Oleh: Ismawan Amir
(Sekbid PP IKA UNHAS
Perdagangan LN)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu momen di tahun 2025 yang paling membekas bagi saya adalah ketika mendapat kesempatan hadir di WorldFood Istanbul 2025.

Begitu memasuki arena pameran, atmosfernya langsung terasa berbeda. Peserta datang dari berbagai negara. Buyer dan distributor hilir-mudik dengan agenda yang padat. Produk pangan dari banyak penjuru dunia ditata rapi, dipresentasikan dengan serius, dan diperbincangkan dengan bahasa bisnis yang lugas. Saat itu saya sadar, ini bukan sekadar pameran—ini adalah etalase besar perdagangan global.

Di tengah riuhnya percakapan dan transaksi, saya datang membawa satu cerita yang sangat Indonesia: rempah-rempah. Utamanya vanili dan kayu manis. Dua komoditas yang bagi kita mungkin terdengar akrab, tetapi di pasar internasional nilainya tinggi dan kebutuhannya terus tumbuh. Di sana saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa rempah bukan hanya soal rasa, melainkan soal standar kualitas, kesinambungan pasokan, dan reputasi.

Pengalaman ini menjadi semakin bermakna karena kehadiran saya difasilitasi oleh KJRI Istanbul. Dukungan tersebut membuka ruang jejaring yang lebih luas, mempertemukan saya dengan pihak-pihak yang benar-benar memiliki minat dan kebutuhan pada produk komoditas. Bukan pertemuan basa-basi, melainkan percakapan yang konkret: kebutuhan volume, spesifikasi mutu, hingga peluang kerja sama jangka panjang.

Sebagai Pengurus PP IKA Unhas, saya melihat peluang ini sangat besar bagi alumni Unhas. Pasar rempah bukan pasar kecil—ini pasar dunia. Dan saya percaya, jika kita serius menggarapnya dari hulu ke hilir, dari kualitas hingga konsistensi pasokan, maka rempah Indonesia bukan hanya bisa ikut bersaing, tetapi naik kelas dan berdiri sejajar di panggung global.

Momentum ini juga saya lihat sebagai pintu nyata bagi alumni Unhas untuk ikut mengambil peran lebih besar di tahun 2026. Jika di 2025 saya datang untuk melihat langsung peta pasar dan standar yang diminta buyer global, maka 2026 adalah kesempatan untuk hadir dengan persiapan yang lebih matang—produk yang lebih siap, cerita asal-usul yang lebih kuat, dan jejaring yang sudah mulai terbangun. Bila alumni Unhas bergerak bersama, kehadiran di WorldFood Istanbul tidak lagi menjadi pengalaman individual, melainkan langkah kolektif membawa komoditas Indonesia menembus pasar dunia.

Bagi saya, WorldFood Istanbul 2025 pengingat yang kuat bahwa rempah Indonesia punya masa depan. Tinggal bagaimana kita menyiapkan diri, menyatukan langkah, dan benar-benar menjemput peluang itu. (*)