Dari Fakultas yang Berbeda, Menyatukan Energi untuk Kedaulatan Pangan Indonesia
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh: Muliadi Saleh: Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan para alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) ketika mereka bertemu dalam ruang pengabdian yang berbeda. Andi Amran Sulaiman dari Fakultas Pertanian Unhas, Rivai Ras dari arsitektur, Sapri Pamulu dari Fakultas Teknik, dan A. Afdal Bafadal dari Fakultas Kedokteran, membawa disiplin ilmu, pengalaman, dan jalan profesi yang tidak sama. Namun, ketika berbicara tentang masa depan bangsa, semuanya seperti menemukan satu muara: pangan.
Andi Amran Sulaiman, Ketua IKA Unhas sekaligus Menteri Pertanian, berdiri di jantung kebijakan produksi pangan nasional. Rivai Ras, arsitek yang kini memimpin PTPN I, berhadapan dengan lanskap lahan, perkebunan, produksi, dan tata kelola sumber daya. Sapri Pamulu, yang berlatar Fakultas Teknik dan memimpin pengembangan usaha PT Jasa Prima Logistics BULOG, berada pada simpul logistik yang memastikan pangan bergerak dari sentra produksi menuju masyarakat. Sementara A. Afdal Abdulah, dari Fakultas Kedokteran, menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi bisnis dengan berbagai pihak, termasuk bersentuhan dengan rantai pasok pangan di BULOG. Sebuah pengingat bahwa pangan pada akhirnya bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari kesehatan manusia.
Di situlah kita menemukan makna penting sebuah universitas. Fakultas boleh berbeda, gelar boleh beragam, dan profesi boleh berjalan di jalan masing-masing, tetapi persoalan bangsa tidak pernah mengenal sekat-sekat fakultas. Pangan membutuhkan pertanian, teknologi, arsitektur, logistik, kesehatan, ekonomi, hukum, komunikasi, bahkan kebudayaan. Karena itu, kolaborasi alumni bukan sekadar pertemuan nostalgia almamater, melainkan dapat menjadi energi intelektual untuk menjawab persoalan nyata bangsa.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa produksi padi Indonesia pada 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024. Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini menggembirakan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa pekerjaan pangan tidak selesai ketika panen meningkat.
Pangan adalah sebuah ekosistem panjang. Benih harus tersedia, tanah harus sehat, petani harus sejahtera, teknologi harus hadir, hasil panen harus terlindungi, gudang harus memadai, jalan dan transportasi harus tersedia, rantai pasok harus efisien, dan pangan akhirnya harus sampai ke meja makan dengan harga yang terjangkau. Perum BULOG sendiri pada 2026 menyiapkan pembangunan 100 titik infrastruktur pascapanen di 92 kabupaten dengan rencana anggaran sekitar Rp5 triliun, termasuk gudang, silo, dryer, Rice Milling Unit, dan fasilitas pengemasan.
Maka menjadi terang mengapa kolaborasi lintas fakultas begitu penting. Arsitek dapat berbicara tentang ruang dan infrastruktur; insinyur tentang teknologi dan sistem; dokter tentang gizi dan kesehatan; sarjana pertanian tentang produksi dan produktivitas; sementara para pengelola logistik memastikan pangan tidak berhenti di gudang atau terjebak di jalan. Pangan adalah titik temu ilmu pengetahuan dengan kebutuhan paling dasar manusia.
Lebih jauh, pangan adalah pintu masuk menuju SDGS-2: Zero Hunger atau Tanpa Kelaparan. Agenda ini menargetkan berakhirnya kelaparan, tercapainya ketahanan pangan dan perbaikan gizi, sekaligus mendorong pertanian berkelanjutan hingga 2030. Dalam konteks Indonesia, pencapaian itu tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi harus memastikan pangan bergizi tersedia, terjangkau, berkelanjutan, dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.
Data BPS September 2025 menunjukkan masih terdapat 23,36 juta penduduk miskin, atau 8,25 persen penduduk Indonesia. Kemiskinan memang menurun, tetapi angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan akses terhadap kehidupan yang layak masih menjadi pekerjaan besar. Di sinilah pangan menjadi sangat strategis: ketika harga pangan terjangkau, produksi petani meningkat, distribusi berjalan baik, dan gizi masyarakat membaik, banyak tujuan pembangunan lainnya ikut memperoleh fondasi.
Ironisnya, pada sisi lain pangan juga masih terbuang. Badan Pangan Nasional pada 2025 mengutip kajian Bappenas yang memperkirakan kerugian ekonomi akibat susut dan sisa pangan (food loss and waste) mencapai sekitar Rp551 triliun per tahun, sekaligus berkontribusi sekitar 7,29 persen terhadap emisi gas rumah kaca nasional. Artinya, membangun kedaulatan pangan bukan hanya perkara menghasilkan lebih banyak, tetapi juga belajar menghormati setiap butir pangan agar tidak berakhir menjadi sampah.
Karena itu, sinergi alumni Unhas dapat dibaca sebagai sebuah metafora besar tentang Indonesia. Pertanian menyediakan kehidupan, teknik membangun sistemnya, arsitektur menata ruangnya, kesehatan menjaga kualitas manusianya, dan logistik menghubungkan semuanya. Ketika berbagai disiplin ilmu berhenti berjalan sendiri-sendiri dan mulai saling menguatkan, universitas tidak lagi hanya melahirkan sarjana, tetapi melahirkan solusi.
Pada akhirnya, pangan bukan hanya urusan perut. Pangan adalah urusan martabat, kesehatan, kemiskinan, lingkungan, ekonomi, bahkan kedaulatan bangsa. Sebuah bangsa boleh memiliki gedung-gedung tinggi, teknologi canggih, dan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, tetapi jika rakyatnya kesulitan memperoleh pangan yang sehat dan terjangkau, ada sesuatu yang belum selesai dalam perjalanan peradabannya.
Barangkali inilah pesan terdalam dari sinergi para alumni Unhas: berbeda fakultas tidak berarti berbeda tujuan; berbeda profesi tidak berarti berbeda pengabdian. Ilmu yang paling bernilai bukan ilmu yang berhenti menjadi pengetahuan, melainkan ilmu yang menemukan jalannya menuju kemaslahatan manusia.
Dalam pandangan sufistik, rezeki tidak semata-mata sesuatu yang datang kepada manusia, tetapi juga amanah yang harus dijaga agar menjadi keberkahan bagi sesama. Sepiring nasi yang hadir di meja adalah pertemuan panjang antara tanah, air, matahari, petani, ilmu, teknologi, distribusi, dan doa. Maka menjaga pangan sesungguhnya adalah cara manusia menghormati kehidupan—dan menghormati kehidupan adalah salah satu jalan untuk mendekat kepada Sang Pemilik Kehidupan.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.
