๐๐ฅ๐๐ก: ๐ฆ๐๐ณ ๐๐ฎ๐๐บ๐ฎ๐ป
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
๐๐ฐ๐ด๐ฆ๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ถ๐ญ๐ต๐ข๐ด ๐๐ข๐ฌ๐ธ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ด๐ช ๐๐๐ ๐๐ญ๐ข๐ถ๐ฅ๐ฅ๐ช๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ด๐ข๐ณ
MEMASUKI hari kedua belas Ramadhan, suasana batin seharusnya semakin tenang, menyatu dengan napas ibadah. Namun, di beberapa sudut temuan saya, kekhusyukan itu justru sering kali bercampur kebisingan.
Hal bersifat mengganggu sebenarnya bisa dihindari demi menjaga marwah syiar Islam itu sendiri. Lahir dan besar di lingkungan masjid, saya merasakan betul bagaimana kepekaan sosial tengah diuji di tengah bulan suci Ramadhan ini.
Mari pertegas sejak awal: persoalan bukan seruan azan berkumandang. Azan adalah syiar, panggilan suci, penanda masuknya waktu ibadah shalat. Tidak ada keberatan terhadap itu. Identitas Islam tak layak diperdebatkan.
Namun, ganjalan bagi sebagian besar orang adalah aktivitas tadarus Al-Qurโan hingga larut malam menggunakan Toa pengeras suara luar. Volumenya dipasang seolah hendak menjangkau seluruh penjuru galaksi.
Bayangkan saja, jam sudah menunjuk angka 22.00 malam, tadarus masih menggema kencang. Lalu pukul 03.00 dini hari, mikrofon sudah kembali aktif. Ayam pun bangun berkokok pertanda kaget, mengira fajar tiba lebih awal.
Andai komunitas ayam pandai berunjuk rasa, mungkin mereka sudah turun ke jalan saking kagetnya dipaksa bangun sebelum waktunya.
Saya pernah mendengar seorang warga berujar pelan, โ๐๐ข๐บ๐ข ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ซ๐ช๐ฅ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ณ ๐ณ๐ฆ๐ญ๐ช๐จ๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ซ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ข๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ.โ
Di sinilah kearifan Islam sebagai ๐๐ข๐ฉ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ญ๐ช๐ญ ‘๐๐ญ๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ seharusnya mewujud nyata. Di sekitar masjid ada orang sakit, bayi baru terlelap, hingga lansia butuh istirahat.
Saya pernah menyaksikan pemandangan unik; dua masjid berdiri berdampingan sangat dekat, sekitar lima meter, hanya dipisahkan tembok pembatas. Moncong speaker keduanya saling berhadapan, persis formasi tawuran antar kompleks.
Imam masjid A baru sampai pada bacaan โ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฅ๐ฅ๐ฉ๐ฐ๐ญ๐ญ๐ช๐ช๐ช๐ฏโ, jemaah masjid B sempat ada menyahut โ๐๐ฎ๐ช๐ช๐ช๐ช๐ฏ๐ฏโ saking sulitnya membedakan asal bunyi speaker.
Bagi saya, ini bukan lagi syiar, tapi bagai kompetisi โmerek Polytron dan JBLโ amat menjengkelkan. Saya sampai membatin, ini azan atau ajang balapan MotoGP? Satu baru mau ๐ด๐ต๐ข๐ณ๐ต, satu lagi sudah ๐ง๐ช๐ฏ๐ช๐ด๐ฉ duluan.
Malah, di pertengahan Ramadhan ini, ada kejadian menggelikan: satu masjid sudah tanda buka ditandai kumandang azan, masjid sebelahnya masih hening.
Mungkin tukang azannya sibuk menghabiskan lima biji ๐๐ฐ๐ฌ๐ฐโ-๐๐ฐ๐ฌ๐ฐโ ๐๐ฏ๐ต๐ช dulu baru melaksanakan tugasnya. ๐๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ช ๐๐ข๐ถ ๐๐ข๐ฑ๐ฑ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฆ!
Jangan sampai ibadah diniatkan sebagai pahala justru berubah menjadi keluhan sosial. Solusinya tidak rumit; atur volume secara proporsional. Gunakan speaker luar hanya untuk azan dan pengumuman penting.
Perbaiki perangkat sudah uzur agar suara tidak pecah menyerupai bunyi Traktor Kubota-nya H, Mammaโ.
Saya menyarankan, silakan gaji anak muda bersuara merduโmereka mahir meniru indahnya lantunan azan di televisiโuntuk bertugas mengumandangkan keindahan Ramadhan.
Untuk kakek-kakek berusia 60-an tahun, berilah mereka kemuliaan untuk istirahat dulu. Biarlah mereka fokus menjadi jemaah khusyuk menikmati masa tua tanpa beban mikrofon.
Langkah ini jauh lebih baik daripada memaksakan suara tidak selaras dengan teknologi audio masa kini. Pernah saya mendengar seseorang azan dan refleks tertawa.
Suaranya mirip motor trail โ๐๐ฐ๐ญ๐ข ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ-๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จโ. Bukannya bikin rindu masjid, suara begitu malah bikin orang kaget.
Ramadhan seharusnya menghadirkan keteduhan, bukan kebisingan memicu resistensi. Ibadah paling indah adalah rahmat bagi semesta, bukan gema memekakkan telinga.
Melalui Lensa Ramadhan ini, kesalehan kita benar-benar diuji; bukan lewat volume Toa, melainkan kemampuan menyejukkan hati.
๐๐๐ง๐ข๐ง, ๐๐ ๐๐๐ฆ๐๐๐ก๐๐ง ๐๐๐๐ ๐ / ๐ ๐๐๐ซ๐๐ญ ๐๐๐๐ ๐
