KABARIKA.ID, JAKARTA — Kepala Staf Presiden (KSP) kini berada di tangan Muhammad Qodari, setelah terjadi serah terima jabatan dari pendahulunya, AM Putranto, Kamis (18/09/2025) di Jakarta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Qodari diangkat sebagai KSP berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 97/P Tahun 2025 tentang Pemberhentian Kepala Komunikasi Kepresidenan dan Wakil Kepala Staf Kepresidenan, serta Pengangkatan Kepala Badan dan Staf Khusus Presiden bidang Keamanan dan Reformasi Kepolisian.
Qodari menegaskan bahwa tugas utama KSP adalah memastikan program Presiden berjalan sesuai tahapan dan tujuan.
Oleh karena itu, lembaganya akan mengawal program unggulan Presiden Prabowo Subianto agar dapat diterima masyarakat.
Menurut Qodari, peran KSP mencakup monitor dan evaluasi kebijakan pemerintah sehingga implementasi program berjalan lebih efektif.
“Melanjutkan apa yang sudah ada, karena kita percaya betul, bahwa KSP ini memberikan manfaat yang nyata, kepada pelaksanaan program-program Presiden Prabowo,” kata Qodari di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, usai serah terima jabatan.
Untuk itu, KSP akan memperkuat koordinasi lintas sektor demi kelancaran program pemerintah.
Qodari menambahkan, langkah itu penting karena sejumlah program baru Presiden Prabowo segera dijalankan untuk memperkuat perekonomian nasional.
“Karena memang pemerintah Prabowo masih satu tahun, ada banyak program baru yang tetap harus dikawal prosesnya, tahapannya, teknokrasinya. Agar (program unggulan Presiden) berjalan dengan optimal, agar ekonomi bergerak,” papar Qodari.
Sementara itu, pejabat lama AM Putranto menyampaikan berbagai capaian KSP selama hampir satu tahun kepemimpinannya.
Ia menilai KSP telah memberikan kontribusi besar bagi kelancaran program-program pemerintah.
“Saat ini memang untuk KSP ada manfaat banyak bagi orang, karena dirasakan oleh kementerian terkait. Apa yang dilakukan oleh seluruh jajaran KSP ini, sangat bermanfaat untuk kementerian/lembaga terkait dan masyarakat,” kata Putranto.
Profil Muhammad Qodari
Qodari lahir pada 15 Oktober 1973 di Palembang, Sumatera Selatan. Ia dikenal luas sebagai pengamat politik dan peneliti.
Qodari meraih gelar sarjana psikologi sosial pada 1997 dari Universitas Indonesia.
Untuk jenjang magister (S2), Qodari melanjutkan studinya ke University of Essex, Inggris. Di sana ia mengambil jurusan Political Behavior dan selesai pada 2002.
Selanjutnya, Qodari menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Gadjah Mada pada 2016 dengan predikat sangat memuaskan.
Qodari mempertahankan disertadi berjudul, “Split-Ticket Voting dan Faktor-faktor yang Menjelaskannya pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2014”.
Perjalanan karier profesional Qodari cukup panjang. Ia memulai sebagai peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) pada Mei 1999 hingga September 2001.
Selanjutnya, ia bergabung dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) hingga Juli 2003.
Qodari juga sempat menjabat sebagai chief editor Majalah Kandidat dan Campaign and Election Magazine pada 2003-2004.
Kemudian, Qodari dipercaya sebagai direktur riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2003-2005, sebelum menjadi wakil direktur eksekutif hingga Oktober 2006.
Pada November 2006, Qodari mendirikan lembaga survei independen Indo Barometer dan hingga kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif. (*/mr)
