KABARIKA.ID, MAKASSAR – Anggota DPR RI Fraksi PKS, Ismail Bahtiar, menyampaikan catatan kritisnya tentang potensi besar namun belum tergarap secara optimal dari 270.000 lebih alumni Universitas Hasanuddin (UNHAS).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam Dialog Tahunan yang digelar Direktorat Hubungan Alumni Universitas Hasanuddin (UNHAS), yang mengusung tema “Membangun Sinergi Alumni dan Mahasiswa Menunjukkan Networking yang Solid dan Berdampak” di Gedung Pertemuan Alumni UNHAS, Jumat (17/10/2025), Ismail hadir secara virtual.
Menurutnya jumlah alumni yang masif, seharusnya kursi-kursi parlemen bisa didominasi oleh alumni-alumni Unhas. “Kalau seandainya memang itu terorganisir dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan kursi-kursi parlemen justru kebanyakan akan diisi oleh kita. Tapi sayangnya, hal itu tidak terjadi,” ujar politisi asal Sulsel ini.
Dalam pemaparannya, Ismail yang menjadi pembicara kedua serta menyebut dirinya bagian atau murid dari pembicara pertama Pro Aminuddin Syam, mengangkat dua sosok yang ia sebut sebagai simbol kebanggaan dan teladan bagi seluruh alumni UNHAS, yaitu HM Jusuf Kalla dan Andi Amran Sulaiman.
“Ada dua simbol yang kemudian hari ini menjadi panutan, menjadi teladan, menjadi contoh dan menjadi kebanggaan kita sebagai IKA (Ikatan Keluarga Alumni), yaitu Pak JK pernah menjabat Wakil Presiden dua kali, dan Andi Amran Sulaiman yang sudha dua kali juga menjadi Menteri Pertanian. Dua sosok ini, harus menjadi inspirasi dan pembuktian bahwa alumni Unhas mampu berkontribusi di level tertinggi bangsa,ebut Ismail.
Karenanya, ia pun mendorong agar semangat kontribusi kedua tokoh ini menular kepada generasi alumni muda, termasuk dirinya sendiri, untuk lebih aktif berkontribusi di ruang publik.
Ismail juga mengingatkan bahwa tidak semua kontribusi alumni terlihat secara kasat mata. Banyak alumni, menurut pengalamannya berkeliling di daerah pemilihannya (dapil), yang justru menjadi “silent contributor” dengan dampak nyata di masyarakat.
“Jangan-jangan ada di antara kita yang kemudian tidak terlihat berinvestasi, tapi ternyata hari ini justru hadir di tengah-tengah masyarakat memberikan kontribusi yang nyata,” katanya.
Ia mencontohkan, apresiasi terhadap alumni seringkali baru muncul ketika seseorang sudah terkenal, seperti fenomena Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Padahal, di lapangan, banyak potensi alumni UNHAS yang belum “terperlihatkan” atau terdokumentasi dengan baik.
Salah satu poin kunci yang disampaikan Ismail adalah perlunya reformasi total dalam hubungan antara alumni dan mahasiswa. Menurutnya, sinergi ini adalah hal yang krusial dan fundamental untuk diperbaiki.
“Hubungan antara alumni dan mahasiswa ini memang menjadi salah satu hal yang sangat krusial fundamental yang harus kita reformasi dan harus kita ubah, yang harus kita tata ulang,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar tidak ada rasa gengsi untuk mencontoh praktik baik dari universitas lain, seperti UI, yang dinilainya telah berhasil mengakomodir anak-anak muda dan alumni secara lebih integratif.
“Jangan kemudian kita malu mencontoh UI misalnya. Kalau kita lihat ini sebagai hal yang baik, menurut saya tidak ada salahnya,” ujarnya.
Ismail berharap dialog ini bisa menjadi awal untuk membangun tata kelola alumni yang lebih solid, di mana setiap potensi dapat terakomodir dengan baik, sehingga kekuatan 270.000 alumni Unhas tidak lagi menjadi sekadar angka, tetapi kekuatan nyata yang mendorong kemajuan bangsa. (*)
