๐—ข๐—น๐—ฒ๐—ต: ๐—ฆ๐˜‚๐—ณ ๐—ž๐—ฎ๐˜€๐—บ๐—ฎ๐—ป

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

DI MALAM tujuh belas Ramadan ini aku berdiri di mimbar dengan getaran berbeda.

Di hadapanku hadir Bupati Sidrap bersama jajaran perangkat daerah. Namun dalam pandanganku, semuanya hanyalah hamba berteduh di bawah payung wahyu yang sama.

Tausiah Nuzulul Qurโ€™an ini bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan pengingat tentang hikmah turunnya Al-Qurโ€™anโ€”saat firman Ilahi jatuh laksana hujan membasahi tanah jiwa yang tandus.

Mengingat peristiwa agung itu, pikiranku melayang ke Gua Hira di Jabal Nur, tempat yang pernah kumasuki pada 1997.

Pintu masuknya hanya celah sempit di antara dua batu besar. Untuk melewatinya, tubuh harus dimiringkanโ€”kadang bahkan merangkakโ€”karena lorongnya begitu sempit.

Ruang di dalam gua hanya sekitar tiga meter panjangnya dan sekitar 1,6 meter lebarnya. Tak mengherankan jika para peziarah sering berjubel dan saling berdesakan demi merasakan sejenak tempat turunnya wahyu pertama itu.

Di sanalah Malaikat Jibril datang membawa perintah pertama:

โ€œIqraโ€™!โ€ โ€” Bacalah!

Padahal sejarah mencatat Nabi Muhammad SAW tidak pandai membaca.

Pertanyaan pun muncul: apakah Jibril tidak tahu bahwa Beliau tidak bisa membaca?
Apakah Sang Maha Kuasa tidak mengetahui utusan-Nya itu buta huruf?
Mengapa seseorang yang tidak pernah belajar membaca justru diperintah membaca?

Dalam logika manusia, jika orang tak bisa membaca disuruh membaca, bukankah itu tampak seperti penghinaan?

Namun jawaban Beliau kala itu terekam oleh zaman:

โ€œAku tidak pandai membaca.โ€

Rasulullah SAW, sosok sepanjang hidup dikenal tidak pernah berdusta. Kejujuran inilah kunci penting.

Orang-orang di sekelilingnya tentu bertanya: jika Beliau tidak dapat membaca dan menulis, lalu dari mana datangnya Al-Qurโ€™an?

Andaikan Nabi SAW pandai membaca dan menulis, mungkin orang akan mengklaim Al-Qurโ€™an sebagai karya Muhammad.

Di sinilah cara Tuhan menjaga kemurnian wahyu-Nyaโ€”agar tak ada celah bagi manusia menuduh kitab suci ini sebagai karangan manusia.

Keajaiban besar Al-Qurโ€™an ialah kemampuannya menjaga diri sendiri. Siapa pun mencoba memalsukannya, Al-Qurโ€™an akan memperlihatkan keaslian dan menolak kepalsuan itu.

Karena itulah bacaan Rasulullah SAW dan para sahabat lebih dari 1.400 tahun lalu tetap sama dengan bacaan kita hari ini.

Sejarah mencatat Musailamah Al-Kazzab pernah mencoba meniru ayat-ayat Tuhan. Namun usahanya justru berakhir sebagai bahan tertawaan karena kepalsuannya tampak begitu nyata.

Memang, di dunia ini banyak hal palsu. Namun jangan sampai kepalsuan masuk ke ranah ibadah.

Aku teringat kisah seorang dokter gigi dan pasiennya:

Suatu hari dokter memasangkan gigi palsu kepada seorang pasien. Prosesnya lama: ukur sana, cetak sini, bor sedikit, pasang sedikit.

Akhirnya gigi baru itu terpasang rapi. Pasien tersenyum lebarโ€”senyum baru, rasa baru, hidup baru. Tadinya โ€˜Cakkeppoโ€™, kini cakep!

Saat membayar, ia menyerahkan beberapa lembar uang. Dokter menerimanya dengan puas.

Namun tak lama setelah pasien pulang, dokter baru sadar: uang itu palsu.

Dokter langsung menelepon dengan nada tinggi.

โ€œKenapa Anda membayar saya dengan uang palsu?โ€

Pasien menjawab santai sekali,

โ€œLho, dokโ€ฆ kita impas. Anda memberi saya gigi palsu, maka saya memberi Anda uang palsu.โ€

Ada pula anekdot indah tentang seorang kakek yang menyuruh cucunya mengambil air dari sungai menggunakan ember bocor.

Tentu saja ia tidak berhasil membawa setetes pun air ke rumah. Setelah beberapa kali mencoba, sang kakek berkata lembut,

โ€œLihatlah ember itu. Tadinya kotor, tetapi setelah dilewati air berkali-kali, ia menjadi bersih.โ€

Begitulah hati manusia saat membaca Al-Qurโ€™an.

Mungkin lisan tidak selalu memahami maknanya. Mungkin ingatan sering lupa. Namun ayat-ayat itu perlahan membersihkan jiwa dari kerak duniawi.

Usai tausiah, panitia masjid mengajakku menikmati hidangan khas: nasu palekkoโ€™.

Hidangan pedas khas Bugis itu terasa nikmat setelah malam panjang penuh renungan.

Subuhnya, pembahasan tentang Nuzulul Qurโ€™an kembali dilanjutkan bersama jamaah.

Setelah itu aku bertolak pulang ke Kota Daeng, ditemani rintik hujan sepanjang jalan.

๐—ฆ๐—ฎ๐—ฏ๐˜๐˜‚, ๐Ÿญ๐Ÿณ ๐—ฅ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ฑ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐Ÿญ๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿณ ๐—›/ ๐Ÿณ ๐— ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐˜ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