Oleh: ๐‘บ๐’–๐’‡ ๐‘ฒ๐’‚๐’”๐’Ž๐’‚๐’

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

BELAKANGAN ini cuaca di Sul-Sel terasa semakin panas, sepertinya kurang bersahabat dengan manusia. Keluar rumah, keringatan. Jalan kaki, keringatan. Makan bakso pedas di Ati Raja, keringatan ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ดรช๐˜ฏ๐˜จ!

Di media sosial, ada pula yang setiap hari saling sindir, seolah ingin berantem ala Tom and Jerry. Hari ini menyentil, besok membalas. Lusa muncul lagi, seperti sinetron yang episodenya tidak mau tamat.

Bedanya, Tom and Jerry kejar-kejaran pakai sapu ijuk ๐˜ด๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ต๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ, yang ini kejar-kejaran pakai media WhatsApp ๐˜š๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ณ๐˜ชโ€™! Saya sampai bingung, ini sedang berdiskusi atau sedang latihan tinju smackdown?

Mungkin karena cuaca sedang panas, orang-orang juga ikut kepanasan.
Baru disentil sedikit, langsung pasang kuda-kuda membalas. Sudah dibalas, muncul lagi balasan berikutnya. Tom and Jerry modern!

Rasanya hampir setiap aktivitas membuat badan ikut kepanasan. Bergerak sedikit, keringat langsung keluar. Bergerak agak banyak, tambah deras. Tubuh seperti punya keran sendiri, tinggal diputar sedikit langsung ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ค๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐโ€™-๐˜ค๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐโ€™ (bercucuran).
Keringat sudah seperti teman setia: ke mana kita pergi, dia ikut mengawal.

Saya mengamati, beberapa bulan terakhir matahari seperti sedang lembur. Pagi sudah menyengat, siang terasa seperti dipanggang, sore belum juga mau berdamai, bahkan malam masih menyisakan hawa gerah.

Sepertinya matahari sedang mengejar target bulanan. Mungkin ada laporan kinerja: โ€œBulan ini, suhu harus naik. Soalnya, penghuni bumi banyak tikung kiri!โ€

Kalau targetnya begini terus, matahari bukan lagi sekadar sumber energi, tetapi sudah berubah menjadi petugas pemanggang massal.

Apalagi kalau upacara bendera di lapangan dimulai pukul 07.30 sampai 08.30 pagi. Matahari belum tinggi-tinggi amat, tetapi panasnya sudah datang lebih awal daripada peserta upacara.

Beberapa teman saya mulai mundur perlahan, dan saya juga pernah ikut-ikutan mencari perlindungan di bawah pohon mangga. Masalahnya, gerak-gerik kami selalu dipantau drone kamera yang berputar-putar di atas lapangan. Apalagi setelah Absensi Biometrik Wajah selesai, ada saja yang mulai melirik ke arah pohon keramat. Mau lari juga susah, sebab drone seperti petugas keamanan udara: ke mana pun bergerak, tetap terpantau. Heheheโ€ฆ

Secara administratif tetap ikut upacara. Bedanya, yang di depan hormat kepada bendera, yang di belakang hormat kepada pohon. Mereka tetap โ€œupacaraโ€, tetapi sambil bercerita dan ketawa-ketiwi. Mungkin itu namanya upacara versi teduh.

Masalahnya, begitu upacara selesai dan kembali ke rumah, perjuangan belum selesai. Panas ternyata tidak mengenal tempat. Di lapangan kepanasan, masuk rumah pun ๐˜ญ๐˜ช๐˜ธ๐˜ฆโ€™ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข!

Kipas angin plafon sudah diputar sampai level tiga, suaranya meraung seperti helikopter militer mau tinggal landas, tetapi anginnya tetap terasa seperti hembusan uap dari magic com.

AC pun kadang ikut kewalahan. Beban panas (heat load) di ruangan meningkat, mesin bekerja lebih keras. Suara blower mesin terdengar kencang, tetapi dinginnya seperti malu-malu. AC menyala, listrik jalan, blower meraung, tetapi badan tetap panas berkeringat. Yang dingin cuma harapan.

Kemarin saya menghadiri pesta pernikahan. Saya sempat melihat pengantin perempuan dan sedikit kaget. Dalam hati saya berpikir, โ€œWaduh, jangan-jangan wajahnya bocor.โ€ Ternyata bukan. Bedak riasan makeup-nya sedikit meleleh karena kepanasan.
AC di dalam gedung ternyata tidak bekerja. Pengantinnya tetap cantik, hanya bedaknya yang mulai menyerah tanpa syarat.

Saya pun didaulat memberi nasihat pernikahan. Melihat banyak tamu mulai mengipas dengan sapu tangan, saya langsung tahu diri. Nasihat saya kurang lebih tiga menit. Tidak usah panjang-panjang, nanti yang meleleh bukan hanya bedak pengantin, tetapi juga tamu undangan.
Ini namanya penceramah tahu diri: nasihatnya singkat, karena mau cepat pergi makan siang.

Panas ternyata punya cara sendiri menguji manusia. Parkir mobil di lapangan terbuka pada siang bolong, misalnya. Ketika pintu mobil dibuka, hawa panas langsung menyambut seperti oven yang baru selesai memanggang.
Masuk ke dalam mobil bukan lagi sekadar berkendara, tetapi seperti masuk ruang sauna spa.

Kursi mobil pun ikut berpartisipasi. Baru duduk sebentar, rasanya seperti sedang menjalani terapi bokong menggunakan โ€˜seng sermaniโ€™ panas. Kita sampai bingung, harus menghidupkan mesin dulu atau menurunkan kaca pintu dulu.

