Oleh: Ahmad Musa Said
Anggota Majelis Tabligh Muhammadiyah Makassar

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jagad maya sedang diramaikan oleh curhatan Tempo yang mengeluh karena sedang digugat 200 Milyar di Pengadilan Perdata oleh Mentan Amran. Gugatan ini terjadi karena Tempo tidak melaksanakan secara serius Rekomendasi Dewan Pers akibat keteledorannya membuat judul “Poles-Poles Beras Busuk”.

Beberapa waktu yang lalu Tempo juga teledor membuat judul “Menteri Kehutanan Main Domino dengan Tersangka Pembalakan Liar” dengan foto yang di dalamnya ada Menteri Kehutanan Raja Juli, Abdul Kadir Karding (yang saat itu menjabat Menteri), Aziz Wellang (yang diberitakan sebagai tersangka) dan Andi Rukman Nurdin. Meskipun Dewan Pers menyatakan Tempo harus meminta maaf dan Tempo juga sudah mengubah judul, namun Menteri Kadir Karding dicopot dari jabatannya beberapa hari setelah berita tersebut viral. Publik menilai, ia korban, terlepas dari kemungkinan ada latar belakang lain di balik keputusan Presiden Prabowo tersebut.

Dua kejadian yang menimpa Tempo ini seharusnya menjadi pelajaran agar tetap mengindahkan dan menjalankan Kode Etik Jurnalistik. Apalagi jika berita tersebut kemudian akan berdampak buruk ke tokoh publik yang diberitakan. Masyarakat yang terlalu mudah tergiring opini dan menghakimi tanpa tabayyun (klarifikasi, cek dan ricek), sebenarnya juga adalah korban penghasutan yang sangat berbahaya bagi bangsa ini.

Dalam Al Qur’anpun Allah mengingatkan kita : Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al Hujuraat 49 : 6).

Saya teringat pada tulisan seorang Kafil Yamin yang menuliskan keresahannya dengan judul “Jurnalisme Tanpa Malu” saat Bangsa ini hampir terbelah akibat pilihan politik, tak ada salahnya kita angkat kembali tulisan tersebut secara ringkas. Ini pesan Kafil yamin dalam tulisan tersebut :

Jurnalisme partisan di Indonesia sudah mencapai jurnalisme tanpa malu. Prinsip dan etika jurnalistik – akurasi, keseimbangan, kejujuran sudah mereka campakkan jauh-jauh. Berbahasa belepotan pun sudah tidak malu. Tapi kita, masyarakat yang ingin pintar, tentu tak ingin jadi korban mereka.

Menjadi pembaca kritis, kita tidak bisa menjadi korban manipulasi berita, apa lagi fitnah. Apa boleh buat, kebanyakan kita telah menjadi korban media. Sebagian besar pikiran dan emosi kita, rasa suka dan benci kita, adalah hasil bentukan media. Dan orang orang menikmati rasa suka dan benci hasil bentukan media itu. Kalau sudah begini, kita adalah sasaran empuk eksploitasi mereka. Emosi kita bisa secara mudah mereka sulut dengan berita provokatif, hujatan atau sanjungan setinggi langit.

Para pendukung pasangan capres-cawapres biasa meng-google berita di internet. Begitu menemukan berita negatif tentang capres-cawapres yang pesaingnya, mereka mendadak senang, seakan menemukan rejeki; lalu segera menyebarkannya. Tapi bila negatif itu tentang capres-cawapres yang didukungnya, mereka jengkel dan menduga bahwa itu ‘serangan’dari lawan. Ini sudah sudah penyakit.

Hentikan fitnah ini, saudaraku. Ia sudah tumbuh terlalu liar dalam kehidupan bangsa Indonesia, menutupi sejarah dan akal sehat massa. Dendam berlanjut, mewarnai generasi — generasi yang lahir dari dendam sejarah. Orde Baru adalah dendam Orde Lama. Reformasi dendam Orde Baru. Bung Karno dituding komunis; pelindung PKI, yang tinggal sebagai tudingan hingga hari ini.

Tujuh jenderal diculik, ditembak mati dan dicemplungkan kedalam sumur sempit seakan bangkai anjing karena koran-koran PKI menuding para jenderal itu akan mengkudeta Bung Karno. Pembunuhan diiringi tarian dan nyanyi. Lalu, jutaan orang dibunuh tanpa pembuktian hukum. Segerobak petani tua dibantai di Ciamis, hanya karena tetangga bilang mereka pernah dimintai beras oleh PKI.

Surat Perintah Sebelas Maret [Super Semar] entah raib kemana. Padahal surat itu alat sah utama dan pertama rejim Orde Baru. Orang-orang berjenggot dan berserban diciduk dan ditembak mati, karena serbannya mirip serban Osama bin Laden.

Dan kini, seorang calon presiden dituding-tuding penculik dan perencana makar tanpa henti, tanpa pengadilan. Dan dengan kebencian, kita menikmatinya. Mungkin kita tak ingin kebenaran, takut kalau kebenaran itu mementahkan fitnah yang sudah begini mengasyikkan. Sudah jadi gen.

Dan engkau, para awak koran-koran dan teve congor partai hari ini, jika hati kalian cukup gelap, sehingga senang melihat pembaca dan pemirsa kalian, sesama bangsa, saling hujat, saling hina, saling nista, kalian pun pasti bisa ‘tabah’ membiarkan mereka saling bunuh, saling penggal. Kalian pengusung jurnalisme tanpa malu senang melihat orang-orang menghina para pemimpinnya. Kalian sangat mampu mengulangi tragedi sejarah yang sangat memilukan itu. Dan bangsa ini tak lagi punya sisa tenaga untuk membangun dirinya, mengimbangi kemajuan bangsa-bangsa lain.

Engkau mungkin tersenyum nyinyir melihat Bunda Pertiwi menangis karena anak-anaknya saling mengumbar kebencian dan menumpahkan darah. Maafkan kami, Bunda Pertiwi, yang telah keluar dari kodrat kehalusan budi bahasamu.

Meski tulisan ini telah lama dan konteksnya saat terjadi Pilpres 10 tahun lalu, namun tak ada salahnya untuk jadi renungan bagi kita semua, pembaca, insan pers dan terkhusus Tempo. Salam!