Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
Judul Buku: Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara
Penulis: Rear Admiral TNI (Ret.) Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Sc., IPU., ASEAN Eng.
Editor: Lukman Yudho Prakoso
Penerbit: Karya Dosen Internasional, Banyumas
Cetakan: Pertama, Juli 2026
Tebal: xvi + 348 halaman
Ukuran: 15,5 × 23 cm
ISBN: 978–634–97147–9–2
Di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan global—mulai dari konflik geopolitik, perubahan iklim, gangguan rantai pasok internasional, pandemi, hingga ancaman siber—pemaknaan mengenai pertahanan negara mengalami transformasi yang signifikan.
Pertahanan tidak lagi dipersepsikan semata sebagai kekuatan militer atau kecanggihan persenjataan, melainkan juga mencakup kemampuan suatu bangsa menjaga keberlangsungan kehidupan rakyatnya.
Dalam konteks inilah buku Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara karya Abdul Rivai Ras memperoleh relevansinya. Buku ini menghadirkan sebuah perspektif yang menempatkan pangan bukan hanya sebagai kebutuhan dasar manusia, tetapi sebagai aset strategis yang menentukan ketahanan, kedaulatan, sekaligus masa depan negara.
Abdul Rivai Ras merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Laut yang mengawali perjalanan kariernya dari pengelolaan fasilitas pangkalan sebelum kemudian mengemban berbagai jabatan strategis di bidang pertahanan nasional.
Pengabdian Alumni Teknik Arsitektur Unhas ini mencakup posisi sebagai perencana strategis di Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan, penugasan di Sekretariat Militer Presiden, Staf Ahli Panglima TNI, Staf Ahli Bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, hingga dipercaya sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Laut.
Komitmennya dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan dan keamanan tercermin melalui berbagai pendidikan internasional yang diikutinya, antara lain program kepemimpinan keamanan nasional di Elliott School of International Affairs, George Washington University, pendalaman doktrin Innere Führung di Jerman, serta studi mengenai keamanan maritim komprehensif di Naval Postgraduate School, Monterey, dan Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies di Honolulu.
Di luar karier militernya, Rivai Ras juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian Universitas Pertahanan. Atas kontribusi tersebut, ia memperoleh Medali Kepeloporan dari Presiden Republik Indonesia. Memasuki tahun 2026, ia dipercaya memimpin PT Perkebunan Nusantara I sebagai Direktur Utama.
Pengalaman yang membentang di tiga ranah sekaligus—militer, akademik, dan korporasi agroindustri—membentuk perspektif yang khas dalam buku ini. Penulis mampu mengulas persoalan logistik dengan ketajaman seorang perwira staf, menjelaskan konsep dan teori dengan sistematika seorang akademisi, serta membahas komoditas pertanian dari sudut pandang praktisi bisnis.
Keseluruhan gagasan dalam buku ini disusun secara sistematis melalui sepuluh bab yang saling berkesinambungan. Empat bab pertama menjadi landasan konseptual yang membangun kerangka berpikir sebelum pembahasan berkembang ke isu-isu yang lebih aplikatif dan strategis.
Sejak bagian pengantar, penulis menegaskan bahwa dinamika geopolitik, perubahan iklim, pandemi, krisis energi, dan konflik global telah menjadikan pangan sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pertahanan nasional.
Keistimewaan buku ini terletak pada kemampuannya mengajak pembaca mengubah cara pandang terhadap konsep pertahanan negara. Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai pertahanan lebih sering didominasi oleh isu militer, kekuatan tempur, dan alutsista.
Abdul Rivai Ras justru menawarkan gagasan bahwa ancaman terbesar terhadap keberlangsungan sebuah bangsa dapat muncul dari kegagalan menjamin ketersediaan pangan.
Kelangkaan pangan tidak hanya memicu persoalan ekonomi, tetapi juga berpotensi melahirkan keresahan sosial, instabilitas politik, bahkan menggerus legitimasi pemerintah. Melalui perspektif tersebut, buku ini memperluas cakupan diskursus keamanan nasional ke wilayah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.
Penyajian materi disusun secara sistematis sehingga memudahkan pembaca mengikuti alur berpikir penulis. Pembahasan dimulai dari landasan konseptual mengenai pangan dan ketahanan nasional, kemudian berkembang menuju ancaman nonmiliter, sistem logistik, strategi swasembada, dinamika pangan global, Program Makan Bergizi Gratis, hingga arah pembangunan pangan berkelanjutan.
Susunan sepuluh bab tersebut menunjukkan bahwa buku ini dirancang sebagai karya akademik yang utuh dan komprehensif, bukan sekadar kumpulan gagasan yang berdiri sendiri.
Pada bagian awal buku, penulis menguraikan hubungan erat antara pangan dan keberlangsungan negara. Pangan diposisikan sebagai fondasi kehidupan masyarakat sekaligus salah satu unsur utama yang menentukan stabilitas nasional. Dengan merujuk pada berbagai literatur internasional seperti FAO, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Barry Buzan, hingga Hans Morgenthau, penulis memperlihatkan bahwa ancaman terhadap sistem pangan memiliki implikasi yang jauh melampaui sektor pertanian.
Krisis pangan mampu memicu kemiskinan, kriminalitas, konflik sosial, hingga pergolakan politik sebagaimana pernah terjadi dalam berbagai peristiwa sejarah dunia. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa keamanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keamanan nasional.
