Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)

Empat piring tersusun rapi di atas meja makan. Nasi masih mengepul, lauk kesukaan sudah dihidangkan, dan sebuah kursi dibiarkan kosong seolah pemiliknya hanya terlambat beberapa menit. Detail sesederhana inilah yang, menjadi salah satu momen paling membekas dari Laut Bercerita. Saya ikut merasakannya.

Di dalam gedung bioskop yang gelap, ritual kecil sebuah keluarga itu terasa lebih nyaring daripada teriakan demonstrasi mana pun. Ia adalah bahasa paling jujur dari kehilangan: menolak percaya, sambil diam diam tahu.

Film arahan Yosep Anggi Noen ini membawa kita ke Yogyakarta pada akhir 1990an, masa ketika membaca buku tertentu bisa berujung pada jeruji besi. Biru Laut, diperankan Reza Rahadian dengan kematangan yang tenang, adalah mahasiswa yang jatuh cinta pada kata dan gagasan.

Bersama Daniel, Alex, Sunu, dan para sahabatnya di kelompok studi Winatra, ia berdiskusi, menulis, dan bermimpi tentang negeri yang lebih adil. Lalu suatu malam, ia dan beberapa kawannya lenyap begitu saja. Tidak ada kabar, tidak ada makam, tidak ada penjelasan. Yang tersisa hanyalah keluarga yang harus belajar hidup bersama sebuah tanda tanya.

Yang membuat film ini istimewa adalah keberaniannya untuk tidak sekadar menjadi film tentang pergerakan. Ia adalah film tentang orang orang yang ditinggalkan. Christine Hakim sebagai Ibu dan Arswendy Bening Swara sebagai Bapak menghadirkan duka yang tidak meledak, melainkan merembes pelan seperti air yang menetes dari langit langit rumah tua.

Christine Hakim, aktris yang sudah puluhan tahun menjadi kebanggaan perfilman kita, tampil dengan kesederhanaan yang menghancurkan hati. Ia tidak perlu menangis meraung. Cukup tatapan kosong ke arah pintu, cukup tangan yang tetap menata piring untuk anak yang tak kunjung datang, dan penonton sudah dibuat luruh.

Namun jantung emosional film ini, menurut saya, berdetak paling kencang pada sosok Asmara Jati, adik Laut yang diperankan Yunita Siregar. Ia adalah wajah generasi yang menolak menyerah pada lupa. Ketika kedua orang tuanya memilih bertahan dalam penantian yang membeku, Asmara memilih bergerak, mencari, dan menuntut kejelasan.

Di tangan Yunita, kemarahan dan kerinduan menyatu dalam satu tubuh yang lelah namun tak mau tumbang. Ia membuat kita paham bahwa mengingat adalah sebuah perlawanan, dan bahwa cinta kepada yang hilang bisa berubah menjadi tenaga untuk memperjuangkan keadilan.

Reza Rahadian sendiri bukan orang baru bagi tokoh ini. Ia pernah menghidupkan Biru Laut dalam film pendek tahun 2017 garapan Pritagita Arianegara, sebuah karya yang oleh The Jakarta Post dipuji karena berhasil memadatkan novel hampir empat ratus halaman menjadi tontonan kurang dari tiga puluh menit yang menahan diri namun kuat.

Hampir satu dekade kemudian, Reza kembali dengan pemahaman yang lebih dalam. Biru Laut versinya kali ini tidak tampil sebagai pahlawan yang gagah, melainkan sebagai pemuda biasa yang memilih untuk tidak diam. Justru kebiasaan itulah yang membuatnya begitu dekat. Ia bisa jadi kakak kita, sahabat kita, atau diri kita sendiri di usia dua puluhan.

Dian Sastrowardoyo sebagai Kinan dan Eva Celia sebagai Anjani melengkapi lingkaran persahabatan dan cinta yang menjadi denyut film ini. Kehadiran mereka mengingatkan bahwa di balik setiap gerakan besar, selalu ada perempuan yang berdiri di garis depan, mencatat, merawat, dan menanggung luka yang jarang dituliskan dalam buku sejarah. Interaksi para pemain terasa alami, seperti sekumpulan kawan lama yang benar benar saling menyayangi, sehingga ketika satu per satu dari mereka direnggut, kehilangan itu terasa pribadi bagi penonton.

Dari sisi penggarapan, Anggi Noen tampak memahami betul bahwa kisah ini tidak membutuhkan hiasan berlebihan. Tata artistik yang setia pada suasana 1990an, dari kamar kos sempit hingga lembaran stensilan yang beredar diam diam, membuat kita seolah menyusuri lorong waktu.

Kamera kerap memilih jarak yang sabar, memberi ruang bagi keheningan untuk berbicara. Laut, sebagai lambang sekaligus tempat persemayaman terakhir yang tak pernah pasti, hadir bukan sebagai pemandangan indah, melainkan sebagai ruang sunyi yang menyimpan rahasia sebuah bangsa.

Tentu, film berdurasi 135 menit ini bukan tanpa celah. Seperti diakui Leila S. Chudori sendiri dalam pemberitaan ANTARA, tidak semua bagian novel bisa masuk ke layar karena keterbatasan waktu. Pembaca setia novelnya mungkin akan merindukan beberapa lapisan batin para tokoh pendukung yang di buku terasa lebih utuh.

Ada kalanya peralihan dari masa lalu ke masa kini bergerak sedikit tergesa, sehingga beberapa tokoh terasa hanya lewat. Tetapi kekurangan itu terasa kecil dibandingkan keberhasilan film ini menjaga ruh ceritanya: kejujuran dalam memandang luka, dan kelembutan dalam memperlakukan mereka yang terluka.

Patut dicatat pula bahwa Laut Bercerita sudah lebih dulu menggetarkan penonton mancanegara. Saat tayang perdana dalam kompetisi utama Busan International Film Festival, MomsMoney melaporkan bahwa hampir seluruh penonton memberikan tepuk tangan sebagai penghormatan. Ini membuktikan satu hal penting: duka sebuah keluarga yang menunggu anaknya pulang adalah bahasa yang dipahami siapa saja, di negeri mana pun. Kisah kita, ternyata, juga kisah dunia.

Pemilihan waktu tayang yang berdekatan dengan peringatan Sumpah Pemuda juga terasa bermakna. Film ini seperti surat yang dikirim dari masa lalu kepada kaum muda hari ini. Isinya bukan ajakan untuk meratap, melainkan untuk berani berpikir, berani bertanya, dan berani merawat ingatan. Biru Laut dan para sahabatnya mungkin tidak pernah kembali, tetapi gagasan mereka terus hidup selama masih ada yang mau menceritakannya.

Ketika lampu bioskop menyala dan nama nama di layar mulai bergulir, saya tidak langsung beranjak. Begitu pula banyak penonton di sekitar saya. Kami duduk dalam diam, seolah memberi waktu bagi Laut untuk menyelesaikan ceritanya.

Laut Bercerita adalah film yang tidak selesai di layar. Ia mengikuti kita pulang, duduk di meja makan kita, dan diam diam bertanya: sudahkah kita cukup mengingat? Inilah karya yang wajib ditonton, bukan hanya karena ia indah dan menyentuh, tetapi karena ia mengingatkan kita bahwa setiap kursi kosong layak untuk terus dinanti, dan setiap nama yang hilang layak untuk terus disebut.