Oleh: Suharman Usman, SS,SE,MM. | Budaya dan Kepemimpinan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
KABARIKA.ID–Jika tulisan saya sebelumnya menyebut Ade’ sebagai SOP ala Bugis, maka kepemimpinan Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian adalah studi kasus terbaik bagaimana Ade’ itu dihidupkan kembali. Amran bukan sekadar Menteri berkinerja tertinggi dengan skor 91 di Kabinet Merah Putih. Ia adalah orang Bugis asli, anak petani dari Bugis, yang tanpa sadar menjalankan pemerintahan dengan operating system Pangadereng.
Presiden Prabowo memberi target swasembada 4 tahun. Andi Amran menyelesaikannya dalam 1 tahun. Produksi beras 2025 tembus 34,69 juta ton (naik 13,29%), stok Bulog 5,3 juta ton tertinggi sepanjang sejarah, NTP petani 131,11 tertinggi dalam 34 tahun, dan impor beras konsumsi dihentikan. Ini bukan keajaiban statistik. Ini adalah buah dari Ade’.Mari kita bedah dengan kacamata Pangadereng.
Ade’ Puraonro yang Dilawan, Ade’ Assamaturukeng yang Dihidupkan
Dalam Lontara, ada dua jenis Ade’. Ade’ Puraonro adalah aturan baku yang kaku dari atas. Ade’ Assamaturukeng adalah aturan yang lahir dari kesepakatan bawah melalui Tudang Sipulung.
Apa yang dilakukan Amran di 100 hari pertama? Ia menghapus 145 regulasi pupuk yang tidak Sitinaja (Asitinajang). Aturan Puraonro yang membuat pupuk harus lewat 12 meja, dari pabrik ke distributor, ke pengecer, ke kelompok tani, yang justru membuat petani menunggu 3 bulan belaiu lantas pangkas. Pupuk langsung dari pabrik ke petani. Harga diturunkan 20%, volume dinaikkan jadi 9,55 juta ton.
Dalam bahasa Bugis, ini disebut “Sitinja” (Asitinajang) yakni aturan harus layak, proporsional, tidak memutus Ade’ temmakkuttue (adat tidak boleh memutus rezeki orang). Andi Amran memutus rantai birokrasi, bukan rantai rezeki petani.
Tudang Sipulung Versi Sawah
Pangadereng tidak mengenal rapat di hotel bintang lima. Pangadereng mengenal Tudang Sipulung, duduk bersama di tempat kejadian. Andi Amran tidak memimpin dari kantor di Jakarta. Ia memimpin dari sawah. Pompanisasi saat kekeringan, optimasi lahan rawa, membagi alsintan. Semua diputuskan setelah duduk dengan penyuluh dan petani.
Itulah mengapa HPP gabah bisa naik jadi Rp6.500/kg. Karena ia mendengar langsung jeritan petani, bukan laporan di atas kertas. Inilah “Deceng” kepatutan. Aturan harus patut secara rasa, bukan hanya benar secara angka.
Siri’, Getteng, Lempu dan Warani: OS Orang Bugis
Kesuksesan Andi Amran tidak bisa dijelaskan dengan KPI modern saja. Ia harus dijelaskan dengan 4 pilar Bugis ( Getteng, Lempu, Acca Na Warani nasaba Siri).
Getteng (Ketegasan dan Konsistensi)
Target 4 tahun dipangkas jadi 1 tahun. Saat ada perusahaan yang bermain harga gabah dan pupuk, ia tindak tegas. Tidak ada negosiasi. Inilah “Getteng” satunya kata dengan perbuatan.
Lempu (Integritas, Kejujuran & Transparansi)
Kementan meraih kembali opini WTP dari WDP. Di era Andi Amran, audit keuangan dibenahi, impor dipangkas Rp41 triliun, ekspor Rp166 triliun. Nilai tambah Rp200 triliun untuk negara. Lempu berarti lurus, tidak bengkok. Uang petani tidak boleh bocor.
Acca (Kecerdasan & Penguasaan Ilmu)
Jangan lupa, Andi Amran adalah akademisi Unhas dengan 5 paten hama, pengusaha, dan anak petani. Ia bukan pejabat karbitan. Ia paham benih, tanah, dan pasar. Inilah Acca. Pangadereng berkata: pemimpin harus macca (pintar), bukan hanya warani (berani).
Warani & Siri’ (Keberanian dan Rasa Malu)
Orang Bugis paling takut Pura Manre Siri’ (kehilangan rasa malu). Bagi Andi Amran, malu jika Indonesia yang punya 11,32 juta hektar sawah masih impor beras. Maka ia kejar swasembada 8 komoditas sekaligus yakni beras, jagung, gula konsumsi, ayam, telur, bawang merah, cabai besar dan cabai rawit. Siri’-nya sebagai orang Bugis dipertaruhkan di sawah.
Sebagai Penutup, Pangadereng Tidak Mati, Ia Hanya Berganti Seragam.
Banyak yang bertanya, mengapa di tengah krisis pangan global di mana Malaysia dan Filipina kekurangan beras, Indonesia justru surplus? Jawabannya sederhana: karena di Kementan, SOP yang dipakai bukan hanya ISO 9001, tapi Ade’ Puraonro dan Assimaturukeng.
Andi Amran Sulaiman membuktikan bahwa menjadi orang Bugis asli bukanlah beban identitas, tapi modal kepemimpinan. Ia tidak meninggalkan Pangadereng untuk menjadi menteri modern. Ia justru membawa Pangadereng ke dalam kabinet modern.Seperti pesan La Tiringeng, “Ade’ e mi atinroang, bicara e mi atiroi” Jadikan Ade’ sebagai tempat bernaung, jadikan kejujuran sebagai tempat melihat. Andi Amran bernaung pada Ade’ itu. Maka hasilnya, swasembada yang ditargetkan 4 tahun, datang dalam 1 tahun.
Dan menjadi salah satu tugas kita selanjutnya adalah menuliskan ini sebagai kurikulum, bahwa sekolah kepemimpinan terbaik orang Sulsel bukan hanya di Harvard, tapi di Lontara Bugis Makassar. (*)
