Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitektur Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saya mengawali narasi ini dengan sebuah pertanyaan mendasar. Mengapa Bangsa Besar Selalu Memulai dari Gizi Anak-Anaknya?
Sejarah bangsa-bangsa maju memperlihatkan satu pola yang nyaris sama. Bahwa mereka membangun manusia unggul bukan dari slogan besar, melainkan dari kebijakan yang tekun merawat tubuh, akal, dan karakter anak-anaknya sejak dini. Salah satunya adalah program makan bergizi di sekolah.
Di Indonesia, Makan Bergizi Gratis (MBG) baru saja memulai langkah panjangnya. Di tengah perdebatan anggaran, kritik teknis, hingga skeptisisme publik, sesungguhnya program ini sedang menanam sesuatu yang jauh lebih besar yaitu pondasi kualitas bangsa.
Untuk membaca masa depan MBG secara jernih, kita perlu mengambil hikmah dari negara lain yang telah menempuh jalan serupa.
Jepang adalah contoh paling utuh. Program kyushoku yang dimulai sejak 1889 dan diperkuat melalui undang-undang pada 1954 bukan hanya memberi makan, tetapi menjadikan makan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan. Anak-anak belajar gizi, kebersihan, disiplin, kerja sama, rasa syukur, hingga tanggung jawab membersihkan peralatan makan bersama. Bahkan lebih dari 99% sekolah dasar negeri di Jepang menjalankan sistem ini.
Dari Jepang kita belajar satu hal penting bahwa MBG tidak boleh berhenti sebagai distribusi makanan, tetapi harus naik kelas menjadi pendidikan karakter berbasis pangan.
Indonesia bisa mengadopsi model ini dengan menjadikan waktu makan sebagai ruang belajar kedua. Guru tidak hanya mendampingi, tetapi menjelaskan asal bahan pangan lokal, manfaat gizinya, hingga nilai budaya di balik makanan nusantara. Anak-anak bukan hanya makan, tetapi belajar menghargai petani, nelayan, alam, dan kerja kolektif bangsa.
Amerika Serikat memberi pelajaran lain. Melalui National School Lunch Program yang berjalan sejak 1946, AS menunjukkan pentingnya kerangka regulasi yang kuat, pendanaan jangka panjang, dan evaluasi berkelanjutan. Program besar tidak bisa hanya bertumpu pada semangat politik sesaat. Ia harus ditopang oleh sistem data, standar keamanan pangan, audit mutu, dan pengawasan lintas lembaga.
Ini menjadi masukan penting bagi Indonesia.
MBG harus berbasis tata kelola digital yang transparan, dari dapur hingga meja siswa.
Setiap rantai pasok perlu dapat ditelusuri: siapa pemasoknya, bagaimana kualitas bahan bakunya, bagaimana penyimpanan dilakukan, dan bagaimana standar higienitas dipastikan. Dengan wilayah Indonesia yang sangat luas, digitalisasi pengawasan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.
Korea Selatan memberi pelajaran yang tidak kalah penting berupa kesabaran kebijakan lintas generasi. Program makan sekolah mereka dimulai sebagai bantuan pascaperang tahun 1953, dilembagakan pada 1981, lalu baru mencapai cakupan penuh seluruh jenjang pendidikan pada 2012. Artinya, negara maju pun memerlukan puluhan tahun untuk mematangkan sistemnya.
MBG tidak mungkin sempurna dalam satu atau dua tahun. Ia membutuhkan fase belajar, uji sistem, adaptasi wilayah, perbaikan menu, serta penguatan kapasitas dapur layanan. Yang terpenting adalah konsistensi arah, bukan kesempurnaan instan.
Pelajaran dari negara-negara tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan program makan bergizi selalu bertumpu pada empat pilar utama:
Pertama, standar gizi yang ketat.
Menu harus dirancang ahli gizi dengan memperhatikan kebutuhan kalori, protein, zat besi, kalsium, dan mikronutrien sesuai usia.
Kedua, pendidikan karakter.
Makan menjadi media pembelajaran tentang disiplin, kebersihan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Ketiga, integrasi ekonomi lokal.
Bahan baku diprioritaskan dari petani, nelayan, UMKM, dan produsen pangan lokal sehingga MBG menjadi penggerak ekonomi desa.
Keempat, kesinambungan kebijakan.
Program ini harus melampaui pergantian rezim dan tetap menjadi agenda nasional lintas pemerintahan.
Bagi Indonesia, justru di sinilah peluang terbesarnya.
Bayangkan jika menu MBG di Sulawesi menggunakan ikan segar lokal, jagung, sayur kebun rakyat, telur dari peternak desa, dan buah dari kebun sekitar sekolah. Maka MBG tidak hanya menyehatkan anak, tetapi juga menghidupkan ekonomi rakyat dari hulu ke hilir.
Sepiring makan siang berubah menjadi ekosistem kesejahteraan.
Dari Jepang kita belajar disiplin.
Dari Amerika kita belajar sistem.
Dari Korea kita belajar kesabaran sejarah.
Dan dari Indonesia, kita harus belajar mengolah keberagaman menjadi kekuatan.
Karena sesungguhnya MBG bukan sekadar proyek pangan.
Ia adalah arsitektur kesadaran nasional, tempat negara menulis masa depan melalui tubuh anak-anaknya, melalui kebiasaan kecil yang diulang setiap hari, melalui gizi yang diam-diam menumbuhkan kecerdasan, dan melalui meja makan yang pelan-pelan membentuk karakter bangsa.
Sepiring nasi hari ini mungkin tampak sederhana.
Tetapi jutaan piring, setiap hari, selama puluhan tahun, dapat mengubah arah sejarah Indonesia.
_
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban
