Oleh: Muliadi Saleh Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada semangat besar yang sedang dibangun melalui agenda hilirisasi pertanian. Hasil panen tidak lagi cukup dijual sebagai komoditas mentah. Ia harus diolah menjadi produk bernilai tambah, memiliki daya saing, membuka lapangan kerja, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Dari gabah menjadi beras berkualitas, singkong menjadi tepung, kakao menjadi produk olahan, hingga buah-buahan menjadi aneka pangan industri. Gagasan ini menjanjikan masa depan pertanian yang lebih produktif.
Lalu, quo vadis huluisasi? Hendak ke mana pembenahan sektor hulu pertanian kita?
Hilirisasi bukan barang baru dalam perjalanan pembangunan pertanian Indonesia. Pengolahan hasil panen telah berlangsung lama, termasuk dalam industri perberasan. Industri tidak mungkin tumbuh berkelanjutan tanpa pasokan bahan baku yang cukup, berkualitas, berkesinambungan, dan terjangkau. Mesin pengolahan boleh semakin modern, gudang boleh semakin besar, dan kemasan boleh semakin menarik, tetapi semuanya kehilangan makna ketika bahan baku tidak tersedia secara pasti. Sejatinya, hilirisasi membutuhkan huluisasi. Hilir adalah tempat nilai tambah diciptakan, tetapi hulu adalah tempat kehidupan ekonomi itu pertama kali disemai.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026 mencatat produksi padi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), dengan produksi beras sekitar 34,69 juta ton. Angka tersebut meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024. Capaian ini menggembirakan dan menunjukkan kapasitas produksi nasional yang besar. Namun, angka produksi agregat tidak boleh mengabaikan persoalan struktural berupa pemerataan produktivitas, kesinambungan pasokan, kualitas hasil panen, kehilangan pascapanen, dan kesejahteraan petani.
Kita berharap industri pengolahan berkembang. Petani sebagai pemasok bahan baku juga memiliki kekuatan ekonomi yang memadai. Kita berharap produksi terus dengan peningkatan pelayanan dan perbaikan infrastruktur. Persoalan pupuk, benih, irigasi, biaya produksi, perubahan iklim, dan ketidakpastian harga tidak berhenti dibenahi. Di beberapa kejadian, ketika panen raya tiba, harga di tingkat petani dapat menghadapi tekanan akibat ketidakseimbangan pasokan, penyimpanan, dan penyerapan. Saat produksi menurun, industri pengolahan harus berhadapan dengan kelangkaan bahan baku dan kenaikan biaya. Rantai persoalan ini menunjukkan bahwa masalah pertanian bukan semata persoalan produksi, melainkan persoalan tata kelola ekosistem dari hulu hingga hilir. Termasuk distribusi dan tata niaga. Belum lagi persoalan mafia pangan yang belum berhenti.
Huluisasi karena itu harus menjadi agenda penting
pembangunan yang bukan sekadar pelengkap retorika hilirisasi. Pembenahan bisa dimulai dari berbagai aspek persoalan pertanian kita. Kepastian akses lahan, konsolidasi usaha tani, rehabilitasi irigasi, ketersediaan benih unggul, ketersediaan dan distribusi pupuk, panen dan penanganan pasca panen hingga distribusi dan pemasaran.
Penyuluhan pertanian harus berubah menjadi pendampingan produktif yang membantu petani menguasai teknologi, membaca pasar, mengelola usaha, dan meningkatkan efisiensi. Selain peningkatan produksi dan produktivitas petani yang terus didorong, mereka juga harus memiliki kapasitas mengelola sumber daya, dan kepastian ekonomi.
Dalam konteks perberasan, pembenahan hulu harus terhubung dengan transformasi penggilingan padi rakyat. Penggilingan kecil perlu difasilitasi agar mampu naik kelas melalui modernisasi mesin, peningkatan mutu, akses pembiayaan, dan kemitraan pemasaran. Hasil samping seperti dedak, sekam, dan menir juga harus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui industri pakan, energi biomassa, dan pangan olahan. Dengan demikian, ekonomi pertanian tidak hanya tumbuh pada satu mata rantai, tetapi menyebar kepada petani, penggilingan, pelaku UMKM, koperasi, dan tenaga kerja perdesaan.
Persoalan lain yang membutuhkan perhatian adalah reformasi data dan kelembagaan pangan. Pemerintah membutuhkan data yang akurat dan terintegrasi mengenai luas lahan, kalender tanam, produktivitas, kebutuhan sarana produksi, potensi panen, serta kebutuhan industri. Data tersebut harus menjadi dasar penentuan kebijakan harga, penyerapan gabah, pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah, dan perencanaan investasi pengolahan. Kemitraan antara industri dan petani juga harus dibangun secara transparan melalui kontrak pembelian yang adil, kepastian harga, standar mutu yang jelas, dan pembagian manfaat ekonomi yang seimbang.
Kita tidak berharap petani hanya menjadi pemasok bahan mentah, sementara keuntungan terbesar justru terkumpul pada mata rantai pengolahan dan perdagangan.
Huluisasi juga menyangkut masa depan regenerasi petani. Tidak mungkin membangun pertanian modern jika generasi muda terus memandang sawah sebagai ruang kerja yang melelahkan, berisiko, dan kurang menjanjikan. Pertanian harus menjadi ruang kewirausahaan yang menarik melalui mekanisasi, teknologi digital, inovasi benih, pertanian presisi, dan pengembangan bisnis pangan. Anak muda perlu memperoleh akses terhadap lahan, modal, pengetahuan, inkubasi usaha, serta kepastian pasar. Masa depan pangan tidak cukup diwariskan sebagai pekerjaan orang tua kepada anak-anaknya, tetapi harus dibangun sebagai profesi modern yang menawarkan martabat dan kesejahteraan.
Pada akhirnya, hilirisasi dan huluisasi tidak boleh dipertentangkan. Keduanya adalah dua sisi dari satu perjalanan pembangunan pertanian. Hilirisasi menciptakan nilai tambah, sedangkan huluisasi memastikan nilai tambah itu memiliki akar yang kuat, pasokan yang berkelanjutan, dan manfaat yang adil. Pemerintah tidak cukup menghitung berapa banyak pabrik dibangun dan berapa besar investasi ditanamkan. Lebih penting dari itu adalah memastikan berapa banyak petani yang meningkat pendapatannya, berapa banyak tenaga kerja terserap, berapa banyak usaha pengolahan rakyat yang tumbuh, dan seberapa kuat ketahanan pangan dibangun.
Hilirisasi boleh menjadi jalan menuju kemajuan, tetapi huluisasi adalah jalan menjaga kehidupan. Sebab, bangsa yang ingin menikmati buah kesejahteraan tidak boleh lupa merawat akar tempat kehidupan tumbuh dan bersemi.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.
