Oleh Muliadi SalehEsais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada jejak-jejak kemajuan yang tidak tercetak di aspal kota. Tidak berkilau di menara kaca. Tidak selalu viral di ruang-ruang wacana. Ia justru tertinggal di pematang sawah, di telapak kaki petani yang pulang menjelang senja.  Di tangan-tangan yang kasar oleh lumpur namun tetap setia menanam kehidupan.

Jejak itulah yang hari ini terbaca terang dalam satu angka: Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Februari 2026 mencapai 125,45, tertinggi sepanjang sejarah.

Kenaikan 1,50 persen ini ditopang oleh lonjakan indeks harga yang diterima petani sebesar 2,17 persen, jauh lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,65 persen.
Secara ilmiah, ini adalah pertanda paling sahih bahwa daya beli petani menguat.

Pendapatan dari hasil sawah, kebun, peternakan, dan perikanan bertumbuh lebih cepat daripada beban biaya hidup dan ongkos produksi.

Tetapi dalam pembacaan yang lebih reflektif, angka itu sesungguhnya adalah jejak keberpihakan peradaban.

Ia menandai bahwa peluh petani mulai dihargai secara lebih adil.

Bahwa musim panen tidak lagi identik dengan kecemasan.

Bahwa kerja keras yang selama ini bertaruh pada cuaca, harga, dan nasib, perlahan mulai menemukan kepastian nilai.

NTP adalah statistik yang sederhana, tetapi sangat filosofis.

Ia mempertemukan dua sisi kehidupan agraris. Harga yang diterima dari hasil kerja dan harga yang harus dibayar untuk bertahan hidup serta kembali menanam.

Ketika rasio itu menembus 125,45, sesungguhnya yang sedang pulih bukan hanya keseimbangan ekonomi, tetapi harga diri negeri agraris itu sendiri.
Sebab bangsa ini terlalu lama memandang petani sekadar pelengkap rantai pangan, padahal merekalah akar dari keberlangsungan republik. Dari tangan mereka, beras hadir di meja makan, cabai menyala di dapur, dan kehidupan kota tetap bergerak tanpa menyadari betapa desa menjadi penyangga senyapnya.

Yang menarik, penguatan terbesar datang dari subsektor hortikultura dan komoditas strategis seperti cabai rawit, bawang merah, karet, serta kelapa sawit, yang memberi andil besar pada kenaikan indeks harga yang diterima petani.

Di balik data itu, ada perubahan suasana sosial yang nyaris puitis.
Warung desa kembali ramai.
Jasa angkut hasil panen hidup.
Pasar tradisional berdetak lebih cepat.
Percakapan di gardu-gardu kampung tak lagi dipenuhi keluh, tetapi mulai menyimpan optimisme tentang musim berikutnya.

Ketika petani sejahtera, desa tidak sekadar bertahan—desa membangun martabatnya sendiri.

Inilah yang sering luput dari pembacaan ekonomi makro. Satu kenaikan NTP sesungguhnya memantik gelombang sosial yang luas. Daya beli keluarga meningkat, pendidikan anak menjadi lebih terjamin, alat produksi bisa diperbarui, dan anak-anak muda desa mulai melihat tanah sebagai masa depan, bukan simbol keterbelakangan.
Di sanalah jejak memuliakan petani menjadi nyata.

Bukan dalam slogan, tetapi dalam angka yang terasa hingga ke dapur rumah-rumah desa.

Namun kejernihan berpikir menuntut satu catatan penting. Rekor ini harus dibaca bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai pijakan awal. Harga pupuk, efisiensi distribusi, modernisasi irigasi, teknologi pascapanen, dan kepastian harga di tingkat petani harus tetap dijaga agar senyum itu tidak berhenti sebagai euforia statistik.
Sebab memuliakan petani bukan pekerjaan satu musim.

Ia adalah arsitektur kebijakan dan etika kebangsaan.

Pada akhirnya, sebuah negeri agraris disebut bermartabat bukan karena luas sawahnya, tetapi karena kemampuannya mengembalikan kehormatan kepada orang-orang yang menghidupi sawah itu.
Dan ketika NTP mencetak rekor, kita seperti sedang membaca pesan paling jujur dari tanah.

Bahwa peluh mulai menemukan nilainya.

Bahwa panen kembali menghadirkan harapan, dan bahwa Indonesia perlahan sedang pulang kepada jati dirinya sebagai bangsa yang besar karena menghormati akar kehidupannya.
Jejak memuliakan petani itu kini nyata.
Ia tertulis di angka 125,45, tetapi gema terdalamnya hidup pada senyum sederhana para penjaga pangan bangsa. (*)

Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”