KABARIKA.ID, MAKASSAR — Dalam beberapa tahun terakhir kita sering mendengar bahwa perubahan iklim memengaruhi hasil produksi pangan secara global.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, semakin banyak penelitian yang menunjukkan ancaman yang lebih tersembunyi dan kurang terlihat dari dampak perubahan iklim tersebut, yakni kualitas gizi bahan makanan kita telah berubah ke arah yang lebih buruk.
Temuan terbaru dari para peneliti di Liverpool John Moores University menunjukkan, peningkatan kadar CO2 (karbon dioksida) dan suhu yang lebih panas mengubah komposisi kimia tanaman pangan pada umumnya.
Akibatnya, tanaman mungkin terlihat sehat dan tumbuh cepat, tetapi kandungan nutrisi esensialnya lebih sedikit.
Hal ini memiliki implikasi besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara yang sudah berjuang melawan kerawanan pangan dan penyakit kronis.
Hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam konferensi tahunan Society for Experimental Biology 2025 di Antwerp, Belgia, Rabu (9/07/2025).
Menguji Sayuran untuk Masa Depan
“Pekerjaan kami berfokus lebih dari sekadar kuantitas, tetapi juga kualitas dari apa yang kita makan,” kata Jiata Ugwah Ekele, mahasiswa Ph.D di Liverpool John Moores University.
Penelitian Ekele berfokus pada bagaimana stresor lingkungan, mulai dari peningkatan karbon dioksida hingga kenaikan suhu, mengubah komposisi nutrisi tanaman pangan.

Timnya menanam sayuran berdaun populer, seperti kangkung, arugula, dan bayam di dalam ruangan ber-AC di universitas tersebut.
Para peneliti menyesuaikan kadar CO2 dan suhu untuk mencerminkan proyeksi iklim Inggris di masa mendatang.
“Perubahan lingkungan ini dapat memengaruhi segalanya, mulai dari fotosintesis dan laju pertumbuhan hingga sintesis dan penyimpanan nutrisi dalam tanaman,” ujar Ekele.
Melacak Aktivitas Tanaman
Penelitian ini mengamati lebih dekat apa yang terjadi di dalam tanaman. Para ilmuwan melacak aktivitas fotosintesis seiring pertumbuhan tanaman, menggunakan fluoresensi klorofil dan pengukuran hasil kuantum.
Saat panen, tim mengukur hasil dan biomassa, lalu menjalankan uji kimia untuk melihat kandungan nutrisinya.
Menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dan fluoresensi sinar-X, mereka menganalisis gula, protein, flavonoid, vitamin, dan antioksidan.
Tanaman Lebih Besar, Nutrisi Lebih Sedikit
Data awal menunjukkan bahwa tanaman memang tumbuh lebih besar di bawah tingkat CO2 yang lebih tinggi. Namun, itu tidak berarti tanaman tersebut lebih sehat.
“Setelah beberapa waktu, tanaman menunjukkan penurunan mineral penting, seperti kalsium dan senyawa antioksidan tertentu,” tandas Ekele.
Ketika panas ditambahkan, keadaan menjadi lebih buruk. Menurut Ekele, interaksi antara CO2 dan stres panas memiliki efek yang kompleks, yaitu tanaman tidak tumbuh sebesar atau secepat sebelumnya dan penurunan kualitas nutrisi semakin intensif.
Satu perubahan mengejutkan dalam hasil ini adalah tidak semua sayuran merespons dengan cara yang sama. Beberapa menunjukkan penurunan nutrisi yang tajam, sementara yang lain lebih tangguh.
“Keragaman respons ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa menggeneralisasi semua tanaman. Kompleksitas ini menarik sekaligus menantang, dan mengingatkan kita mengapa penting untuk mempelajari berbagai pemicu stres secara bersamaan,” papar Ekele.
Tanaman Dapat Memicu Penyakit
Kekhawatiran utama adalah apa yang terjadi ketika tanaman kehilangan nutrisi penting.
Peningkatan CO2 dapat meningkatkan kadar gula dalam buah dan sayur, tetapi seringkali menurunkan kadar protein, vitamin, dan mineral.
“Perubahan keseimbangan ini dapat berkontribusi pada pola makan yang lebih tinggi kalori, tetapi rendah nilai gizinya,” kata Ekele.

Ia menambahkan, peningkatan kadar gula dalam tanaman, terutama buah dan sayur, dapat menyebabkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2 yang lebih besar, terutama pada populasi yang sudah berjuang melawan penyakit tidak menular.
Ketika orang mengonsumsi makanan yang kekurangan protein, zat besi, kalsium, atau nutrisi penting lainnya, hal itu dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka dan memperburuk kondisi kesehatan yang ada.
Hal ini paling parah terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di mana pilihan makanan terbatas.
“Ini bukan hanya tentang berapa banyak bahan pangan yang kita tanam, tetapi juga apa yang terkandung di dalam bahan makanan itu dan bagaimana ia mendukung kesejahteraan manusia dalam jangka panjang,” ungkap Ekele.
Sistem Pangan Menghadapi Tekanan Global
Meskipun studi ini mensimulasikan kondisi iklim Inggris di masa mendatang, temuannya berdampak jauh melampaui batas wilayah Inggris.
“Sistem pangan di belahan bumi utara sudah menghadapi tantangan berupa perubahan pola cuaca, musim tanam yang tak terduga, dan gelombang panas yang lebih sering,” ujar Ekele.

Di wilayah tropis dan subtropis, lanjut Ekele, wilayah ini juga menghadapi tekanan yang tumpang tindih seperti kekeringan, hama, dan degradasi tanah, dan merupakan rumah bagi jutaan orang yang bergantung langsung pada pertanian untuk mendapatkan pangan dan pendapatan.
Ekele berharap penelitian ini menginspirasi lebih banyak penelitian dan kolaborasi lintas disiplin.
Ia mengatakan bahwa pangan lebih dari sekadar sumber kalori, pangan merupakan fondasi bagi pembangunan manusia dan adaptasi iklim.
Menghubungkan ilmu tanaman dengan isu-isu kesejahteraan manusia yang lebih luas sangatlah penting, terutama seiring perubahan iklim dan negara-negara berupaya membangun sistem pangan yang tidak hanya mendukung produktivitas, tetapi juga kesehatan, kesetaraan, dan ketahanan. (rus)