Naik motor juga tidak kalah dramatis. Helm tengkorak memang melindungi kepala, tetapi begitu dilepas, rambut sudah kuyup. Keringat mengalir seperti baru selesai keramas. Kalau ada lomba rambut paling basah rute Samataโ€“Antang, tidak perlu ikut lomba. Sudah juara sebelum mendaftar, tinggal menunggu medali tingkat kampung.

Sekarang bayangan pohon ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐโ€™ terasa lebih berharga daripada papan reklame. Saya melihat orang berjalan kaki bukan lagi mencari alamat, tetapi mencari bayangan. Ada pohon kecil, langsung berhenti. Bayangannya cuma selebar tiang listrik, tetap disyukuri. Dalam cuaca seperti ini, bayangan satu meter persegi rasanya seperti tanah kavling premium.

Kata ilmuwan, ini pengaruh El Niรฑo. Bisa-bisa lidah terpeleset susah mengucapkannya. Yang keluar malah: El Nono, Neno-Neno, El Neneโ€™, El Nenneng! Wuadddu!

Kalau panasnya begini terus, bukan cuma lidah yang terpeleset, es teh pun ikut menyerah. Beli es teh manis di pinggir jalan, baru beberapa menit, es batunya sudah menghilang tanpa jejak. Belum sempat sedotan pertama, teh sudah berubah menjadi teh hangat. Kita membeli es teh, tetapi matahari merasa punya hak veto.

HP android yang dimasukkan ke saku celana juga ikut panas ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข’. Baru beberapa menit, rasanya seperti membawa setrikaan mini. Kalau dibiarkan lebih lama, mungkin HP bukan lagi alat komunikasi, tetapi alat pemanas kulit.

Belakangan ini listrik juga sering mati. Saya tidak tahu apa prinsip PLN belakangan ini. Musim hujan sering mati lampu, musim kemarau juga sering mati lampu. Jadi, hujan bukan jaminan listrik menyala, kemarau juga bukan. Berarti listriknya tidak mengenal musim, selalu padam.

Saya sendiri pernah mengalaminya saat memberi kuliah perdana. Waktu itu saya mengajar pukul 15.00. Tiba-tiba listrik mati. Luar biasa panasnya ruangan. Beberapa mahasiswa langsung mengaktifkan kipas elektrik masing-masing. Semuanya berbunyi seperti Mesin potong rumput 2-Tak, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ.

Saya pun mulai berpikir, ini kuliah perdana atau latihan orkestra kipas portable? Suaranya ramai sekali. Bukan hanya konsentrasi mahasiswa yang terganggu, stabilitas pelajaran pun ikut goyang.

Di rumah, ada yang mengeluh karena AC tidak aktif. Saya menelepon ke rumah. Nyonya besar menjawab singkat, โ€œMati lampu!โ€

Aw! Mendengar itu, niat pulang langsung saya batalkan untuk tikung kiri. Saya singgah di kafe, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ณรช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ถโ€™ sambil minum kopi ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ. Dalam cuaca begini, kafe ber-AC terasa seperti rumah kedua. Apalagi yang menyuguhkan si pirang, ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฐ!

Di luar sana, ada yang kepanasan karena matahari. Ada juga yang kepanasan karena saling sindir di media WhatsApp. Saya memilih yang pertama: cukup berkeringat, tidak perlu ikut-ikutan ala episode perang legendaris Tom and Jerry.

Subuh ini saya tausiyah di Masjid Raya Bukit Baruga, siang menjadi khatib Jumat di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Yusuf, lalu malamnya meluncur ke Pinrang untuk Maulid Nabi baโ€™da Isya. Jadwalnya padat dari Subuh sampai malam. Panas boleh menyengat, keringat boleh bercucuran, tetapi semangat dakwah jangan ikut menguap.

Jangan terlalu sombong dengan kekuatan manusia. Gedung boleh tinggi, mobil boleh canggih, teknologi boleh pintar. Tetapi ketika matahari makin galak, kita kembali mencari pohon, kipas, es teh, atau kafe ber-AC. Teknologi boleh maju, tetapi kalau AC mati, manusia tetap gampang berkeringat!

Mungkin benar, matahari sedang lembur. Tetapi panas yang kita rasakan di dunia ini seharusnya juga mengingatkan kita kepada panas yang jauh lebih dahsyat.

Bagaimana gambaran suasana di Padang Mahsyar ketika matahari didekatkan sejengkal di atas kepala? ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฆโ€ฆ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ค๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐโ€™ ๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ!

Kalau sekarang baru berdiri lima menit sudah berkeringat, bagaimana nanti? Di sana tidak ada AC portable kompresor, tidak ada kipas angin duduk multifungsi, apalagi tombol โ€œturunkan suhuโ€. Kalau di dunia kita masih bisa lari mencari pohon beringin, di sana mau lari ke mana?

Di balik keringat, ada pelajaran: manusia ternyata lemah. Panas sedikit saja, kita sudah mencari tempat teduh. Jangan sampai kita sibuk mencari teduh di dunia, tetapi lupa menyiapkan teduh untuk akhirat.

Keringat mengingatkan tubuh punya batas, panas mengajarkan kesabaran. Panas dunia hanya sementara dibandingkan panas akhirat.

Semoga kita tidak hanya pandai menghindari panas di dunia, tetapi juga mampu menyelamatkan diri dari panas karena mempertanggungjawabkan amal di akhirat.

๐—๐˜‚๐—บโ€™๐—ฎ๐˜, ๐Ÿญ๐Ÿด ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฝ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ (๐—ฆ๐—™)