Nilai tambah lain dari buku ini adalah keberhasilannya mengontekstualisasikan teori dengan realitas Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah sangat luas, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelancaran distribusi pangan. Oleh sebab itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari kemampuan memproduksi hasil pertanian, melainkan juga dari efektivitas sistem logistik, cadangan strategis, distribusi antarpulau, hingga kemampuan mengantisipasi gangguan rantai pasok.
Penulis kemudian menghubungkan persoalan tersebut dengan konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta, yang menempatkan seluruh komponen bangsa sebagai bagian dari upaya mempertahankan negara.
Dalam kerangka ini, kementerian, TNI, Polri, pemerintah daerah, BUMN, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat dipandang memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun ketahanan pangan nasional.
Aspek logistik memperoleh perhatian khusus dalam buku ini. Penulis menunjukkan bahwa keberhasilan produksi pangan tidak akan memberikan manfaat apabila sistem distribusinya mengalami gangguan.
Karena itu, pembahasan mengenai rantai pasok, cadangan pangan, buffer stock, sistem peringatan dini, digitalisasi logistik, pemanfaatan kecerdasan buatan, big data, serta sistem informasi geografis menjadi bagian penting dalam strategi pertahanan pangan modern.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan masa depan bukan lagi sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan keamanan seluruh ekosistem distribusi pangan dari berbagai ancaman, termasuk serangan siber.
Bab mengenai penguatan produksi pangan menghadirkan perspektif yang lebih luas daripada sekadar swasembada beras. Penulis membahas potensi sektor pertanian, kelautan, perikanan, hilirisasi komoditas strategis, kekayaan rempah Nusantara, hingga pemberdayaan petani, nelayan, koperasi, dan UMKM sebagai fondasi ekonomi rakyat.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pangan merupakan instrumen untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional sekaligus memperbesar daya tahan negara dalam menghadapi tekanan eksternal.
Pembahasan mengenai dinamika pangan global menjadi salah satu bagian yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Penulis mengulas dampak perubahan iklim, konflik geopolitik, proteksionisme perdagangan, ancaman hibrida, hingga penggunaan pangan sebagai alat tekanan politik internasional.
Melalui berbagai contoh tersebut, pembaca diajak memahami bahwa ketergantungan terhadap impor pangan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut posisi tawar sebuah negara dalam percaturan global. Oleh sebab itu, upaya memperkuat produksi domestik dan diversifikasi pangan menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan nasional.
Keunikan buku ini semakin terasa ketika penulis mengulas Program Makan Bergizi Gratis dari perspektif pertahanan negara. Program yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai kebijakan sosial dan pendidikan diposisikan sebagai investasi strategis untuk membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas.
Dengan demikian, peningkatan kualitas gizi masyarakat dipahami sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam memperkuat daya saing bangsa sekaligus membangun fondasi pertahanan nasional yang kokoh.
Secara akademik, buku ini menunjukkan kualitas yang memadai. Argumentasi yang dibangun bertumpu pada berbagai teori, regulasi nasional, serta referensi lembaga internasional sehingga memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Hal ini menjadikan buku layak dijadikan rujukan bagi kalangan akademisi, mahasiswa, peneliti, aparatur pemerintah, personel TNI, maupun para praktisi yang berkecimpung dalam bidang kebijakan publik, pertahanan, dan pembangunan pangan.
Meskipun demikian, ruang penyempurnaan tetap terbuka. Pendekatan yang dominan bersifat konseptual membuat pembaca sesekali mengharapkan lebih banyak data empiris, hasil penelitian lapangan, ataupun statistik terbaru yang dapat memperkuat argumentasi.
Penyajian dalam bentuk grafik, peta, ilustrasi visual, maupun studi kasus yang lebih mendalam juga akan memperkaya pengalaman membaca dan mempermudah pembaca memahami kompleksitas persoalan yang diangkat.
Terlepas dari hal tersebut, kontribusi terbesar buku ini adalah keberhasilannya membangun kesadaran bahwa pertahanan negara tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui kemampuan menjamin pangan bagi seluruh rakyat.
Penulis berhasil menghubungkan sawah, tambak, pelabuhan, gudang logistik, industri pangan, hingga meja makan masyarakat sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional yang saling berkaitan.
Gagasan ini terasa sangat relevan di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang menjadikan pangan sebagai salah satu instrumen strategis dalam percaturan antarnegara.
Pada akhirnya, Pangan dalam Aspek Pertahanan Negara bukan sekadar buku mengenai pertanian atau kebijakan pangan. Karya ini merupakan refleksi mendalam mengenai hubungan antara pangan, kesejahteraan rakyat, kemandirian ekonomi, diplomasi, dan pertahanan negara.
Dengan pendekatan multidisiplin, argumentasi yang sistematis, serta cakupan pembahasan yang luas, Abdul Rivai Ras berhasil menghadirkan sebuah referensi penting yang memperkaya khazanah pemikiran mengenai keamanan nasional Indonesia.
Buku ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh jumlah prajurit atau kecanggihan persenjataannya, tetapi juga oleh kemampuannya memastikan setiap warga negara memperoleh pangan yang cukup, bergizi, aman, dan berkelanjutan sebagai fondasi utama menuju Indonesia yang berdaulat dan tangguh.
Catatan:
Buku ini bisa dipesan disini
