Oleh: ๐™Ž๐™ช๐™› ๐™†๐™–๐™จ๐™ข๐™–๐™ฃ

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

SAYA bukan pengamat sepak bola. Namun, saya selalu tertarik melihat bagaimana sebuah permainan mampu menggerakkan begitu banyak orang.

Belakangan ini, nama Lionel Messi hadir di banyak ruang percakapan: warung kopi, ruang rapat, grup WhatsApp, bahkan selepas shalat. Selalu muncul analis sepak bola dadakan.

Usai shalat Subuh di masjid dekat rumah saya (kompleks Bukit Baruga), Pak Asdar kerap berkumpul bersama rombongan Pak Asri. Suasana pun berubah menjadi ruang diskusi sepak bola.
Formasi Argentina dibedah, strategi pemain diulas, keputusan wasit diperdebatkan, seolah skor pertandingan ikut menentukan nasib dunia. “๐˜‹๐˜ฆ’๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฆโ€™” (tidak ada yang mau diam). Semua ingin ikut berkomentar.

Di tengah ramainya perdebatan, Ova tiba-tiba menyahut dengan wajah sangat serius, “๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜ช๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ. ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜›๐˜ช๐˜ฌ๐˜›๐˜ฐ๐˜ฌ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜‰๐˜ถ๐˜จ๐˜ช๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข”. Ucapan itu langsung mengundang tawa.

Begitulah cara mereka menikmati sepak bola. Penuh semangat, seru, dan kadang lebih ramai daripada pertandingan itu sendiri. Ada yang berbicara dengan data, ada yang mengandalkan pengalaman, dan ada pula yang cukup bermodal keyakinan. Namanya juga obrolan lepas.

Namun, sehebat apa pun sepak bola memukau jutaan pasang mata, pesonanya hanya berlangsung sembilan puluh menit.
Peluit panjang berbunyi, stadion lengang, kamera berhenti merekam, dan perbincangan perlahan mereda. Esok pagi, setiap orang kembali pada pekerjaan dan tanggung jawabnya. Sebab hidup tidak pernah ditentukan oleh siapa pemenang semalam.

Sebagai seorang Muslim, saya pun menikmati sepak bola. Saya mengagumi permainannya, menghormati kerja keras para pemain, dan sesekali larut dalam euforia kemenangan.

Namun, kiblat kehidupan bukanlah siapa paling piawai mengolah bola, melainkan siapa paling layak diteladani mengolah hidup. Di situlah Rasulullah SAW menjadi kompas utama, sementara sepak bola hanya cermin untuk membaca hikmah.

Saya sering merenungkan hal sederhana: mengapa hampir semua lapangan sepak bola dunia berwarna hijau? Lalu imajinasi mulai berlari. Bagaimana jika suatu hari FIFA membolehkan setiap negara mengecat rumput sesuai selera?

Kalau dibuat warna pelangi, mungkin sebelum babak pertama usai sebagian penonton sudah pulang dengan mata ๐˜ซ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ (mata nyaris juling), karena sibuk membedakan warna yang bertabrakan. Kalau hitam legam, stadion berubah seperti arena uji nyali stimulan ketakutan. Jika lapangan warna putih bersih, pertandingan bisa menjadi permainan petak umpet. Bola putih lenyap menyatu dengan rumput, sementara komentator hanya mampu berkata,
“Bolanya masih ada… hanya saja kami juga sedang mencarinya.”

Begitulah. Tidak semua hal menarik cocok ditempatkan di sembarang tempat. Ada harmoni. Karena itulah semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Keindahan bukan sekadar banyak warna, melainkan keselarasan yang tahu tempatnya.

Kisah Messi menyimpan pelajaran penting. Legenda tidak lahir dalam semalam. Di balik tepuk tangan penonton, ada ribuan jam latihan, cedera, kegagalan, dan ketekunan panjang. Sorotan kamera hanya menangkap kejayaan; perjuangan sering bekerja dalam diam.

Pelajarannya jelas: bakat membuka pintu, tetapi kerja keras membuat seseorang bertahan. Kesuksesan bukan hadiah bagi mereka yang sekadar mengandalkan kemampuan, melainkan buah dari disiplin, konsistensi, dan keberanian bangkit saat jatuh.

Dunia jauh lebih luas daripada stadion mana pun. Di sanalah pertandingan sesungguhnya berlangsung. Peluitnya tidak selalu terdengar, tetapi waktu terus berjalan. Di zaman serba cepat dan kompetitif, siapa berhenti belajar, enggan berusaha, atau memilih berjalan sendiri, akan tertinggal dari permainan.

Inilah makna “Taktik Messi” dalam kehidupan. Sepak bola mengajarkan kemenangan tidak dibangun oleh satu kaki, tetapi oleh tim yang saling percaya. Bahkan pemain sehebat Messi membutuhkan umpan, ruang, dan dukungan rekan setim untuk mencetak gol.

Jika sepak bola memiliki pelatih untuk menyusun taktik sembilan puluh menit, maka umat Islam memiliki warisan strategi kehidupan dari Rasulullah SAW melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Sebuah cetak biru kehidupan untuk meraih keberhasilan dunia sekaligus keselamatan akhirat.

Maka, tempatkan dunia sebagaimana mestinya: lapangan untuk berlatih, berjuang, dan mencetak gol-gol kebaikan. Nikmati pesonanya tanpa kehilangan arah. Tiru etos kerja dan daya juang dari siapa pun yang menginspirasi. Namun, Rasulullah SAW tetap menjadi teladan utama dalam menentukan langkah.

Sebab pertandingan hidup pun memiliki peluit akhir. Tidak ada tambahan waktu, tidak ada VAR untuk memperbaiki keputusan, dan tidak ada babak kedua. Hanya catatan amal sebagai bekal pulang.

Kemenangan terbesar bukan ketika nama dipuja penonton dunia, melainkan ketika kelak dipanggil dengan kemuliaan di hadapan Allah SWT.

Itulah trofi abadi: tidak berdebu, tidak direbut lawan, dan tidak lekang oleh waktu.

๐‰๐ฎ๐ฆโ€™๐š๐ญ, ๐Ÿ๐Ÿ• ๐‰๐ฎ๐ฅ๐ข ๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ” (๐’๐…)