak heboh. Bukan karena gerombolan ๐ต๐ฆ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐จ menggelar tawuran antarkandang, bukan pula karena bapak-bapak lolos ke final Liga Champions pakai daster motif bunga di lapangan sepak bola Andi Takko’.
Kota Daeng ini justru sibuk membicarakan satu kata: ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ฅ๐ถ.
Cepat benar nasib istilah itu. Baru kemarin terdengar asing, hari ini, popularitasnya melampaui berita ijazah palsu. Dari grup WhatsApp keluarga, warung kopi, sampai pelataran masjid, semua mendadak merasa lulus S-3 pakar persampahan.
Usai salat Zuhur di Antang, saya berjalan menuju kendaraan. Di pelataran masjid, sekelompok bapak masih berdiri melingkar berdiskusi, ๐ฅรช’๐จ๐ข ๐ด๐ช๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฃรช’โantusias saling menyanggah. Langkah saya spontan melambat. Bukan mau ikut ๐ค๐ฐ๐ฅ๐ฅ๐ฐโ di rapat mereka, cuma naluri reportase lagi kambuh: menguping.
Raut wajah mereka serius sekali. Saya kira sedang menggelar rapat darurat. Jangan-jangan saling membandingkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang sama-sama sudah tembus angka 500 mg/dL, ๐ญ๐ข๐ฃ๐ฆโ๐ฌ๐ฐ!
Eh… saya keliru besar.
Ternyata yang mereka perdebatkan penuh semangat bukan kolesterol, bukan pula antrean BBM di SPBU yang entah kapan berakhir. Forum dadakan itu justru membahas satu topik paling viral pekan ini: sampah residu.
Saya hanya tersenyum sendiri. Rasanya seperti salah masuk sidang promosi doktor persampahan.
Di negeri ini, yang benar-benar abadi bukan cinta, melainkan sampah.
Cinta putus paling meninggalkan lagu galau dan status WhatsApp beberapa hari.
Sampah? Sekali dibuang, urusannya belum selesai. Badannya memang tinggal di TPA Tamangapa, tetapi aromanya hobi keluyuran. Saking rajinnya bersilaturahmi, satu kampung bisa kompak beristigfar berjamaah.
Pemandangan seperti itu hampir setiap hari saya nikmati sepanjang perjalanan menuju Kampus II. Tumpukan sampah di TPA Tamangapa seolah mengikuti audisi “Indonesia Mencari Tumpukan.” Masing-masing berlomba menjadi paling tinggi, paling besar, sekaligus paling harum. Harum menurut standar lalat hijau. Kalau lalat bisa memberi ulasan di Google, saya yakin ratingnya lima bintang.
Sebagiannya berbaris rapi di pinggir jalan seperti antre menerima bantuan sosial. Sebagian lagi bergerombol di tikungan seakan sedang rapat koordinasi. Sisanya menggunung di TPA sambil menyebarkan aroma khas ๐๐ข๐ต๐ช๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ yang sanggup menembus masker medis KN95, kaca mobil menyerah, bahkan niat baik orang untuk menarik napas panjang.
Menjelang sore, babak berikutnya dimulai.
Jalan Tamangapa mendadak berubah fungsi. Bukan lagi jalan raya, melainkan jalur resmi mudik ๐ด๐ช๐ต๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ฑ๐ช-๐ฏ๐ข.
Awalnya saya mengira parade sapi itu akan pulang serempak seperti jamaah selesai salat ‘Id. Ternyata dugaan saya meleset.
Rupanya mereka menerapkan manajemen lalu lintas sendiri. Gelombang pertama lewat, kendaraan mulai bergerak. Baru sepuluh meter, muncul lagi kloter kedua. Disusul gelombang berikutnya tanpa jeda. Akhirnya antrean mobil memanjang seperti ular piton yang habis makan kambing. Saya sampai curiga Google Maps sebentar lagi menulis: “Penyebab kemacetan: sapi pulang kerja.”
Ketika puluhan sopir mulai kehilangan kesabaran, sang penggembala tetap melangkah santai di belakang iring-iringan sambil merokok. Asap rokoknya mengepul, seolah menjadi aba-aba resmi kepulangan rombongan sapi.
