Penulis : Muliadi Saleh – Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ada semacam panggilan hati yang pelan-pelan menghidupkan kembali hubungan manusia dengan kitab sucinya. Mungkin di banyak rumah, di rak-rak kayu yang selama berbulan-bulan hanya menjadi tempat singgah mushaf, Al-Qur’an kembali diambil, dibuka, dan disentuh dengan khidmat. Debu tipis yang mungkin menempel seakan menjadi saksi bahwa kitab itu pernah lama terdiam, menunggu dibaca kembali.
Kini lembar demi lembar terbuka.
Ayat-ayat ditatap dengan mata yang perlahan basah oleh kekhusyuan membaca dan kesadaran baru. Dibaca pelan, kadang terbata, tetapi penuh niat untuk kembali akrab dengan firman Allah. Ramadan seolah menjadi musim ketika Al-Qur’an kembali hidup dalam kehidupan umat.
Di banyak tempat, suara bacaan Al-Qur’an terdengar nyaring. Dari masjid, musala, rumah-rumah kecil, hingga dari gawai yang memutar lantunan tilawah. Ada yang membaca sendiri setelah salat tarawih. Ada yang membacanya pada waktu sahur yang sunyi. Ada pula yang memilih waktu selepas subuh ketika cahaya pagi baru saja menyingkap langit.
Sebagian orang menata target. Satu juz setiap hari agar dalam tiga puluh hari Ramadan mereka dapat menamatkan tiga puluh juz Al-Qur’an. Ada pula yang lebih ambisius: dua kali khatam dalam sebulan. Namun ada juga yang memilih jalan yang lebih tenang. Mereka membaca tanpa tergesa, mengeja huruf demi huruf sambil memperbaiki tajwid dan makhraj. Bagi mereka, perjalanan membaca lebih penting daripada kecepatan menamatkan.
Di sejumlah masjid, tradisi tadarus berlangsung dalam lingkaran kecil. Orang-orang duduk melingkar setelah tarawih. Mushaf terbuka di pangkuan masing-masing. Bacaan bergiliran dari satu orang ke orang lain. Seorang ustaz membimbing, memperbaiki kesalahan, meluruskan panjang pendek bacaan. Di situ Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dipelajari dengan penuh kesabaran.
Ada pula yang membaca sambil memperhatikan terjemahnya. Setiap ayat yang selesai dibaca disusul dengan renungan makna. Sebagian lagi melangkah lebih jauh: membuka kitab tafsir, mendalami pesan yang tersembunyi di balik rangkaian kata ilahi. Ayat demi ayat tidak hanya dilantunkan, tetapi juga direnungi sebagai petunjuk hidup.
Cara membacanya pun beragam. Ada yang tetap setia pada mushaf cetak yang dipegang dengan kedua tangan. Ada pula yang membaca melalui layar gawai. Teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan teks, tetapi tidak mengubah hakikat kedekatan spiritual yang lahir dari bacaan itu.
Semua aktivitas itu pada hakikatnya adalah bentuk tadabbur—usaha manusia untuk menimbang, merenungi, dan menghidupkan kembali pesan Al-Qur’an dalam kesadaran mereka.
Ramadan menjadi semacam universitas spiritual terbuka, tempat jutaan orang belajar kembali membaca kitab yang selama ini mungkin hanya sesekali mereka buka.
Dalam tradisi Islam, Ramadan memang memiliki hubungan yang sangat intim dengan Al-Qur’an. Pada bulan inilah wahyu pertama kali diturunkan. Maka tidak mengherankan jika setiap Ramadan umat Islam seperti dipanggil pulang untuk kembali duduk di hadapan kitab sucinya.
Yang menarik, fenomena ini bukan sekadar ritual individual. Ia juga merupakan peristiwa kultural. Kota-kota dan desa-desa berubah menjadi ruang belajar Al-Qur’an yang luas. Suara tilawah menjadi musik spiritual yang mengalun di udara malam. Ia menandai bahwa di tengah dunia yang bising oleh algoritma, pasar, dan politik, masih ada ruang sunyi tempat manusia kembali mendengarkan firman Tuhan.
Namun pertanyaan pentingnya selalu sama setiap tahun: apakah kedekatan ini hanya berlangsung selama Ramadan?
Sering kali setelah bulan suci berlalu, mushaf kembali diletakkan di rak. Kesibukan dunia perlahan mengambil alih perhatian. Suara tilawah yang dulu nyaring mulai jarang terdengar.
Padahal Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk satu bulan dalam setahun. Ia adalah kitab kehidupan yang seharusnya menyertai perjalanan manusia sepanjang waktu. Ramadan sejatinya bukan sekadar musim membaca, melainkan momentum membangun kembali kebiasaan yang lebih panjang. Kebiasaan bergaul dengan wahyu.
Mungkin itulah hikmah paling dalam dari suasana Ramadan yang penuh tilawah. Ia mengingatkan manusia bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, selalu ada satu kitab yang menunggu untuk dibuka kembali lembar demi lembar agar hati tidak kehilangan arah.
Semoga kebiasaan yang tumbuh selama Ramadan ini tidak berhenti ketika bulan suci berlalu. Semoga mushaf yang kini terbuka tidak kembali lama terdiam di rak-rak rumah kita.
Sebab di setiap ayat yang dibaca dengan hati yang hidup, selalu ada kemungkinan bagi manusia untuk menemukan kembali dirinya. (*)
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”
