Oleh: ๐ฆ๐๐ณ ๐๐ฎ๐๐บ๐ฎ๐ป
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
๐๐ฐ๐ด๐ฆ๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ถ๐ญ๐ต๐ข๐ด ๐๐ข๐ฌ๐ธ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ด๐ช ๐๐๐ ๐๐ญ๐ข๐ถ๐ฅ๐ฅ๐ช๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ด๐ข๐ณ
MALAM itu, di bawah kubah Masjid IMMIM, saya berdiri memikul amanah tidak ringan. Bersanding dengan seorang jenderal, Mayjen TNI (Purn.) A. Muh. Bau Sawa Mappanyukki, saya justru memilih judul yang mungkin membuat jamaah terdiam:ย โDi Masjid Ada Dosa.โ
Masjid selama ini dipandang semata ladang pahala. Padahal, di tempat sujud itu pula dosa kerap bersembunyiโhalus, samar, dianggap remeh.
Tausiyah tarawih malam ke-9 saya awali dengan menggugat rasa aman semu.
Banyak orang merasa, begitu melewati ambang pintu masjid, seluruh noda tertinggal di luar. Seakan-akan ruang sakral otomatis menyucikan diri. Padahal justru di sana pelanggaran kecil sering dimaafkan oleh hati sendiri.
Masjid tidak selalu menjadi tempat mendulang amal. Ia bisa berubah menjadi ladang dosa ketika hak Allah dan hak sesama diabaikan.
Keresahan saya memuncak melihat lunturnya wibawa rumah ibadah akibat residu kepentingan dunia.
Masjid dijadikan ruang diskusi bising, tempat berselisih, bahkan arena praktik terlarang seperti jual beli dan pengumuman barang hilang.
Lebih memilukan lagi, ada yang โmenyerbuโ mimbar dengan dalih tabligh, namun berujung meminta-minta. Ceramah dibungkus misi kemanusiaan, tetapi menjelma etalase proposal. Mimbar bukan pasar empati. Rumah Tuhan bukan panggung komoditas.
Kita ingin dekat dengan Allah, tetapi tega melukai hamba-Nya.
Ego spiritual pun tumbuh di barisan shalat. Ambisi mengejar shaf terdepan membuat seseorang melangkahi pundak saudaranya, bahkan berjalan ‘Majjulekka’ di depan orang sujud. Kebaikan berubah cacat ketika adab diinjak.
Dosa juga lahir dari niat baik yang salah tempat. Mengeraskan bacaan Al-Qurโan di samping orang shalat mungkin terasa ibadah, tetapi bisa merampas kekhusyukan.
Mengobrol saat khotbah sementara berlangsung, membiarkan ponsel berdering ketika jamaah tenggelam dalam kekhusyukanโsemua itu bukan sekadar lalai, melainkan gangguan terhadap hak orang lain menyimak pesan langit.
Lebih dalam lagi, dosa muncul dari sikap meremehkan kehadiran Sang Khalik. Datang dalam keadaan tidak bersih, membawa bau ‘Kalimpau’ menyengat.
Jika menghadap pejabat saja kita sanggup tampil rapi dan harum semerbak mewangi, mengapa menghadap Raja segala raja justru tanpa adab?
Ini bukan soal estetika. Ini soal hormat. Dan pelanggaran adab adalah benih keangkuhan.
Ramadhan seharusnya melembutkan jiwa. Jika di dalam masjid saja kita masih melanggar hak-hak-Nya, jangan-jangan ibadah hanya menggugurkan kewajiban, bukan menumbuhkan kesadaran.
Saya pun mengingatkan diri sendiri sebelum mengingatkan orang lain.
Jangan sampai rumah sujud ini berdiri di hari kiamat bukan sebagai saksi pahala, tetapi saksi gugatan.
Menuntut kita atas adab yang diremehkan.
Atas dosa-dosa kecil yang dianggap sepi.
๐๐๐บ๐ฎ๐, ๐ต ๐ฅ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ฑ๐ต๐ฎ๐ป ๐ญ๐ฐ๐ฐ๐ณ ๐/๐ฎ๐ณ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฟ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ.
๐ฆ๐
