Oleh: ๐บ๐๐ ๐ฒ๐๐๐๐๐
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemarin saya kembali masuk gelanggang munaqasyah!
Kali ini duduk sebagai penguji skripsi Nur Alika Saidโikut menentukan apakah sang calon sarjana pulang membawa senyum atau membawa revisi setebal batu bata.
Tim pengujinya: Dr. Muh. Anshar Akil, Prof. Firdaus Muhammad, Muh. Sahid, M.I.Kom., dan saya sendiri, di bawah komando Ketua Prodi Prof. Misbahuddin, M.Ag.
Topiknya super megah dan mutakhir: โEmoji Sebagai Komunikasi Nonverbalโ.
Dahulu mahasiswa meneliti komunikasi politik, propaganda, dan teori revolusi sosial.
Sekarang? Kita bedah emoji berwajah kuning cengengesan di ๐ต๐ฐ๐ฐ๐ญ๐ฃ๐ข๐ณ ๐๐ฏ๐ฅ๐ณ๐ฐ๐ช๐ฅ!
Zaman melesat cepat: dulu cuma gambar resek, kini wajib dilewati metodologi, analisis, revisi, lalu sah jadi skripsi. Luar biasa!
Emoji ini sakti mandraguna. Dulu kalau marah harus mengetik: โSaya kecewa dengan sikap Anda.โ
Sekarang? Cukup kirim gambar/stiker kecil mirip tuyul geram.
๐ก
Seketika lawan bicara langsung paham bahwa dia sedang marah!
Hemat kata, hemat energi, bebas dari hukum tata bahasa!
Kalau amarah makin meledak ke ubun-ubun, tinggal dikerahkan pasukan setan Sumiati memenuhi layar seperti ini:
๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐ !
Jempol beratraksi, otak beristirahat, pesan tersalurkan.
Untuk emoji โdukaโ, ada ๐ญ,
โBahagiaโ, tersedia ๐,
โSetujuโ, cukup ๐,
โKepepetโ, penyelamat utamanya adalah ๐.
Emoji ๐ ini raja multitalenta dalam sejarah komunikasi!
Bisa berarti terima kasih, minta maaf, minta tolong, sampai diplomasi tingkat tinggi saat ditagih utang โsorryโ.
Begitulah zaman digital: solusi belum ada, notifikasi sudah masuk!
Lama saya menjelajah mencari makna-makna di balik emoji itu. Hasilnya nihil.
Mungkin para ahli emoji sedang bersembunyi. Atau sedang menyusun metodologi baru untuk menjelaskan mengapa satu emoji berwajah kuning bisa memiliki tujuh perasaan dan sebelas varian tafsir.
Jangan-jangan memang sengaja dibuat multitafsir agar manusia punya pekerjaan tambahan bernama ๐ฐ๐ท๐ฆ๐ณ๐ต๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ช๐ฏ๐จ.
Karena tafsir emoji kadang lebih liar daripada tafsir mimpi, akhirnya saya menyerah pada ilmu resmi lalu menciptakan kamus lokal sendiri. Emoji saya tafsir sesuka hati. Misalnya:
๐บ = Bomboโ Cillaโ (toroโko-toroโko nandรช ko titong).
๐ฉโโค๏ธโ๐จ = Jodohkan Duda sama Janda Pirang.
๐ = Loyo Pisang Na!
โ๏ธ = Pangkas Rambut Madura
๐ฆ = Nasu Palekkoโ
๐ง = Sisรชlรช Otak Loppoรช Na Otaโ Bรชccuโna.
๐ = Maksa ingin jadi Raja untuk berkuasa kembali, padahal rakyat sudah kudeta!
๐ชฑ = Malengngoโ Lรชnrong (manusia super licik!).
๐ = Buaya Betina
๐ = Parakang
๐บ = Tau Jangeng
๐ฅธ = Amboโ Cukka Ulu!
