Oleh Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Respon lambat, janji tak bertaji yang sepi bukti , kurang peka dan tak berani. bertindak. Itulah sederetan keluhan yang sering dialami rakyat ketika berinteraksi dan berdialog dengan pemimpin atau pemerintah. Rakyat lelah mendengar janji yang miskin bukti. Karena itu, ketika Menteri Pertanian langsung mengangkat telepon dan menindaklanjuti laporan mahasiswa di hadapan publik, banyak orang melihat sesuatu yang mulai langka dalam birokrasi kita. Di sana muncul kepekaan dan keberanian bertindak.
Peristiwa itu terjadi dalam Diskusi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia yang digelar di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026. Sekitar 118 perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah hadir membawa suara keresahan dari lapangan tentang bawang merah ilegal di Sumatera Utara hingga kelangkaan pupuk subsidi di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kalimat Mentan Amran terdengar keras, bahkan mengguncang: “Tidak boleh ada pembiaran!” Sebuah pernyataan yang sesungguhnya bukan sekadar kemarahan terhadap mafia pertanian, tetapi kritik terhadap budaya diam yang terlalu lama dipelihara dalam sistem kita. Sebab kejahatan yang dibiarkan perlahan akan berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang dipelihara negara, lambat laun akan menjadi nasib buruk rakyat kecil.
Forum dialog bersama mahasiswa itu mendadak berubah menjadi ruang pengawasan publik yang hidup. Laporan dugaan bawang merah ilegal di Sumatera Utara serta kelangkaan pupuk subsidi di NTB tidak berhenti sebagai bahan diskusi akademik. Saat itu juga, respons diberikan. Saat itu juga, koordinasi dilakukan. Bahkan Mentan Amran langsung mencoba menghubungi aparat penegak hukum terkait dugaan peredaran bawang merah ilegal yang merugikan petani lokal.
Di situlah publik melihat bahwa kekuasaan seharusnya bekerja cepat mendengar, cepat bergerak, dan berani bertindak.
Dalam dunia pertanian, mafia bukan sekadar istilah kriminal. Ia adalah bayangan gelap yang bermain di antara distribusi pupuk, impor ilegal, permainan harga, hingga penderitaan petani kecil. Ketika pupuk langka, yang paling dulu merasakan lapar bukan pejabat, tetapi petani desa yang sawahnya bergantung pada musim dan harapan.
Karena itu, respons cepat Mentan Amran bukan hanya soal administrasi pemerintahan. Ini menyangkut pesan moral bahwa negara tidak boleh kalah oleh permainan segelintir orang yang mengambil untung di atas kesulitan rakyat.
Menariknya lagi, keberanian itu hadir di ruang dialog dengan mahasiswa. Ini penting. Sebab demokrasi yang sehat bukan hanya tentang pemerintah yang bekerja, tetapi juga tentang keberanian generasi muda mengawasi kekuasaan. Mahasiswa hadir bukan sebagai musuh negara, melainkan penjaga kesadaran publik.
Apresiasi pun datang dari kalangan mahasiswa. Koordinator BEM SI Wilayah Sumatera Utara, Muzan Mirisan, menyampaikan penghargaan atas langkah cepat Mentan Amran yang langsung merespons laporan mahasiswa terkait bawang merah ilegal di Sumatera Utara. Menurutnya, langkah itu menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memberantas mafia yang merugikan petani daerah.
Hal senada juga disampaikan Muhammad Abdi Maludin, mahasiswa asal NTB yang melaporkan persoalan pupuk subsidi. Ia menilai respons cepat Mentan Amran menjadi bukti keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa dan persoalan rakyat di daerah.
Dan ketika kritik dijawab dengan tindakan, maka lahirlah kepercayaan.
Namun publik tentu berharap lebih dari sekadar respons spontan di depan kamera dan forum. Yang paling menentukan adalah keberlanjutan. Memastikan mafia benar-benar tak ada lagi. Pupuk benar-benar sampai ke tangan petani. Aparat bergerak setelah telepon itu ditutup.
Karena rakyat hari ini tidak hanya mendengar kata-kata. Mereka mengamati hasil.
Tetapi setidaknya, dari forum itu kita belajar satu hal penting bahwa kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang tidak alergi terhadap kritik, dan negara yang sehat adalah negara yang tidak membiarkan laporan rakyat membusuk di meja birokrasi.
Di tengah keraguan publik terhadap lambannya birokrasi, gerak cepat Mentan Amran menghadirkan harapan bahwa negara masih memiliki pejabat yang mau mendengar sebelum rakyat berteriak lebih keras. Sebab kadang, satu tindakan cepat yang lahir dari kepedulian jauh lebih bermakna daripada seribu janji yang hanya pandai menggema di podium kekuasaan. (*)
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”
