Oleh: Munawir Kamaluddin
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejarah selalu menyisakan pelajaran, bahwa kehancuran tidak selalu dimulai dari kekuatan musuh, tetapi sering tumbuh dari kesombongan diri yang merasa paling benar, paling hebat, dan berhak mengatur segalanya. Inilah watak yang dapat kita sebut sebagai sindrom Firaun, bukan diagnosis medis, melainkan gambaran tentang kesewenang-wenangan, egoisme, dan keinginan menguasai orang lain.
Donald Trump adalah tokoh politik kontemporer, sedangkan Firaun merupakan simbol kesombongan dan kezaliman dalam sejarah dan ajaran Al-Qur’an. Keduanya tidak harus disamakan, tetapi perilaku politik maupun sosial layak dikritisi ketika kekuasaan, ambisi, dan kepentingan pribadi ditempatkan di atas kebenaran serta martabat manusia.
Watak semacam ini tidak hanya hidup di istana atau pusat kekuasaan. Ia bisa tumbuh di lingkungan keluarga, organisasi, tempat kerja, bahkan dalam pergaulan sehari-hari. Ada orang yang merasa dirinya selalu paling benar, gemar mencampuri urusan orang lain, melampaui batas kewenangan, dan menganggap pendapat berbeda sebagai ancaman. Mereka bukan hanya sulit menerima kritik, tetapi terkadang justru menikmati pertengkaran, memancing perselisihan, lalu tampil seolah-olah menjadi pahlawan penyelesai masalah yang sebenarnya ikut mereka kobarkan.
Dalam psikologi perilaku sehari-hari, sikap suka menyerang dan mencari konfrontasi kerap disebut belligerent attitude. Jika disertai kebiasaan memanipulasi keadaan, merendahkan orang lain, dan memosisikan diri sebagai korban, perilaku itu dapat menjadi sumber konflik yang terus berulang. Orang seperti ini bukan mendamaikan keadaan, melainkan menjadikan dirinya episentrum konflik (pusat dari kegaduhan yang melelahkan banyak orang).
Persoalannya bukan semata-mata siapa yang memiliki jabatan atau kekuatan terbesar, melainkan siapa yang mampu mengendalikan dirinya. Kekuasaan tanpa kerendahan hati melahirkan penindasan, kecerdasan tanpa kebijaksanaan menjadi alat manipulasi, dan keberanian tanpa tanggung jawab berubah menjadi kesewenang-wenangan. Tidak semua orang yang lantang sedang membela kebenaran, sebagaimana tidak semua orang yang mengaku pahlawan benar-benar menghadirkan penyelesaian.
Karena itu, menghancurkan karakter Firaun bukan berarti menghancurkan manusia, melainkan memutus kesombongan, kesewenang-wenangan, provokasi, dan kebiasaan memperalat orang lain demi kepentingan pribadi. Perlawanan terhadap kezaliman harus dilakukan dengan keberanian, akal sehat, fakta, dialog, serta penghormatan terhadap aturan dan batas kewenangan.
Sebab, peradaban tidak akan tumbuh jika setiap orang ingin menjadi penguasa, setiap perbedaan dianggap permusuhan, dan setiap persoalan dijadikan panggung untuk membuktikan kehebatan diri. Kedewasaan justru tampak ketika seseorang mampu menghargai orang lain, mengakui kesalahan, menjaga batas, dan memilih mendamaikan daripada mempertajam pertikaian.
Hancurkan kesombongan, bukan martabat manusia. Hentikan provokasi, bukan perbedaan pendapat. Lawan kesewenang-wenangan, bukan kemanusiaan. Firaun boleh menjadi pelajaran sepanjang zaman, tetapi wataknya jangan sampai tumbuh dalam diri kita, apalagi diwariskan kepada generasi mendatang.🙏*MK*