Saya menduga, kalau perjalanan itu molor lima menit lagi, sapi-sapi itu mulai batuk berdahak, sedangkan lalat-lalat Tamangapa ๐ฎ๐ข๐ญ๐ช๐ฑ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฐ sampai kehilangan suara dengungnya. Sementara di belakang rombongan, puluhan mobil hanya bisa pasrah mengikuti irama langkah sapi. Tiket pertunjukannya memang gratis, tetapi ongkos waktu yang dibayar para sopir tidak murah.
Seketika seluruh sopir berubah menjadi manusia paling sabar di Sulawesi Selatan. Klakson Keong Denso mendadak menganggur. Mau marah pun percuma. Di hadapan rombongan sapi, bunyi “teet… teet…” ternyata tidak punya kekuatan hukum.
Saya baru sadar, di Tamangapa yang paling berwibawa ternyata bukan lampu merah, bukan pula polisi lalu lintas. Panglima jalan sesungguhnya adalah rombongan sapi yang ingin pulang ke kandang, dikawal beberapa penggembala bertelanjang dada menggenggam parang Pattimura. ๐รช๐ด๐ดรชโ ๐ฌ๐ฐ!
Lucunya lagi, sapi-sapi itu sama sekali tidak merasa sedang menguasai lalu lintas. Mereka melangkah tepat di tengah jalan dengan ketenangan luar biasa, seolah GPS mereka hanya memiliki satu perintah: “Lurus terus. Manusia yang mengalah.” Anehnya, semua pengendara patuh tanpa perlu surat tilang.
Di Tamangapa, rupanya bukan sapi yang belajar etika berlalu lintas. Manusialah yang setiap sore belajar menghormati hak pejalan kaki… berkaki empat.
Suatu sore saya terpaksa berhenti karena iring-iringan puluhan sapi sedang menggelar karnaval kepulangan. Tiba-tiba seekor ๐ด๐ช๐ต๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ฑ๐ช-๐ฏ๐ข menyenggol pantat mobil saya. Dalam hati saya spontan berteriak, “Woi, ini pelecehan!” Dari balik kemudi saya langsung protes, “Bikin ko juga jalanan aspal!”
Anehnya, sesaat kemudian saya malah ikut cemas. Jangan-jangan dia berhenti, lalu menuduh mobil sayalah yang menyerempet tanduknya. Lebih gawat lagi kalau dia menuntut saya mengganti biaya “perbaikan”. Tanduknya yang tadinya bengkok, gara-gara menyenggol mobil saya, malah jadi lurus.
Sayang, ๐ด๐ช๐ต๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ฑ๐ช-๐ฏ๐ข sama sekali tidak paham bahasa manusia. Dia tetap melenggang santai tanpa merasa bersalah. Jangankan minta maaf, menoleh pun tidak. Ya iyalah… mana ada kaca spion di tanduknya.
Saya malah curiga, dalam hati dia sedang menggerutu, “Mobil siapa ini? Berani-beraninya menghalangi jalan pulangku!”
Mungkin setiba di kandang, dia bercerita bahwa sore ini nyaris menjadi korban tabrak mobil. Nomor polisi kendaraan saya barangkali sudah masuk daftar hitam di komunitas sapi Tamangapa.
Saya sempat berharap dia berhenti untuk berdamai. Ternyata tidak. Dia tetap melenggang pulang dengan wajah tanpa rasa bersalah. Mungkin, dalam versinya, justru saya pelaku utamanya.
Ternyata harapan itu terlalu tinggi. Dia memilih terus melenggang… eh, pulang ke kandang.
Sementara itu, di TPA, kantong-kantong plastik berserakan sejauh mata memandang. Sapi-sapi menikmati “warisan” yang saban hari kita tinggalkan. Rupanya, bukan cuma manusia doyan belanja, sapi pun ikut menanggung akibatnya.
Bedanya, kita membawa pulang isi belanjaan, mereka mengunyah bungkus alias plastiknya. Ironisnya, yang berbelanja manusia, yang menelan risikonya justru sapi.
Saya perhatikan, sebagian besar kantong plastik itu tampaknya alumni minimarket. Mungkin inilah sebabnya sekarang kantong plastik tidak lagi dibagikan cuma-cuma. Harus bayar.
Kasir barangkali sudah bosan melihat kantong-kantong itu baru beberapa jam “wisuda” dari minimarket, sorenya sudah pensiun dini di Tamangapa. Usia pengabdiannya bahkan kalah singkat dibanding status hubungan anak muda zaman sekarang.
Celakanya, saya termasuk donatur tetap industri kantong plastik. Penyebabnya cuma satu: pelupa kronis. Hampir setiap belanja saya lupa membawa kantong kresek dari rumah.
