Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, rasanya tragedi tak lagi sekadar peristiwa. Ia menjelma tontonan. Bencana alam, kecelakaan, bahkan kematian, berpindah dari lokasi kejadian ke genggaman tangan dalam hitungan detik. Kamera lebih cepat dari doa. Jempol lebih sigap daripada empati. Sebelum air mata mengering, sebelum jenazah ditutup kain kafan, rekaman sudah beredar, dikomentari, dan dibagikan.

Kita hidup dalam zaman ketika penderitaan orang lain hadir sebagai notifikasi. Getaran ponsel mengabarkan duka, tapi sering kali tanpa jeda untuk merenung. Di sinilah tragedi mengalami transformasi dari peristiwa kemanusiaan menjadi komoditas perhatian. Algoritma tak mengenal belas kasih. Ia hanya mengenal keterlibatan. Semakin tragis, semakin viral. Semakin memilukan, semakin mengundang klik.

Bencana, pada hakikatnya, adalah ujian kolektif. Ia menyingkap solidaritas, sekaligus membuka tabir etika kita. Saat gempa mengguncang, banjir meluap, atau kecelakaan merenggut nyawa, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya apa yang terjadi, melainkan bagaimana seharusnya kita hadir. Namun, ruang digital kerap menggeser pertanyaan itu menjadi: sudahkah saya membagikannya?

Di sinilah batas antara empati digital dan voyeurisme sosial menjadi kabur. Empati digital lahir dari niat menghadirkan kepedulian, mengabarkan agar bantuan datang, menyebarkan informasi agar kewaspadaan tumbuh, menguatkan agar harapan tetap menyala. Sebaliknya, voyeurisme sosial menjadikan penderitaan sebagai objek konsumsi: ditonton tanpa tanggung jawab, dibagikan tanpa izin batin, dikomentari tanpa kesadaran akan duka dan luka yang muncul.

Kamera, dalam banyak peristiwa, berdiri lebih dekat daripada tangan penolong. Lensa merekam tubuh yang terkapar, wajah yang kehilangan, jerit yang belum sempat menjadi doa. Ada paradoks di sana. Bahwa teknologi yang seharusnya mendekatkan kemanusiaan justru berpotensi menjauhkan nurani. Ada yang lupa bahwa di balik setiap gambar ada keluarga yang berduka, ada martabat yang perlu dijaga, ada kesakralan yang pantas dihormati.

Etika berbagi menjadi kata kunci yang sering terucap, namun jarang direnungkan. Berbagi bukan sekadar memindahkan konten dari satu layar ke layar lain. Ia adalah tindakan moral. Setiap klik memiliki konsekuensi. Setiap unggahan membawa dampak. Pertanyaannya sederhana, tapi mendalam: apakah yang kita bagikan menolong, atau hanya memuaskan rasa ingin tahu?

Dalam tradisi kemanusiaan dan keagamaan, duka adalah ruang hening. Doa mendahului cerita. Empati hadir sebelum narasi. Namun, di ruang digital, urutannya kerap terbalik. Cerita mendahului doa, sensasi mengalahkan simpati. Kita lupa bahwa tidak semua yang bisa direkam pantas ditayangkan, dan tidak semua yang viral layak disebarkan.

Media, warga, dan platform memikul tanggung jawab bersama. Jurnalisme ditantang untuk tetap manusiawi di tengah tuntutan kecepatan. Warga dituntut dewasa dalam bermedia. Platform seharusnya tak abai pada dampak kemanusiaan dari algoritma yang mereka ciptakan. Tragedi bukan panggung hiburan. Ia adalah panggilan nurani.

Pada akhirnya, yang  diperlukan bukanlah larangan membagikan, melainkan kesadaran untuk menghadirkan makna. Menunda sejenak sebelum menekan tombol share. Bertanya pada hati sebelum menyebarkan. Mengembalikan doa ke tempatnya yang pertama, sebelum kamera, sebelum komentar.

Sebab tragedi akan selalu datang sebagai ujian. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita menyaksikannya, melainkan bagaimana cara kita menjadi manusia saat menyaksikan penderitaan orang lain. Di situlah martabat kita diuji. Bukan oleh apa yang kita lihat, tetapi oleh apa yang kita lakukan setelah melihat.

Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban”