Oleh: Munawir Kamaluddin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Toxic berarti beracun. Dalam kehidupan sosial, manusia toxic adalah mereka yang kehadiran, ucapan, dan perilakunya justru meracuni suasana, dengan menebar kegaduhan, kecurigaan, kebencian, perpecahan, dan keretakan persaudaraan.
Yang lebih berbahaya, manusia toxic sering bukan sekadar pembuat masalah, tetapi pencari panggung melalui masalah. Ia membesar-besarkan konflik, menyebarkan hoaks, mengadu domba, mendiskreditkan orang lain, menyerang pribadi atau kelompok, mencari kambing hitam, lalu tampil sebagai pihak yang paling benar, paling peduli, bahkan sebagai “pahlawan”. Keributan menjadi panggung, kelemahan orang lain menjadi tangga, penderitaan sesama menjadi bahan bakar popularitas.
Ia haus compliment, validasi, pengakuan dan popularitas, tetapi menempuh jalan yang keliru, dengan mengangkat dirinya dengan merendahkan orang lain. Ia rela mengorbankan nama baik, persaudaraan dan keharmonisan demi terlihat hebat, berbeda, berani, dan superior. Padahal tidak semua yang paling keras adalah yang paling benar, dan tidak semua yang tampil sebagai penyelamat benar-benar bebas dari kepentingan.
Maka kita perlu bercermin: Apakah kita sedang memperjuangkan kebenaran, atau sedang memperjuangkan ego dengan memakai nama kebenaran? Apakah kita menyelesaikan masalah, atau membutuhkan masalah agar diri kita terlihat? Apakah kritik kita lahir dari kepedulian, atau dari keinginan menjatuhkan?
Manusia yang matang tidak membutuhkan keributan untuk mendapatkan panggung. Ia tidak menjadikan aib orang lain sebagai tangga, tidak membutuhkan musuh agar tampak hebat, dan tidak membangun popularitas di atas kehancuran sesama. Ia membiarkan integritas, karya dan manfaat berbicara untuk dirinya.
Sebab orang hebat tidak perlu membuat orang lain menjadi kecil. Orang benar tidak membutuhkan kebohongan untuk menang. Dan pahlawan sejati tidak membangun namanya dari reruntuhan martabat orang lain.
Pada akhirnya, panggung terbesar bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan ruang sunyi ketika kita berhadapan dengan hati nurani. Di sana tidak ada popularitas, pencitraan atau validasi eksternal. Yang tersisa hanya satu pertanyaan:
“Apakah kehadiran saya menjadi oase bagi orang lain, atau justru racun yang perlahan merusak mereka?” 🙏
