Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada manusia yang merasa memiliki, padahal ia hanya dipinjami. Ada yang merasa berkuasa, padahal ia sedang diuji oleh kuasa yang lebih tinggi.

Di tengah riuh perebutan tahta, jabatan, pengaruh, dan popularitas, Al-Qur’an menurunkan satu kalimat yang meruntuhkan kesombongan:
Al-Qur’an, surah Ali ‘Imran ayat 26–27, Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik segala kerajaan. Engkau beri kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Ayat ini bukan sekadar deklarasi teologis. Ia adalah revolusi kesadaran.
Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah adalah Malik al-Mulk, Pemilik mutlak seluruh kekuasaan. Tidak ada raja yang berkuasa tanpa izin-Nya. Tidak ada penguasa yang tumbang kecuali dengan keputusan-Nya. Sejarah peradaban hanyalah lembaran-lembaran kecil dari kehendak besar-Nya.
Sementara itu, Al-Razi dalam tafsirnya menekankan bahwa pemberian dan pencabutan kekuasaan adalah bentuk tarbiyah ilahiah. Pendidikan Tuhan bagi manusia, agar mereka tidak menyembah tahta, tidak mengultuskan dunia.
Namun para sufi membaca ayat ini lebih dalam.
Menurut Ibn ‘Arabi, kerajaan yang dimaksud bukan hanya kekuasaan politik, tetapi juga kerajaan batin. Ada manusia yang menjadi raja atas nafsunya, dan ada yang diperbudak oleh hasratnya sendiri. Ketika Allah mencabut “kerajaan”, bisa jadi yang dicabut adalah ego yang selama ini bersemayam di singgasana hati.
Bukankah kehinaan terbesar bukanlah kehilangan jabatan, tetapi kehilangan cahaya nurani?
Ayat ini juga menegaskan: “Bi yadikal khair” — Di tangan-Mu segala kebaikan. Menariknya, Allah tidak menyebut keburukan berada di tangan-Nya, meski secara akidah segala sesuatu terjadi atas izin-Nya. Para ulama seperti Al-Ghazali menjelaskan bahwa seluruh ketetapan Allah pada hakikatnya mengandung hikmah dan kebaikan, meski tidak selalu dipahami oleh akal manusia yang terbatas.
Dalam perspektif sufistik, kehinaan bisa menjadi jalan kemuliaan. Kehilangan bisa menjadi gerbang perjumpaan. Dicabutnya kekuasaan bisa menjadi pembebasan dari ilusi kepemilikan.
Ayat berikutnya (27) menggambarkan Allah memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam, mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan sebaliknya. Pergantian itu bukan sekadar fenomena kosmik, tetapi simbol kehidupan. Tidak ada keadaan yang abadi. Siang kekuasaan akan berganti malam keterbatasan. Dan dari malam itulah, sering lahir fajar kesadaran.
Bagi yang sedang berkuasa, ayat ini adalah cermin agar tidak mabuk.
Bagi yang kehilangan, ayat ini adalah pelipur agar tidak runtuh.
Bagi yang terhina, ayat ini adalah janji bahwa kemuliaan bukan monopoli dunia.
Sebab sejatinya, manusia bukan pemilik apa pun. Ia hanya pengelola sementara dalam kerajaan yang tak pernah benar-benar ia kuasai.
Di hadapan Malik al-Mulk, semua mahkota hanyalah debu.
Semua singgasana hanyalah bayang.
Dan yang abadi hanyalah Dia, MALIK AL-MULK.
___________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”