KABARIKA.ID, MAKASSAR — Paru-paru mantan perokok mungkin tidak pernah pulih sepenuhnya, meski telah berhenti merokok. Penelitian terbaru oleh tim di Universitas McGill, Montreal, Kanad, berupaya mencari tahu penyebabnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penulis senior Carolyn Baglole, profesor di Departemen Farmakologi dan Terapi McGill serta peneliti di Research Institute of the McGill University Health Center, mengatakan bahwa penelitian mendalam menunjukkan, bahwa meskipun beberapa kerusakan tampak dapat pulih kembali, perubahan lain tetap bertahan lama setelah seseorang berhenti merokok.

“Temuan kami membantu menjelaskan mengapa mantan perokok terus menghadapi risiko lebih tinggi terkena penyakit akibat merokok. Meskipun berhenti merokok memungkinkan beberapa sel paru-paru untuk pulih, perubahan lain tetap ada selama bertahun-tahun, yang menegaskan dampak jangka panjang dari kebiasaan merokok,” ujar Baglole sebagaimana dilansir Newsweek.

Perokok memiliki risiko lebih besar terkena kanker paru-paru dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang disebabkan oleh kerusakan akibat merokok pada paru-paru mereka.

Meskipun berhenti merokok dapat mengurangi kerusakan tersebut, mantan perokok tetap lebih berisiko terkena penyakit itu dibandingkan orang yang tidak pernah merokok. Ini menunjukkan bahwa paru-paru hanya pulih sebagian setelah seseorang berhenti merokok.

“Perokok aktif memiliki risiko tertinggi terkena penyakit mematikan seperti kanker paru-paru, namun mantan perokok tetap menghadapi risiko yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah merokok,” ujar Baglole.

Ia mengingatkan bahwa meskipun penelitian mengenai merokok telah dilakukan selama lebih dari satu abad, namun kita belum sepenuhnya memahami alasannya.

Studi yang dilakukan oleh tim dari McGill dan diterbitkan dalam jurnal Translational Research ini memberikan gambaran rinci mengenai dampak berhenti merokok terhadap paru-paru manusia.

Para peneliti melakukan meta-analisis terhadap data yang tersedia untuk umum mengenai lebih dari 100.000 sel paru-paru yang berasal dari sembilan orang yang tidak pernah merokok, tujuh orang yang telah berhenti merokok, dan lima orang yang masih menjadi perokok aktif.

Data tersebut merekam aktivitas molekuler pada lebih dari 40 jenis sel paru-paru yang berbeda, sehingga mengungkap gambaran rinci tentang bagaimana paru-paru merespons aktivitas merokok serta bagaimana paru-paru memulihkan diri setelah seseorang berhenti merokok.

Studi tersebut menemukan bahwa meskipun beberapa sel paru-paru pulih setelah seseorang berhenti merokok, sel-sel lainnya mengalami perubahan permanen pada gen yang terkait dengan struktur jaringan, fungsi kekebalan tubuh, dan kesehatan pembuluh darah.

Beberapa mantan perokok bahkan menunjukkan pola molekuler unik yang tidak ditemukan pada perokok aktif maupun bukan perokok.

Para peneliti menduga hal ini mengindikasikan bahwa berhenti merokok meninggalkan jejak biologis tersendiri pada paru-paru.

Penulis studi sekaligus mahasiswa doktoral McGill, Nicole Heimbach, menyatakan bahwa penelitian ini merupakan langkah penting untuk memahami kerusakan akibat merokok, mana yang dapat pulih dan mana yang mungkin bersifat permanen.

“Dengan mengetahui kerusakan apa yang masih tersisa setelah berhenti merokok, kita dapat lebih memahami bagaimana penyakit akibat merokok berkembang dan bagaimana cara mengobatinya,” kata Heimbach.

Baglole mengatakan bahwa langkah selanjutnya adalah memahami mengapa beberapa sel paru-paru tidak pulih sepenuhnya setelah seseorang berhenti merokok.

“Dengan mengungkap faktor penyebab perubahan permanen ini, kami berharap dapat menemukan cara baru untuk membantu pemulihan paru-paru serta semakin mengurangi risiko penyakit akibat merokok,” papar Baglole. (rus)