Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Entah kenapa, setiap kali mendengar kata ozon, saya teringat pada satu kata dalam Al-Qur’an: mizan. Bunyi keduanya memang tidak sama, apalagi maknanya. Ozon adalah lapisan atmosfer yang melindungi kehidupan dari sebagian radiasi ultraviolet, sedangkan mizan berarti timbangan, ukuran, keseimbangan, atau tatanan yang adil. Tetapi keduanya seperti bertemu pada satu pesan: kehidupan hanya dapat berlangsung dengan keseimbangan.

Setiap 16 September dunia memperingati Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon. Peringatan ini mengingatkan manusia bahwa sesuatu yang sangat tipis dan nyaris tak terlihat di langit ternyata memiliki peran besar bagi keberlangsungan kehidupan. Ketika manusia menggunakan zat-zat perusak ozon secara berlebihan, keseimbangan atmosfer terganggu. Ketika manusia menyadari kesalahannya dan bekerja sama melalui Protokol Montreal, kerusakan itu mulai dapat dipulihkan.

Di situlah ozon menjadi lebih dari sekadar persoalan kimia atmosfer. Ozon adalah pelajaran tentang keseimbangan ekologis.

Al-Qur’an mengingatkan manusia bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan keseimbangan. Dalam Surah Ar-Rahman ayat 7–9 disebutkan bahwa Allah meninggikan langit dan meletakkan mizan, agar manusia tidak melampaui batas dalam timbangan. Ayat itu dapat kita renungkan bukan hanya dalam konteks timbangan perdagangan, tetapi juga sebagai pesan ekologis bahwa jangan merusak ukuran keseimbangan yang telah menjadi hukum kehidupan.

Bumi bekerja dalam jejaring yang sangat halus. Atmosfer, air, tanah, hutan, laut, keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia bukanlah ruang-ruang yang berdiri sendiri. Ketika satu bagian terganggu, bagian lain ikut merasakan akibatnya. Hutan yang hilang bukan hanya kehilangan pepohonan; ia mengubah tata air, suhu, tanah, habitat dan pada akhirnya memengaruhi kehidupan manusia.

Begitu pula dengan iklim. Kita menginginkan rumah yang semakin sejuk, kendaraan yang semakin nyaman, produksi yang semakin besar dan konsumsi energi yang semakin tinggi. Tetapi alam mempunyai cara sendiri untuk mengingatkan bahwa kenyamanan manusia tidak boleh dibangun dengan menghilangkan kenyamanan bumi.

Karena itu, pembicaraan tentang lingkungan sesungguhnya adalah pembicaraan tentang mizan. Kita membutuhkan pembangunan, tetapi pembangunan yang tidak menghancurkan sumber kehidupan. Kita membutuhkan energi, tetapi energi yang semakin bersih. Kita membutuhkan pertanian yang produktif, tetapi tanah tidak boleh dipaksa bekerja tanpa kesempatan untuk memulihkan dirinya.

Kita membutuhkan kota yang maju, tetapi sungai tidak boleh dipersempit, ruang hijau tidak boleh seluruhnya digantikan beton, dan udara tidak boleh diperlakukan sebagai tempat pembuangan yang tak terbatas.

Mizan adalah seni mengetahui kapan harus mengambil dan kapan harus mengembalikan.

Alam tidak pernah benar-benar meminta manusia berhenti memanfaatkan bumi. Yang diminta adalah tidak melampaui batas. Dalam bahasa yang lebih sederhana : ambillah secukupnya, gunakan dengan bijak, dan tinggalkan kehidupan yang masih layak bagi generasi setelah kita.

Kisah ozon memberi contoh yang menggembirakan. Ketika dunia menyadari adanya ancaman terhadap lapisan ozon, negara-negara tidak memilih berjalan sendiri-sendiri. Ilmu pengetahuan menjadi dasar, kebijakan dibuat, industri beradaptasi, dan masyarakat ikut berubah. Perlahan, lapisan ozon menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi persoalan lingkungan lainnya. Kerusakan ekologis bukan takdir yang harus diterima begitu saja. Sebagian kerusakan adalah akibat pilihan manusia, sehingga sebagian pula dapat diperbaiki melalui pilihan manusia.

Kita tidak hanya sedang menjaga sesuatu yang berada jauh di atas kepala. Kita sedang belajar menjaga mizan—keseimbangan yang membuat bumi tetap menjadi rumah.

Sebab ketika keseimbangan hilang, yang pertama-tama kehilangan bukan alam. Kitalah yang kehilangan rumah.

Dan mungkin, di antara kata ozon dan mizan, ada sebuah pesan sederhana untuk kesadaran manusia: langit memiliki pelindungnya, bumi memiliki keseimbangannya, dan manusia memiliki amanah untuk tidak melampaui batas.

“Menjaga lingkungan pada hakikatnya adalah menjaga mizan kehidupan: mengambil tanpa merampas, membangun tanpa merusak, dan hidup tanpa melampaui batas.”
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”