Kalau semua tafsir itu ternyata keliru, jangan langsung salahkan saya. Saya tidak punya sertifikat penerjemah emoji. Ilmunya saya peroleh melalui tirakat di Warkop H. Edyโsebuah perguruan tinggi informal dengan kurikulum kopi hitam ๐ฎ๐ข๐ค๐ค๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ, gorengan ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ๐ขโ, dan teori yang sering lebih cepat lahir daripada kesimpulannya.
Namun, dari semua kehebatan emoji, yang paling mengesankan bukan kamus tafsirnya, melainkan perang stikernya.
Seseorang sedang marah, tetapi malas mengetik. Gudang stiker dibuka.
Pasukan setan dikerahkan lalu dikirim memenuhi layar penuh:
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Lawan rupanya tidak mau kalah. Balasannya lebih panjang sambil mengirim komplotan iblis bertanduk:
๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ ๐ฟ
Maka pecahlah Perang Dunia Ketiga versi WhatsApp.
Diplomasi menghilang.
Negosiasi lenyap.
Mediator tidak kebagian pekerjaan.
Yang tersisa hanya setan ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ-๐ฃ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ saling berseteru.
Orang luar yang menyaksikan percakapan itu barangkali akan bertanya:
Ini ๐ค๐ฉ๐ข๐ต๐ต๐ช๐ฏ๐จ atau ritual pemanggilan jin massal?!
Tujuh menit kemudian, ajaib: ๐
Dibalas ๐คฃ
Bersalaman ๐ค
Ditutup โค๏ธ.
Hening, damai seketika!
Bukan karena mufakat, tapi karena kuota sisa tiga persen!
PBB butuh meja perundingan, warga WhatsApp cuma butuh sisa kuota!
Di ruang munaqasyah, Dr. Muh. Anshar Akil melempar tumpukan kata: โTerakhir sebanyak tiga kaliโฆโ setelah lusinan pertanyaan memukau.
Ingat, โterakhirโ dalam munaqasyah bukan penutup, tetapi genre horor! Begitu kata itu muncul, calon sarjana langsung pasang kuda-kuda. Sebab, โterakhirโ pertama bisa punya anak, cucu, bahkan cicit!
Setelah โterakhirโ itu, pertanyaan pun terus mengalir. Prof. Firdaus Muhammad mengorek informasi sebanyak-banyaknya dengan suara selembut kapasโhalus di telinga, tajam di sasaran!
Pak Sahid ikut membujuk agar makna emoji itu dipublish. Senyumnya menenangkan, tetapi bujukannya pelan-pelan bikin calon sarjana hampir tak berkutik!
Sementara Prof. Misbahuddin membuka gerbang ujian munaqasyah dengan wibawa akademik. Nur Alika Said seperti memasuki gerbang ilmu pengetahuan.
Teknologi boleh 5G, tapi membaca emoji kadang masih pakai ilmu kira-kira!
Satu emoji menghemat sepuluh kata, tapi melahirkan seribu prasangka.
Kirim ๐ sedikit saja, hubungan langsung berubah jadi sidang etik asmara!
Ingat saudara-saudara, teknologi boleh 5G, stiker boleh 4K, tapi adab jangan sampai 2G!
Jempol adalah mulut baru manusia. Ia bisa bicara tanpa suara, menyakiti tanpa menyentuh. Fitur ๐ถ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ memang ada di WhatsApp, tapi tombol ๐๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ต๐ฆ ๐ง๐ฐ๐ณ ๐ฆ๐ท๐ฆ๐ณ๐บ๐ฐ๐ฏ๐ฆ TIDAK PERNAH ADA di hadapan Allah!
Sebelum jempol menekan ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ, biarkan ia berkonsultasi dulu dengan hati nurani. Biar kata jadi jembatan, bukan jerat. Biar jempol bekerja, setelah akal selesai berpikir!
๐ญ๐ญ ๐๐ด๐๐๐๐๐ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ (๐ฆ๐)
