Oleh: Munawir Kamaluddin

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari Kesadaran Nasional jangan berhenti sebagai seremoni. Ia semestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita menyelesaikan masalah atau justru memperbesar maslah? Sebab kesadaran bukan sekadar mengetahui yang benar dan salah, tetapi mampu mengelola perbedaan, dan mempertimbangkan dampak setiap tindakan.

Konflik sering bermula dari hal sederhana, perbedaan pendapat, salah komunikasi, ego, kepentingan, atau informasi yang tidak utuh. Masalah menjadi besar ketika manusia lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari penyelesaian. Dari sinilah seseorang dapat berubah menjadi episentrum konflik, yakni menjadi titik tempat prasangka, provokasi, informasi yang belum terverifikasi, dan kegaduhan berkumpul lalu menyebar.

Tidak semua orang yang menjadi episentrum konflik tampil kasar. Ada yang menggunakan bahasa yang dihalus-haluskan tapi penuh intrik, rencana busuk, gemar mengadu domba, mengatasnamakan fakta, tetapi diam-diam ingin mengejar panggung dengan menyebarkan informasi sepihak, atau mengatasnamakan kebenaran, tetapi memperlebar permusuhan. Karena itu, ukuran kedewasaan bukan seberapa keras kita berbicara, melainkan seberapa mampu kita menyelesaikan masalah.

Di tengah derasnya arus informasi, kesadaran juga berarti kemampuan menata diri dengan tidak mudah percaya, tidak tergesa menyebarkan, tidak membuka aib, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai panggung atau senjata. Sebab satu ucapan dapat memicu konflik, sementara satu sikap bijak dapat menghentikannya.

Kita tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang pandai menemukan kesalahan, tetapi manusia yang bersedia menjadi pusat solusi. Mendengar sebelum menyimpulkan, memeriksa sebelum menyebarkan, berdialog sebelum menghakimi, memperimbangkan sebelum beraksi, dan mencari jalan keluar tanpa harus mempermalukan pihak lain.

Sehingga dengan demikian, ukuran keberadaan kita bukan seberapa besar suara dan pengaruh yang kita miliki, tetapi apa yang terjadi setelah kita hadir. Apakah keadaan menjadi lebih tenang atau semakin gaduh? Apakah orang menemukan jalan keluar atau justru semakin terpecah?

Maka, jangan menjadi episentrum konflik. Jadilah pusat solusi. Jangan menjadi sumber kegaduhan. Jadilah penjernih, peneduh, dan jembatan.

Sebab dunia tidak kekurangan orang yang mampu menunjukkan masalah. Yang semakin dibutuhkan adalah manusia yang bersedia menjadi bagian dari penyelesaian.

Kesadaran sejati adalah ketika kehadiran kita tidak menambah masalah, tetapi menghadirkan jalan keluar.🙏*MK*