Seandainya minimarket punya penghargaan “Pelanggan Paling Setia Membeli Kantong Plastik”, saya curiga foto saya sudah dipajang di samping mesin EDC.
Begitu tangan mulai memungut biskuit selai kacang, cokelat, dan Hydro Coco kesukaan saya, kasir langsung tersenyum ramah sambil bertanya,
“Mau pakai kantong, Pak? Kecil, sedang, atau besar?”
Saya langsung mengangguk.
Saya tahu, negosiasi cuma akan berujung tambahan satu kantong plastik lagi di minimarket. Dalam pertarungan seperti ini, kasir selalu keluar sebagai pemenang. Belum lagi jurus pamungkasnya,
“Kak, kembalian tiga ratus rupiahnya sekalian disalurkan untuk donasi kemanusiaan?” Habis kalah perang, masih diminta menyerahkan rampasan. Sontoloyo!
Itu bukan kasir, itu komandan perang yang tak pernah pulang tanpa kemenangan.
Ya sudahlah, saya menyerah telak. Daripada keluar menjinjing barang satu-satu, ๐ญ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ช nanti dikira ๐ฑ๐ฐ๐ญรช ๐ฎ๐ข๐ด๐ด๐ช๐ญ๐ฐ๐ต๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ญ๐ฐ’ ๐๐ข๐ถ๐ญ๐ช๐ฅ (merebut telur hias Maulid).
Kalau uang pembelian kantong plastik itu saya tabung sejak dulu, mungkin hari ini saya sudah bisa membeli ekskavator Hitachi bekasโฆMinimal ban rantai kirinya.
Lucunya lagi, babak berikutnya justru lebih konyol.
Setiap kali berhasil mengingat membawa kantong plastik dari rumah, justru setiba di minimarket saya batal belanja. ๐๐ข๐ค๐ฐ๐ข ๐ฏ๐ช ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ.
Pendeknya, mau belanja lupa kantong. Ingat kantong, malah lupa belanja. ๐๐ช๐ดรช๐ญรชโ ๐ฐ๐ต๐ข’ ๐ญ๐ฐ๐ฑ๐ฑ๐ฐ รช.
Rupanya otak besar dan otak kecil lagi saling ngambek.
Belum selesai drama kantong plastik, muncul lagi babak baru di rumah: memilah sampah.
Namanya terdengar mewahโresidu.
Waktu pertama kali mendengarnya, ada yang mengira itu nama Electone Bugis Abadi terfavorit.
Ternyata ujung-ujungnya tetap saja urusan sampah.
Lucunya lagi, di warung kopi ada pula menduga residu itu penyanyi Korea pendatang baru.
Masih kedengaran celetukannya “Janganmi pakai bahasa tinggi begitu. Bilang saja sampah. Soalnya, kalau terlalu sering saya dengar kata residu, lama-lama saya bisa rรชsi-KO.”
Mendengar jawaban itu, saya memilih menghabiskan kopi susu gula aren. Sebab, kalau plesetan sudah menang, penjelasan ilmiah biasanya tinggal membaca doa penutup.
Belum selesai urusan residu, muncul lagi babak baru. Warga diminta memilah sampah.
Bagus, saya mendukung!
Hanya saja, kalau disuruh memilah, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ๐ฎ๐ช sediakan kantong plastiknya. Syukur-syukur warna bening supaya sampahnya tidak perlu lagi ikut ujian tebak-tebakan.
Melihat polemik ke mana-mana, saya sampai iseng membuat satu rumus warung kopi:
RESIDU = Rakyat Emosi, Semua Sibuk Berteori.
Mudah-mudahan rumus ini salah.
Sebab kalau benar, yang perlu dipilah bukan cuma sampah, tetapi juga cara kita menyelesaikan masalah.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.
Jangan sampai tangan yang berharap pahala justru rajin menebar gangguan.
Selama kesadaran belum berubah, TPA akan tetap penuh. Bukan karena sampah terlalu banyak, melainkan karena kepedulian terlalu sedikit.
Boleh jadi suatu hari nanti anak cucu bertanya, “Apa warisan terbesar generasi kalian?”
Lalu kita menjawab dengan wajah tertunduk, “Maaf, Nak… bukan Gunung Lompobattang yang kami wariskan, melainkan gunung sampah.”
๐ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐๐๐ฎ๐ฟ, ๐ฑ ๐๐ด๐๐๐๐๐ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ
